Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Agama Yang Membudaya

Rabu, 27 Januari 2021

Penulis Gunadi Prabuki, S.Pd

Pertanyaan “apakah budaya atau agama” (tentang apapun). Adalah pola pertanyaan yang sebenarnya sedang menggiring orang untuk berpikir bahwa agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda, yang terpisah, dan tidak saling terkait satu sama lain.

Pertanyaan “apakah hara raya Imlek budaya atau agama” jelas menggiring orang untuk berpikir bahwa jika Imlek budaya berarti Imlek bukan ajaran agama, dan jika Imlek adalah ajaran agama berarti Imlek bukanlah budaya. Ada juga pernyataan (bukan pertanyaan) dengan pola yang hampir mirip. “Imlek bukan sekedar perayaan dari agama tertentu, tapi Imlek adalah budaya orang Tionghoa.” Pertanyaan ini jelas mau menggiring orang untuk berpikir bahwa budaya lebih tinggi dari agama, sehingga selanjutnya orang berpikir bahwa Khonghucu mengadopsi Imlek yang budaya menjadi Imlek yang agama.

Pernyataan lain yang serupa adalah: “Imlek bukan sekedar budaya orang Tionghoa, tapi memiliki makna dan nilai-nilai agamis.” Pernyataan ini (meskipun) terasa lebih tepat karena memposisikan agama di atas budaya, namun juga masih bernuansa ‘dikotomi’ antara agama dan budaya. Sebagai ilustrasi saya akan sampaikan kaitan antara budaya dan agama. Salah satu budaya yang sangat kental dalam masyarakat Tionghoa adalah perihal cara memanggil. Hal ini untuk menunjukkan dengan jelas “siapa punya hubungan apa dengan siapa”.

Ketika mendengar seseorang memanggil A’ih pada seorang wanita paruh baya, kita menjadi tahu bahwa mereka punya hubungan persaudaraan yang dekat, karena A’ih menegaskan dan menjelaskan sebagai kakak/cici dari ibu atau orang yang dianggap kakak/cici oleh ibu. Begitupun panggilan yang lain pada seseorang akan menunjukkan seberapa dekat hubungan mereka. Encek berarti adik laki-laki ayah, Empe berarti kakak/koko ayah. O,oh berarti adik perempuan ayah, Akoh berarti kakak/cici dari ayah. Engku berarti adik laki-laki dari mama dan A’kuh berarti kakak/koko dari mama. Orang tidak perlu lagi bertanya-tanya apa hubungan kita dengan orang yang kita sebut A’ih, karena orang Tionghoa sudah jelas akan hal ini. Sekali lagi, bahwa semua itu untuk menunjukkan “dekat jauhnya hubungan”.

Budaya tentang cara memanggil itu bersumber dari satu ajaran tentang kesusilaan. Dalam kitab catatan kesusilaan tersurat: “Adapun Kesusilaan (Li) itu akan menetapkan dekat jauhnya hubungan; untuk menempatkan apa hal-hal yang harus dicurigai/diragukan; untuk membedakan mana hal-hal yang sama dan yang berbeda; dan untuk mencerahkan mana hal yang benar dan mana yang salah.” Ini menunjukkan bahwa budaya yang berkembang pasti bersumber dari sebuah ajaran (agama). Budaya menghormat dengan merangkapkan tangan (bai/soja), begitu mengakar kuat pada masyarakat Tionghoa, (bahkan dua orang yang akan bertarung hidup dan mati lebih dahulu menghormat dengan Bai. red).

Dahulu kitab catatan kesusilaan banyak membahas tentang cara aturan menghormat dengan Bai.  Dalam Liji I B. 11.22 & 23 tersurat 11. 22. Bila seorang pembesar atau pejabat biasa saling bertemu biarpun tidak sama tinggi rendah peringkatnya, bila tuan rumah menghormati sang tamu, ia harus lebih dahulu menghormat dengan bai kepada tamunya; sebaliknya bila tamu itu menghormati tuan rumah ia harus lebih dahulu menghormat dengan bai kepada tamunya; sebaliknya bila tamu itu menghormati tuan rumah ia harus lebih dahulu menghormat dengan bai kepada tuan rumah. 23. Di dalam segala persoalan bila bukan dalam acara berbela sungkawa dan bukan menemui penguasa negara, tidak ada yang tidak saling membalas menghormat dengan bai. bila seorang pembesar menjumpai seorang penguasa negara, penguasa itu wajib menghormat dengan bai sebagai pernyataan penghargaan (atas segala hal yang dibawa utusan). Bila seorang pejabat biasa menjumpai seorang pembesar (negeri yang kunjungi), sang pembesar menghormat dengan bai sebagai penghargaan. Bila keduanya bertemu pertama kali di negeri sendiri (ketika pulang tugas utusan), yang menjadi tuan rumah wajib menghormat dengan bai sebagai penghargaan. Seorang penguasa kepada pejabat biasa tidak membalas hormat dengan bai; tetapi bila orang itu bukan menteri/pembantu sendiri, ia wajib membalas hormat dengan bai. Seorang pembesar kepada para menteri/pembantunya biar mereka berkedudukan rendah wajib membalas menghormati dengan bai. Antara laki-laki dan perempuan saling membalas hormat dengan bai.

