Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Minggu, 28 Mei 2017

Manfaat Pikiran Positif

Penulis : (Alm) Hs.S.Dh.Chandra - Tangerang

Keadaan hidup setiap orang dibuat oleh pikirannya sebagaimana pikiran anda, begitulah keadaan anda. Anda dikemudikan oleh pikiran sendiri. Pikiran ibarat kuda liar, susah dikendalikan, susah dikuasai, maka berusahalah menjinakkannya. Orang yang tidak mampu mengendalikan pikirannya, atau tidak pandai mengatur pikirannya, pasti akan memperoleh banyak kesulitan dalam hidupnya.

h
Dari kiri (alm)Js.Budi Setiadharma, (alm) Hs.S.Dh.Chandra
Sedang memimpin do'a Hari Lahir Nabi Agung Kongzi ke- 2525
Pada tanggal 12 Oktober 1975 di Kota Tangerang
(dokumen foto milik : Tan Sudemi)
Pikiran yang dijinakkan memberi rasa aman, tentram, sentosa, bahagia. Karena itu, pandai-pandailah mengatur pikiran. Pilihlah pikiran yang dapat mengisi jiwa anda dengan ketenangan. Jagalah jangan sampai memelihara pikiran negatif. Jagalah jangan mudah termakan oleh pikiran yang merugikan. Ciptakanlah pikiran kepada yang baik dan murni, jangan beri kesempatan kepada kejahatan. Bebaskanlah diri anda dari segala macam belenggu pikiran negatif.

Pikiran yang positif adalah obat mujarab untuk menjamin kesehatan, ketenangan dan kebahagiaan hidup. Pikiran ingin sehat, akan mewujudkan kesehatan. Jangan memberi waku untuk membenci atau menyesali.

Hindarkan sikap tegang dan hindarkan perdebatan. Biarkan saja orang lain berbeda pendapat dengan anda. Jangan hiraukan kata-kata, perbuatan atau kelakuan orang lain yang tidak menyenangkan, karena bila anda menanggapi dengan kebencian atau kemarahan, itu berarti anda terlibat dalam getaran mental rendah dan masuk dalam afmosfir negatif yang merugikan anda atau anda dibentuk oleh getaran mental rendah. Dengan kata kasarnya: jadi sama gilanya.

Benci dan marah adalah racun mental yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan ketenangan jiwa anda.
Perasaan bebas dan lega adalah yang sangat berfaedah dan sangat bermanfaat.
Kebahagiaan adalah buah hasil dari proses pembebasan diri dari beban pikiran yang tidak berguna. Belajarlah mengusahakan mencintai pekerjaan anda walaupun yang rutin atau yang itu-itu juga, karena rasa bosan atau jemu akan membuat anda letih dan juga akan mengganggu kesehatan anda. Dengan pemusatan pikiran yang tenang anda dapat mengatasinya dengan rasa optimis serta senang mengerjakannya. Bangkitkanlah gairah, karena orang yang bergairah takkan mudah putus asa.

Anda harus senantiasa sadar bahwa keadaan hidup anda sebagian besar ditentukan oleh apa yang terjadi dalam batin dan pikiran anda. Segala sesuatu asalnya dari pikiran, direncana oleh pikiran dan diwujudkan oleh pikiran juga. Kematangan mental tidak datang dengan sendirinya, anda akan memilikinya lewat ketekunan melatih diri.
Mulailah mempraktekannya dari sekarang, karena saat inilah yang utama. Pancarkan cinta kasih dan kemauan baik dalam pikiran anda.
Percayalah kepada hal-hal yang baik, maka yang baik akan mendatangkan anda, seperti apa yang anda tanam, itulah yang anda petik.
Bersyukurlah bahwa anda masih dapat melihat, mendengar dan menikmati keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Lihatlah dan rasakanlah betapa hebat dan ajaib semua ciptaan-Nya, maka bahagialah orang yang senantiasa dapaat melihat dan merasakannya.
Bahagialah orang yang sederhana pikirannya.
Bahagialah orang yang senantiasa berbaik hati dan berpikiran.....positif.

Sumber : Buletin Bulanan  "Sinar Pancaran - Semarang"  Januari 1987.

Jumat, 26 Mei 2017

Laku Bakti

Penulis : Js.Bambang - Bandung

Kita sering berkata Laku Bakti, Laku Bakti.... tapi, pernahkah kita mengajarkan pada anak-anak tentang Laku Bakti?

Pernahkah terpikir jika suatu saat di masa tua nanti hidup sebatang kara tidak diacuhkan oleh anak-anak? Mungkin pada saat ini belum terpikirkan. Atau ada sebagian orang yang bertanya, mengapa hal itu harus dipikirkan, toh pada saatnya nanti kita akan tahu dan mengalaminya.

Memang pendapat ini tidaklah salah. Namun ada baiknya kalau kita mulai memikirkannya dari sekarang, karena jika menunggu saatnya tiba pasti sudah terlambat.