Banyak lagi hal budaya dalam masyarakat Tionghoa yang tentu bersumber dari sebuah agama. Christopher Dowson: Great Religon are Building a Foundation Great Civilization (Agama-Agama Besar adalah Bangunan  Dasar bagi Peradaban-Peradaban Besar). Dengan kata lain, agama besar melahirkan budaya besar.

Pertanyaan selanjutnya adalah: “Ajaran/agama apa sebagai sumbernya?”

Jika itu semua termuat dalam kitab Li Ji maka menjadi jelas bahwa sumbernya adalah ajaran Ru yang tidak lain adalah Khonghucu.

Sejak hari raya Imlek diresmikan sebagai hari libur nasional, berita tentang makna dan sejarah Tahun Baru Imlek serasa bertebaran dimana-mana. Medsos (Media sosial) menjadi wahana untuk mengungkapkan rasa yang selama terpendam sangat dalam di lubuk hati orang Tionghoa. Sebutan Imlek menjadi begitu akrab di telinga semua orang. Menyebut Imlek dan mengucapkan ‘Gong Xi Fa Cai’ menjadi terasa ringan dibibir banyak orang. Kegembiraan terpancar pada wajah-wajah orang Tionghoa (taka da lag beban seperti dulu-dulu). Kemeriahan merayakan Tahun Baru Imlek nampak disetiap sudut dimana komitmen Tionghoa berkumpul. Fenomena ini adalah satu sisi dari dampak positif. Namun di sisi lain, ada sedikit kekhawatiran tentang pergeseran makna dan sejarah Imlek.

Berita tentang makna dan sejarah Imlek yang bertebaran, sebagian lurus tulus tanpa kepentingan. Sebagian tak banyak mengerti sejatinya Imlek. Sebagian lagi ingin memisahkan antara Budaya dan ajaran. Apapun kenyataan, bagi umat Khonghucu Tahun Baru Imlek bukan sekedar eforia belaka. Bukan sekedar kegembiraan tanpa makna. Tahun Baru adalah momentum “memperbaharui diri.”

Pada tempayan Raja Thong terukir kalimat, “Bila suatu hari dapat membaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya!” (Da Xue. II : 1) Di dalam Khong koo tertulis, “Jadilah rakyat yang baharu.” (Su King V.9.2).

Tentang tradisi dan budaya yang berkembang, adalah bukti betapa kuat sumber ajaran yang mendasarinya. “Agama besar adalah bangunan dari budaya besar.”


Sumber : Buku Kenangan Perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek Nasional 2568 Kongzili, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, 04 Februari 2017.


Berbagi Kasih Tahun Baru Imlek di Masa Pandemi Wabah covid-19

Rabu, 13 Januari 2021

Penulis Tan Sudemi

Latar Belakang

Beberapa hari lagi Umat Ru Jiao (Agama Khonghucu) akan memasuki hari suci Tahun Baru Imlek, dan sudah menjadi tradisi bagi setiap umat Ru Jiao untuk memberikan bantuan atau sumbangan yang disampaikan ke Lithang atau Kelenteng, tempat ibadah Agama Ru (Agama Khonghucu). Menjadi kewajiban bagi setiap umat Ru untuk memberikan bantuan atau sumbangan berapa pun besarnya, tidak perlu menunggu kaya baru akan menyumbang atau menunggu kenaikan gaji,  bahkan menunggu bisnis maju baru mau menyumbang. Bantuan atau sumbangan sangat berharga bagi masyarakat yang membutuhkan uluran bantuan di tengah bangsa Indonesia mengalami masa pandemi wabah covid-19.  Dalam masalah Pandemi wabah covid-19, banyak di antara mereka mengalami kesulitan ekononi akibat kehilangan pekerjaan karena perusahaan atau tempat usaha yang  mempekerjakannya sudah tidak sanggup untuk membayar gaji, belum lagi mereka yang membuka usaha harus berhenti dan menutup usahanya.

Dalam tradisi Agama Khonghucu semangat solidaritas sosial tercermin dalam dua hari besar keagamaan yakni Tahun Baru Imlek atau Hari Persaudaraan dan Hari Jing He Phing atau Persembahyangan untuk arwah umum.

Di hari suci diharapkan umat Khonghucu yang mampu untuk menyantuni bantuan baik berupa materi maupun non materi kepada mereka yang membutuhkan bantuan.

Raja Suci Wen ketika menjalankan pemerintahan, Beliau mengutamakan cinta kasih terhadap empat golongan yakni

1.       Orang tua  yang tidak beristri atau duda

2.       Orang tua  yang tidak bersuami atau janda

3.       Orang tua  yang tidak mempunyai anak atau sebatang kara

4.       Anak  yang tidak memiliki ayah atau yatim

Mengapa Raja Suci Wen mengutamakan empat golongan di atas? Karena keempat golongan inilah orang-orang yang paling sengsara dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan dari sesamanya. Di dalam Shi Jing tertulis, “Masih bahagia orang yang kaya, namun sungguh menyedihkan nasib orang yang sebatang kara.” (Mengzi IB,5:3) 

Tianzi menggelar kebajikannya dan mengamalkan kemurahan hati. Diperintahkan kepada para petugas untuk membagikan apa-apa yang tersimpan  di dalam gudang dan ruang bawah tanah untuk dianugerahkan kepada orang-orang miskin dan yang tidak punya kerabat untuk menutup kebutuhan dan  kemiskinan….… ( Li Ji IV A Yue Ling III 3:9)

Berdasarkan kitab suci agama Ru (Agama Khonghucu) mereka  dikategorikan yang berhak menerima bantuan.

1.       Orang tua yang tidak beristri atau duda

2.       Orang tua  yang tidak bersuami atau janda

3.       Orang tua  yang tidak mempunyai anak atau sebatang kara

4.       Anak  yang tidak memiliki ayah atau yatim

5.       Kaum fakir miskin

6.       Mereka yang kesulitan ekonomi atau sulit memenuhi kebutuhan hidup

Di dalam Kitab Suci Lun Yu dikatakan:

Zi Zhang bertanya kepada Nabi Kongzi tentang Cinta Kasih. Nabi Kongzi menjawab, “Kalau orang dimanapun dapat melaksanakan lima pedoman itu, dialah dapat dinamai berperi Cinta Kasih.” 


“Mohon bertanya lebih lanjut”. Yaitu kalau orang dapat berlaku: Hormat (恭 Gong), Lapang Hati (寬 Kuan), Dapat dipercaya (信 Xin), Cekatan (敏 min), dan bermurah hati 惠 hui). Orang yang berlaku hormat, niscaya tidak terhina, orang yang lapang hati, niscaya mendapat simpati umum, yang dapat dipercaya, niscaya mendapat kepercayaan orang, yang cekatan, niscaya berhasil pekerjaannya dan yang bermurah hati, niscaya diturut perintahnya. (Lun Yu XVII : 6)

Nabi bersabda tentang Zi Chan, “Ia telah dapat melaksanakan empat syarat Jalan Suci seorang Jun Zi. Di dalam perbuatannya sehari-hari ia selalu bersikat hormat, di dalam mengabdi kepada atasannya selalu dengan sikap sungguh-sungguh, di dalam memelihara kesejahteraan rakyat ia selalu bermurah hati dan di dalam memerintah rakyat selalu berdasar kebenaran.” (Lun Yu V : 16).

        Makna dari Murah Hati merupakan bagian dari kebaikan dari manusia kepada manusia atau berhati manusiawi yang merupakan Jen (Cinta Kasih).

        Dalam tradisi agama Khonghucu, Tian juga memberikan nilai-nilai kebaikan kepada segenap makhluk ciptaan-Nya termasuk umat manusia, seperti hangatnya matahari yang dipancarkan tanpa memandang SARA (suku, agama, ras atau antar golongan) dan limpahan air hujan untuk kemakmuran manusia tanpa memandang kaya atau miskin. Sebagai manusia beriman, umat Khonghucu wajib untuk sujud bersembahyang kepada Tian sebagai wujud syukur atas besarnya Kebaikan Tian, selain itu agama Khonghucu juga memberikan bimbingan bagi umat manusia untuk hidup di dunia senantiasa berada dalam Jalan Suci Tian. Salah satu pokok kewajiban besar agama Khonghucu adalah memberi. Pada umumnya manusia senantiasa ingin menguasai kehidupan materi atau kekayaan tanpa memahami nilai keharmonisan dan tujuan mulia yakni Kebajikan.


Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung. (Da Xue X : 7)

Bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut. (Da Xue X : 8)


        Berdasarkan ayat di atas maka umat Khonghucu senantiasa mengutamakan Kebajikan sebagai yang Pokok atau Utama. Dengan demikian keimanan agama Khonghucu mewajibakan umatnya untuk senantiasa mengutamakan yang Pokok bukan mengutamakan kekayaan karena akhirnya akan mendatangkan konflik sosial. Kekayaan yang dimiliki tidak boleh untuk ditimbun melainkan untuk dibagikan kepada kalangan yang berhak untuk menerimanya sebagai tanggungjawab sosial dan kepekaan terhadap umat atau masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

Mengurus harta pun ada jalannya yang besar, bila penghasilan lebih besar daripada pemakaian dan bekerja setangkas mungkin sambil berhemat, niscaya harta benda akan terpelihara. Seorang yang penuh cinta kasih menggunakan harta untuk mengembangkan diri. Seorang yang tidak berperilaku cinta kasih, mengabdikan dirinya untuk menumpuk harta. (Da Xue Bab Utama 19-20)

Nabi Kongzi bersabda, “tatkala Chi ke Negeri Qi, kendaraannya dihela kuda-kuda yang tambun, ia mengenakan pakaian bulu yang ringan dan indah. Apa yang telah kudengar, seorang Junzi menolong kepada yang membutuhkan dan tidak menumpuk harta bagi yang telah kaya. (Lun Yu VI : 4)
Menurut Mengzi, antara manusia dan hewan terdapat perbedaan yang menyolok, meski sangat kecil namun perbedaan antara manusia dan hewan memiliki tanggungjawab yang berbeda karena manusia juga memiliki sifat-sifat kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Mengzi berkata, “Perbedaan antara manusia dengan burung dan hewan itu sesungguhnya tidak seberapa. Perbedaan yang sedikit itu oleh kebanyakan orang sering diabaikan, tetapi seorang Junzi menjaganya.” (Mengzi IVB : 19.1)

Dalam kisah Mengzi yang terkenal tentang melihat anak kecil yang akan jatuh ke sumur. Mengzi menegaskan bahwa manusia tentu saja akan tergerak lubuk hatinya karena belas kasihan. Kemampuan untuk menunjukkan sikap empati dan simpati pada anak kecil menunjukkan kemampuan merasakan empati pada penderitaan orang lain.

Mengzi mengatakan, “Perasaan belas kasihan itulah benih Cinta Kasih. (Mengzi IIA : 6.6) ini artinya bila ia tidak memiliki kepekaan hati terhadap penderitaan orang lain maka ia bukanlah manusia. Menurut Mengzi, “Apabila manusia dapat mengembangkannya, ia akan sanggup melindungi empat penjuru lautan, tetapi yang tidak dapat mengembangkannya, ia tidak mampu meskipun hanya mengabdi kepada ayah-bundanya.”     (Mengzi  IIA : 6.7) 

Dalam simpati dan empati tentu timbul juga adanya kedermawanan sosial, diri sendiri secara pribadi tidak bermakna jika tidak memahami kepedulian sosial. Dalam tradisi agama Khonghucu yang identik kehidupan harmoni sosial  dengan harapan mewujudkan keseimbangan kehidupan masyarakat. Nabi Kongzi tidak mengharapkan pribadi-pribadi sebagai pemimpin yang mengumpulkan kekayaan untuk kepentingan pribadi dengan mengabaikan nilai-nilai harmoni sosial untuk kesejahteraan bagi rakyat.

Pemimpin negara yang hanya mengutamakan harta saja, menunjukkan dia seorang rendah budi. Jika perbuatan rendah budi di anggap baik, maka akan datanglah malapetaka bagi negara itu. Bila hal ini sudah terjadi meski datang seorang yang baik, ia pun tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Maka dikatakan suatu negara janganlah menganggap keuntungan sebagai keberuntungan, tetapi pandanglah kebenaran sebagai keberuntungan.” (Da Xue X : 23)

Dengan kata lain kekayaan tidaklah boleh ditumpuk untuk kepentingan pribadi melainkan harus disalurkan kepada mereka yang berhak untuk menerimanya sebagai wujud tanggungjawab dan kepedulian sosial demi menjaga keharmonisan masyarakat sehingga menjauhkan konflik sosial. Nabi Kongzi juga mengecam murid-muridnya yang hanya bisa membantu golongan atau keluarga tertentu untuk mengumpulkan kekayaan, sebab kekayaan yang menumpuk pada golongan atau keluarga tertentu bisa menimbulkan perpecahan maupun pertikaian sosial di tengah-tengah masyarakat.

Kekayaan Keluarga Ji sudah melebihi kekayaan Pangeran Zhou, tetapi Ran Qiu masih juga membantunya memungut pajak untuk memperkaya pula.

Nabi bersabda, “Dia bukan lagi muridKu. Murid-murid, kamu boleh memukul tambur menyerangnya.” (Lun Yu XI : 17)

Menjadi kaya raya dalam Agama Khonghucu tidak dilarang, bahkan dianjurkan, dengan harta yang berlimpah seseorang bisa memberikan bantuan dan kemudahan bagi yang membutuhkan, namun semuanya harus dilandasi dengan kebenaran.

Nabi Kongzi bersabda, “Dengan makan nasi kasar, minum air tawar dan tangan dilipat sebagai bantal, orang masih dapat merasakan kebahagiaan di dalamnya. Maka harta dan kemuliaan yang tidak berlandaskan kebenaran. bagiKu laksana awan yang berlalu saja.”  (Lun Yu VII:16).