Sebenarnya ada satu hal yang diajarkan dalam agama Khonghucu yang patut mendapat perhatian untuk dilaksanakan yaitu Hauw (Bakti). Namun sayang sekali kita lebih sering hanya membicarakannya tanpa mau melakukannya. Kita lebih sering menuntut anak-anak untuk berlaku Bakti kepada orang tua tapi pernahkan kita memberi contoh kepada mereka?
Ada sebuah ilustrasi :
Pada suatu saat ada seorang umat Khonghucu yang disegani sehingga boleh dikatakan seorang tokoh. Pada awalnya, istri dan anak-anaknya adalah umat Khonghucu yang taat. Pada saat anak-anaknya usia sekolah, mereka mendapat pendidikan disekolah yang terbaik. Lewat pendidikan sekolah inilah kemudian mereka mulai belajar ajaran yang lain (karena merupakan suatu keharusan jika ingin memperoleh pendidikan disekolah tersebut). Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan bahkan tahun berganti tahun tapi bimbingan agama tidak lagi diberikan oleh ayahnya. Suatu saat anak yang sulung berkata, "Papa bolehkah saya pindah ke agama yang lain?" Ayahnya seorang umat Khonghucu yang baik berpikir "mengapa saya harus menolak permintaan anakku, di dalam ajaran Khonghucu dikatakan jangan kukuh dan jangan mengharuskan". Pemikiran sang ayah memang benar tetapi tanpa pemahaman arti yang sebenarnya dari ayat itu.

Kemudian sang ayah berkata kepada anaknya, "Kalau begitu pilihan kamu maka papa tidak akan menghalanginya asalkan kamu benar-benar menyakini keyakinan barumu". Setahun lewat ternyata sang anak sulung memang sangat taat pada agamanya. Sakinng taatnya dia kemudian mengajak adiknya untuk pindah dengan segala rayuan dan janji-janji yang manis. Pertama sang adik menolak tapi lama kelamaan akhirnya iman adiknya runtuh. Berpindahlah adiknya ke ajaran yang dianut kakaknya. Lama kelamaan semua anak dan kemudian istri sang tokoh ini berpindah keyakinan. Dan ternyata dalam keyakinan yang baru tersebut mereka menganggap bahwa tidak perlu repot-repot memikirkan ayahnya yang masih menganut ajaran Khonghucu.

Walaupun seluruh keluarganya telah berpinndah ajaran, namun sang tokoh ini masih tetap rajin datang ke Lithang untuk melaksanakan kewajibannya kepada Tian. Suatu saat sang tokoh ini jatuh sakit dan berpesan kepada anak dan istrinya, "Ayah ingin kalau ayah meninggal nanti dimakamkan secara agama Khonghucu." Pada saat itu anaknya yang sulung berkata, "Mengapa ayah tidak ikut saja bersama kami sehingga tidak merepotkan pada saat pemakaman nanti?" Mendapat jawaban seperti itu sang tokoh dengan perasaan yang luka, "Mengapa anak-anakku sampai seperti ini?"

Tapi pemikiran ini kiranya sudah sangat terlambat. Penyakit sang tokoh kemudian semakin parah. Sampai suatu ketika dalam keadaan yang sangat parah sehingga tak sadarkan diri sang tokoh dipindahkan keyakinannya oleh anak-anaknya melalui suatu upacara (yang katanya sakral). Dua hari kemudian sang tokoh meninggal dunia tanpa tahu apa yang telah diperbuat anak-anaknya terhadapnya. Mungkin kalau dia tahu dia pasti tidak akan pernah memaafkan anak-anaknya.

Tiba acara pemakaman, sang tokoh dimakamkan menurut keyakinan lain yang tidak pernah diyakininya. Setelah dimakamkan, makamnya tidak pernah dirawat dan disembahyangi oleh anak-anaknya. Mungkin kejadian diatas hanyalah sebuah ilustrasi. Namun dari sini kita dapat melihat bahkan mungkin mengatakan bahawa anak dan istri sang tokoh tersebut sungguh sangat tidak berbakti. Tapi sebenarnya  dalam hal ini, anak dan istri sang tokoh tersebut tidak terlalu bersalah. Pernahkah terpikir oleh kita mengapa mereka sampai tidak berlaku bakti seperti itu? Di sana terlihat jelas bahwa sebenarnya sang tokoh tersebut tidak mendidik anaknya untuk berlaku Bakti. Dan hal ini merupakan hal yang lumrah terjadi dikalangan kita. Kita hanya selalu menuntut agar anak-anak berlaku Bakti terhadap orang tua. Tapi ternyata kita sendiri tidak pernah memberikan contoh atau teladan kepada anak-anak kita. Kita selalu menuntut anak-anak kita untuk berlaku Bakti tapi pernahkah kita mengajarkan pada mereka untuk Laku Bakti?

Saat ini marilah kita merenungkan kembali dan kemudian mengambil tindakan untuk memperbaiki hal ini sebelum terlambat. Mulailah didik anak-anak kita sejak dini dengan sikap Bakti.

Sumber : Genta Rohani Karya ke-91 Desember 94