      Bagi umat Khonghucu, kebenaran dijadikan sesuatu yang pokok dalam menentukan kekayaan yang diperoleh, seorang umat Khonghucu tidak harus sedih ketika hidup dalam kemiskinan dan tidak harus menjadi sombong ketika menjadi kaya, namun mampu menjaga kebenaran dan tetap belajar membina diri sebagai keutamaan untuk mencapi nilai-nilai kebajikan yang mulia dan berserah diri kepada Tian.

“Seorang umat Ru tidak bersedih dan tidak dapat dipatahkan dari akarnya oleh kemiskinnan dan rendahnya kedudukan; ia tidak bangga dan lupa diri karena kekayaan dan kemuliaan; ia tidak merasa hina dihadapan penguasa; ia tidak merasa terikat oleh tua-tua atau atasan; orang-orang yang berkedudukan tinggi tidak dapat membuatnya sedih (Li Ji XXXVIII : Ru Xing 19)

Zi Gong bertanya, Seorang yang pada saat miskin tidak mau menjilat dan pada saat kaya tidak sombong, bagaimanakah dia?” Nabi Kongzi menjawab, “itu cukup baik. Tetapi, alangkah baiknya bila pada saat miskin tetap gembira dan pada saat kaya tetap menyukai kesusilaan.” (Lun Yu I :15)

Zi Xia berkata,”Mati hidup adalah Firman, kaya mulia adalah pada Tian Yang Maha Esa”. (Lun Yu XII : 5)

Nabi Kongzi bersabda, “Bukan Aku tidak menggerutu kepada Tian Yang Maha Esa, bukan pula menyesali manusia. Aku hanya belajar dari tempat rendah ini, terus maju menuju tinggi, Tian lah mengerti diriKu.” (Lun Yu XIV : 35)

Manfaat Memberi

             Memberi bisa berarti saling berbagi, selain berbagi kebahagiaan bersama orang lain juga memberi membuat hati lebih bahagia dan damai. Memberi ibarat mengasuransikan diri untuk semua jenis pilihan. Orang yang memberi senantiasa mendapat bantuan dan perlindungan Tian, ketika mendapat musibah premi asuransi turun dengan sendirinya.

Dalam hal memberi dan menerima Nabi Kongzi memberi suri teladan kepada murid-muridnya. Nabi Kongzi menerima uang sekolah dari murid-muridnya. Besar kecilnya tidak di tentukan, sekerat daging pun jadilah.

Nabi bersabda,”Siapapun yang membawa seikat dendeng (sebagai tanda mohon diterima menjadi murid) datang kepada Ku, tidak pernah Aku menolak memberi pendidikan." (Lun Yu VII : 7)

Dalam pemberian ini tentu saja bukan masalah sekerat daging, Nabi Kongzi mengajarkan akan makna memberi dan menerima, mensyukuri pemberian dan membantu pemberi untuk senantiasa dalam Jalan Suci Tian, sehingga kedua belah pihak sama-sama mendapatkan berkah dari Tian. Nabi Kongzi juga mengingatkan kepada murid-muridnya untuk tidak menolak pemberian orang lain yang bermanfaat, jika kelebihan berikanlah kepada mereka yang kekurangan.

Tatkala Yuan Si diangkat sebagai menteri, ia diberi sembilan ratus takar beras; tetapi ia menolak. Nabi bersabda, “Jangan menolak! Kalau engkau berkelebihan,berikanlah kepada tetangga-tetangga, orang-orang kampung, desa dan daerahmu.” (Lun Yu VI : 5)

        Dalam ajaran Agama Khonghucu, Tian sebagai pemberi anugerah kepada setiap insan yang mau menjunjung tinggi nilai kebajikan, Tian membalas setiap kebajikan apa yang diperbuat oleh umat manusia. Senantiasa bersyukur atas berkah dan karunia-Nya yang Tian berikan, maka Tian akan menambah setiap keberkahan apa yang telah disyukuri, dengan bersyukur, kita sudah siap menerima tidak lagi mengeluh dan bersedih hati.

           Dalam kisah klasik Tiongkok, dikisahkan seorang kaya bernama Lui Ching yang tidak peduli terhadap orang-orang miskin dikampungnya...

      Lui Ching, seorang petani termasyur karena kekayaannya. Tak seorang pun didesanya yang tidak mengenal Lui Ching. Suatu ketika Lui Ching mendapat musibah. Anaknya semata wayang yang sakit keras. Lui Ching telah mendatangkan berpuluh-puluh tabib untuk menyembuhkan penyakit putra satu-satunya, namun tak satupun yang berhasil menyembuhkan sakitnya. Sejak putranya sakit, setiap tengah malam Lui Ching selalu sembahyang. Suatu kebiasaan yang tak  pernah ia lakukan sebelumnya. “Ya, Tuhan mohon sembuhkan penyakit putraku!” pinta Lui Ching tiap malam. Namun penyakit putranya belum sembuh. “Mungkin Tuhan belum mendengar doaku”, pikir Lui Ching. Lalu Lui Ching mengucapkan setiap doa dengan suara keras. Hingga akhirnya salah seorang tetangga mendengarnya. “Lui Ching, mungkin Tuhan sedang mengujimu. Selama ini kulihat baru kali ini kau mau bersembahyang. Kau mungkin kurang memperhatikan lingkungan sekitarmu. Lihatlah ke sekeliling. Di desa ini cuma kau orang yang paling berkecukupan. Namun, tak pernah kau sumbangkan sedikit hartamu untuk yang kekurangan”. Pagi harinya, sakit putranya bertambah parah. Lui Ching mulai kebingungan. “Tabib pun tak ada yang dapat menyembuhkan. Kepada siapa lagi aku harus minta tolong? “kata Lui Ching. Lalu teringat kata-kata tetangganya semalam. Ia mulai merenung. “Benarkan demikian? Kalau begitu akan kukatakan pada Tuhan, jika Tuhan benar-benar menyembuhkan sakit anakku, akan kujual 2 ekor kerbauku dan uangnya akan kusumbangkan untuk penduduk desa. Lalu ia pun mengucapkan janjinya dalam doa di malam berikutnya. Satu minggu kemudian, Lui Ching merasa gembira, putranya sudah benar-benar sembuh dari sakit....

        Tian senantiasa peduli terhadap umat manusia yang memohon bantuannya. Memberi itu perbuatan mulia dan Tian senantiasa memberkahi. Memberi itu harus dilakukan dengan hati yang ikhlas dan tulus bukan dengan kesombongan karena akan mendatangkan kerugian bagi yang memberi, sebaliknya dengan hati ikhlas dan tulus akan menerima berkah Tian. Harta yang diberikan dipastikan membawa berkah, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Manfaat apa yang didapatkan  ketika seseorang memberi ?  Memberi merupakan salah satu sumber pokok untuk menggemilangkan kebajikan yang bercahaya, hal ini dapat dilihat dari kutipan ayat suci sebagai berikut :

Shang Di, Tuhan Yang Maha Tinggi, itu tidak terus menerus mengaruniakan hal yang sama kepada seseorang; kepada yang berbuat baik akan diturunkan beratus berkah; kepada yang berbuat tidak baik akan diturunkan beratus kesengsaraan (Shu Jing IV : IV, 8)

Sungguh Tian tidak berkenan kepada orang yang tidak menggemilangkan kebajikan (Su Jing V.XIV : 11)

Huang Tian tidak mengasihi hanya satu golongan, hanya kebajikan yang dibantu (Su Jing V.XVII : 4)

Hanya Kebajikan berkenan Tian, tiada jarak jauh tidak terjangkau, kesombongan mengundang rugi, dan kerendahan hati menerima berkah (Su Jing II.II:21)

Sungguh milikilah yang satu-satunya itu : kebajikan. Sungguh kepadanya Tuhan berkenan akan menerima Firman Tuhan yang gemilang itu. Bukannya Tuhan memihak kepadaku, hanya Tuhan melindungi yang satu ialah kebajikan (Su Jing VI : VI : 3-4)

Beroleh perlindungan Tian. Rakhmat tiada yang tidak membawa berkah. Nabi Kongzi bersabda, “Perlindungan berarti bantuan. Yang diberi bantuan Tian, ialah orang yang patuh taqwa. Yang diberi bantuan manusia, ialah orang yang mendapat kepercayaan. Dia yang berjalan dalam kebenaran dan patuh taqwa dalam fikiran ialah orang yang memuliakan para bijaksana. Maka akan beroleh perlindungan Tian. Ada rakhmat; tiada yang tidak membawa berkah.” (Yi Jing Babaran Agung (A) Bab XII : 75)

Maka seorang yang mempunyai kebajikan besar niscaya mendapat kedudukan, mendapat berkah, mendapat nama dan mendapat panjang usia. (Zhong Yong   XVI : 2)

Mengzi berkata,”Orang yang mempunyai simpanan harta, dalam tahun-tahun paceklik pun tidak akan binasa. Kalau orang mempunyai simpanan kebajikan, biarpun dunia kalut tidak akan terkacaukan.” (Mengzi VIIB : 10)

            Dalam salam peneguh agama Khonghucu selalu disebut Wie De  Dong Tian dan dijawab Xian You Yi De yang bermakna hanya kebajikan yang berkenan kepada Tian dan sungguh hanya satu yakni kebajikan maka milikilah  yang satu itu, dari makna itu memiliki pengertian dasar akan misi suci hidup manusia dan menjadi tanggungjawab manusia akan harkat kemanusiaannya dihadapan Tuhan. Dari ayat suci yang disebutkan diatas bahwa memberi yang merupakan bagian dari nilai-nilai kebajikan mendatangkan manfaat bagi mereka yang senantiasa menggemilangkan kebajikan :

1.    Mendapatkan perlindungan dan bantuan dari Tian, Tuhan Yang Maha Esa baik di dunia  maupun di akhirat.

2.       Mendapatkan keberkahan bagi mereka menggemilangkan kebajikan

3.       Senantiasa diberi kebahagiaan dan dijauhkan dari musibah.

          Bila manusia menginginkan rakhmat-Nya, tentu dengan sungguh-sungguh patuh dan hormat sepenuh iman kepada Tian yang difirmankan. Nabi Kongzi yang memberi bimbingan kepada manusia, dengan melihat Zhong Yong Bab Utama ayat pertama dan Da Xue Bab Utama ayat pertama, jelaslah memang hanya dan satu-satunya yaitu Kebajikan lah yang dapat mengantar manusia dalam mendapat rakhmat-Nya. 

Kisah dalam Sejarah Suci Agama Khonghucu

Di dalam sejarah suci Agama Khonghucu juga dikisahkan tentang tokoh-tokoh yang menjadi teladan dalam menggemilangkan kebajikan. Ada beberapa tokoh yang akan dikisahkan seperti Raja Suci Wen dan Raja Suci Cheng Tang.

Raja Suci Cheng Tang

                Maha Besar Shang Di

                Penguasa hidup rakyat di bawah

                Betapa Shang Di sangat marah

                Karena FirmanNya banyak disimpangkan

                Tian telah melahirkan banyak rakyat jelata

                Tetapi FirmanNya yang tidak boleh disia-siakan

                Semuanya adalah baik pada mulanya

                Tetapi jarang terselenggara sampai akhir

                (Shi Jing III Da Ya Jilid III Dang bagian I.Dang : 261)

        Kisah tentang Raja Suci Cheng Tang tercatat dalam Kitab Shu Jing bagian IV Shang Shu (Kitab Dokumentasi Sejarah Suci). Pada tahun 1766 seb.M, para Tua-Tua, menteri yang setia mengangkat Rajamuda Tang untuk mengambil langkah tegas mengakhiri kekuasaan Kaisar Kiat yang telah memerintah sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Rajamuda Tang sebelum memimpin gerakan moral dan menghukum pemimpin yang ingkar dari Jalan Kebenaran Tuhan terlebih dahulu mengadakan Sembahyang Besar Kehadirat Shang Di, memohon izin melaksanakan tindakan moral menurunkan Kaisar Kiat dari tahtanya. Rakyat dan seluruh tua-tua serta menteri setia merasa bersyukur, bahwa Shang Di telah menunjukkan KuasaNya, seorang suci dan bijaksana seperti Rajamuda Tang meluruskan kembali Jalan Suci agama Ru.

        Raja Suci Cheng Tang memerintah dengan penuh Cinta Kasih tidak hanya kepada rakyatnya saja bahkan terhadap hewan sekalipun seperti seekor burung kecil. Penangkap burung memasang jaring di empat penjuru dan mengharapkan agar burung itu jatuh di empat arah jaringnya. Cheng Tang menepuk pelan dipundaknya, turunkan jaring itu pada tiga jurusan dan tinggalkan hanya satu arah. Katakan pada burung, “Kamu boleh pergi kemana sesukamu, aku akan mengambil yang salah arah saja.”

       Sebagai raja yang mendirikan Dinasti Shang, Cheng Tang memberi semangat rakyatnya untuk mengolah tanah dan meningkatkan benihnya. Namun kemudian negara dilanda musim kering yang berlangsung selama tujuh tahun yang menyengsarakan kehidupan rakyat. Raja Suci Cheng Tang yang peduli akan penderitaan rakyatnya, memerintahkan kepada menterinya untuk membuka gudang negara dan membagikan gandum, beras, uang dan lain-lain kepada rakyat. Cheng Tang memotong rambut dan kuku serta mengenakan pakaian putih lalu memimpin persembahyangan kehadapan Shang Di, “Oh, Shang Di, hamba sendiri telah berdosa kepadaMu. Untuk kesalahan rakyatku, kumpulkanlah pada pundakku. Letakkan marahMu kepada hamba sendiri, tetapi lepaskanlah rakyat yang banyak.

        Saat itu ada kilatan cahaya, diikuti oleh gumpalan awan, hujan turun deras dan membasahi tanah kering. Tak lama sesudah musim kering panjang, Cheng Tang wafat, Beliau telah berkorban untuk rakyatnya. Ketika para menteri masuk dalam kamar Beliau untuk memandikan tubuhnya, mereka mendapatkan kata-kata yang terukir di tempayan, Bila suatu hari dapat membaharui (memperbaiki) diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya! (Da Xue II : 1).

Raja Suci Wen

Pada sekitar tahun 1125 SM, Pangeran Wen memerintah sebagai Rajamuda di Provinsi Zhou, Beliau dikenal sebagai Kepala Daerah Barat dan memiliki 10 orang putera, dua diantara yang terkenal adalah Pangeran Qi Fa (Wu Wang) dan Pangeran Qi Dan (Nabi Zhou Gong). Pangeran Wen adalah seorang terpelajar, Raja dan Nabi Suci kaum Ru Jiao. Beliau seorang yang bijaksana, hormat kepada kaum tua, memperlakukan anak-anak dengan kasih sayang, sopan terhadap para bijaksana dan menyukai mereka yang gagah berani.

Dalam Kitab Suci Mengzi bagian IB, 5 : 3 dikisahkan tentang kebajikan Raja Suci Wen didalam menjalankan pemerintahannya mengutamakan Cinta Kasih dan memerintahkan kepada segenap bawahan untuk memberikan perlindungan dan bantuan terhadap empat golongan.

Raja Suci Wen ketika menjalankan pemerintahan, Beliau mengutamakan cinta kasih terhadap empat golongan yakni

1.       Orang tua  yang tidak beristri atau duda

2.       Orang tua  yang tidak bersuami atau janda

3.       Orang tua  yang tidak mempunyai anak atau sebatang kara

4.       Anak  yang tidak memiliki ayah atau yatim

Mengapa Raja Suci Wen mengutamakan empat golongan di atas? Karena keempat golongan inilah orang-orang yang paling sengsara dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan dari sesamanya.

Di dalam Shi Jing tertulis, “Masih bahagia orang yang kaya, namun sungguh menyedihkan nasib orang yang sebatang kara.” (Mengzi IB,5:3)

Di dalam Kitab Shi Jing dikisahkan tentang keprihatinan Raja Suci  Wen terhadap mereka yang tidak memiliki sanak keluarga atau keturunan sebagai orang yang hidup sebatang kara. Menurut Bratayana Ongkowijaya, persembahyangan Jing He Ping (Arwah Umum) dimulai pada masa Dinasti Zhou, yang ditujukan kepada mereka (arwah) yang tidak memiliki sanak famili atau keturunan sehingga tidak ada yang mendoakan untuk mereka.

               12.  Mereka memiliki anggur bagus
                      Dan lauk yang  lezat.
                      Mereka kumpulkan tetangga,
 Dan sanak famili saling memuji.
 Memprihatinkan aku seorang diri,
 Kepedihan hatiku sungguh memilukan.
 13. Betapapun mereka  mempunyai rumah;
Setidaknya mereka mempunyai gaji.
Namun rakyat yang tidak berpunya.
Dan bencana alam menimpa mereka,
Yang kaya masih dapat melewati,
Menyedihkan bagi yang membutuhkan dan seorang diri!

 (Shi Jing II Xiao Ya Jilid IV Qi Fu bagian VIII Zheng Yue : 12-13)

Kesimpulan

                Menjadi kaya raya dalam Agama Khonghucu tidak dilarang, bahkan dianjurkan, dengan harta yang berlimpah seseorang bisa memberikan bantuan dan kemudahan bagi yang membutuhkan. Kekayaan  tidaklah boleh ditumpuk untuk kepentingan pribadi melainkan harus disalurkan kepada mereka yang berhak untuk menerimanya sebagai tanggungjawab dan kepedulian sosial. Orang kaya memiliki kewajiban untuk mengeluarkan hartanya sementara orang miskin memiliki hak untuk menerimanya. Harta yang tersalurkan kepada yang membutuhkan akan bermanfaat daripada harta yang ditimbun untuk kepentingan pribadi, sebab  harta yang tersalurkan akan menciptakan harmoni dan tidak menimbulkan kesenjangan sosial maupun tindak kekerasan di masyarakat.

Harta yang tersalurkan tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan tetapi juga mendatangkan bantuan dan perlindungan dari Tian sebagai Maha Pemberkah bagi umat manusia. Memberi merupakan bagian dari nilai kebajikan, sebab itu Tian menyukai mereka yang berbuat dan menjunjung nilai-nilai kebajikan. Bila manusia menginginkan rakhmat-Nya, tentu dengan sungguh-sungguh patuh dan hormat sepenuh iman kepada Tian. Nabi Kongzi yang memberi bimbingan kepada manusia, dengan melihat Zhong Yong Bab Utama ayat pertama dan Da Xue Bab Utama ayat pertama, jelaslah memang hanya dan satu-satunya yaitu Kebajikanlah yang dapat mengantar manusia dalam mendapat rakhmat-Nya.


Sumber buku: Makna Memberi dalam Pandangan Agama Khonghucu, Penulis Tan Sudemi. Penerbit Pustaka Perahu Harapan, Tangerang. Tahun terbit 2018.