Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Sejarah dan Makna Tahun Baru Imlek


Lain Dahulu Lain Sekarang

Sebelum era reformasi, tepatnya sebelum presiden ke empat K.H.Abdulrahman Wahid (Gusdur) mengeluarkan Keppres No.6 Tahun 2000 (mencabut Inpres No.47 Tahun 1967 yang membatasi semua aktivitas yang berbau China/Tionghoa, Tahun Baru Imlek tidak diminati oleh banyak kalangan termasuk orang dari etnis Tionghoa sendiri. Hanya etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu yang tetap merayakannya meskipun sambil "takut-takut."

Harmoni dalam Keberagaman Drama Musikal Imlek 2570
Siswa-Siswi Sekolah Confucius Pergruan Setia Bhakti
Setelah era reformasi, dan Tahun Baru Imlek dirayakan oleh seluruh etnis Tionghoa tanpa memandang apa agamanya. Terlebih lagi setelah hari raya Imlek diresmikan sebagai hari libur nasional. Berita tentang makna dan sejarah Tahun Baru Imlek bertebaran dimana-mana. Media sosial menjadi wahana untuk mengungkapkan rasa yang selama ini terpendam sangat dalam di lubuk hati orang Tionghoa. Sebutan Imlek menjadi begitu akrab di telinga semua orang. Menyebut Imlek dan mengucapkan Gong Xi Fa Cai (meskipun kurang tepat dari sisi agama) menjadi begitu ringan di bibir banyak orang. Atraksi Barong Say, lampion dan segala pernak-pernik Imlek ada dimana-mana. Kegembiraan terpancar di wajah orang-orang Tionghoa (tak ada lagi beban seperti dulu-dulu). kemeriahan Tahun Baru Imlek nampak di setiap sudut dimana komunitas Tionghoa berada. Semua Warga Tionghoa apapun agamanya ikut merayakan Imlek. Kondisi ini adalah salah satu dampak positif dari dicabutnya Inpres No.14 Tahun 1967 oleh Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Namun di sisi lain, ada sedikit kekhawatiran tentang pergeseran sejarah dan makna Tahun Baru Imlek itu sendiri.

Berita tentang sejarah dan makna Tahun Baru Imlek bertebaran di media sosial. Sebagian lurus tulus tanpa kepentingan, sebagian ada tak benar-benar mengerti sejari hari raya Imlek, dan sebagian lagi sarat dengan kepentingan. Upaya memisahkan antara Imlek dan sebagian lagi sarat dengan kepentingan. Upaya memisahkan antara Imlek sebagai budaya dan Imlek sebagai sebuah ajaran agama sangat terasa. Mengatakan Imlek hanya miliknya umat Khonghucu sungguh tidak bijak, tetapi mengatakan Imlek tak ada kaitannya dengan ajaran agama Khonghucu sungguh keliru.

Pertanyaan apakah Tahun Baru Imlek budaya atau agama, menjadi isu sentral di setiap momen Imlek. Sesungguhnya, pertanyaan apakah Imlek budaya atau agama adalah pertanyaan yang ingin menggiring orang untuk berpikir bahwa, jika Tahun Baru Imlek adalah ajaran agama berarti Tahun Baru Imlek bukanlah budaya. Ada juga pertanyaan yang mengatakan bahwa Tahun Baru Imlek bukan perayaan agama tertentu, tetapi Tahun Baru Imlek adalah budaya orang Tionghoa.

Jika Tahun Baru Imlek bukanlah hari raya agama tertentu, tetapi hanya hari raya dan budaya etnis Tionghoa, pertanyaannya adalah:
  1. adakah hari raya atau tahun baru yang tidak terkait dengan agama tertentu.
  2. mengapa hanya etnis Tionghoa yang punya hari tahun baru?
  3. bagaimana dengan fakta bahwa Tahun Kelahiran Nabi Kongzi menjadi patokan tahun awal kelender Imlek / Yinli.
Mengapa Disebut Kongzili
Tahun ini (2019 Masehi) adalah Tahun Baru Imlek ke 2570 Yinli/Kongzili. Kenapa disebut Kongzili? Karena kalender Imlek/Yinli mengacu pada tahun kelahiran Kongzi (Confucius) 551 SM, sehingga tahun 2019 Masehi sama dengan 2570 Yinli/Kongzili (551+2019=2570).

Atraksi Barong Say
Sekolah Confucius Perguruan Setia Bhakti
Tahun Baru Imlek sejati sudah ada sejak Dinasti Xia, yang menetapkan awal tahun barunya jatuh pada awal musim semi, yaitu tanggal 1 bulan 1 Yinli (satu Zheng Yue). Setelah dinasti Xia berakhir dan digantikan oleh Dinasti Shang (1766-1122 SM) awal tahun barunya dimajukan satu bulan bertepatan dengan akhir musim dingin, yaitu tanggal 1 bulan 12 Yinli (Satu Shi Er Yue). Selanjutnya, setelah Dinasti Shang runtuh dan digantikan oleh Dinasti Zhou (1122-255 SM) awal tahun barunya dimajukan lagi satu bulan, tepat pada pertengahan musim dingin, yaitu pada tanggal 1 bulan 11 Yinli (satu Shi Yi Yue), bertepatan dengan sembahyang Dongzhi.

Dinasti Xia lebih bijaksana yang menetapkan awal tahun barunya pada awal musim semi, karena awal musim semi ini adalah awal yang baik untuk memulai sebuah kerja dan karya baru. Sedangkan pada masa Dinasti Shang dan Dinasti Zhou yang menetapkan awal tahun barunya pada akhir musim dingin (Kwi Tang) dan pertengahan musim dingin, rakyat masih harus menanti satu atau dua bulan lagi untuk memulai kerja baru karena masih harus menunggu musim dingin berlalu.

Nabi Kongzi hidup pada masa pertengahan Dinasti Zhou (pada zaman Chun Qiu tahun 551-479 SM). Suatu ketika Beliau menganjurkan agar Dinasti Zhou kembali menggunakan kalender Dinasti Xia yang menetapkan tahun barunya pada awal musim semi, karena cocok dijadikan pedoman oleh para petani. Tetapi nasehat Beliau baru dilaksanakan pada masa Dinasti Han (140-86SM) oleh Kaisar Han Wu Di pada tahun 104 SM. Sejak Dinasti Han itu, Kalender Xia yang sekarang kita kenal sebagai kalender Yinli diterapkan kembali sampai sekarang ini.

Sebagai penghormatan kepada Nabi Kongzi perhitungan tahun pertama kalender Yinli ditetapkan oleh Han Wu Di dihitung mulai tahun kelahiran Nabi Kongzi (551 SM sebagai tahun pertama Yinli). Itulah sebabnya kalender Yinli lebih awal / lebih tua 551 tahun dibandingkan dengan kalender Masehi. Jika kalender Masehi bertahun 2019, maka kalender Yinli bertahun 2570 (penjumlahan tahun masehi 2019 dengan tahun kelahiran Nabi Kongzi 551).

Nabi Kongzi menekankan pentingnya kembali menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia, karena penanggalan tersebut cocok untuk menghitung tibanya pergantian musim, sehingga cocok pula dijadikan pedoman masyarakat yang pada waktu itu mayoritas hidup dengan mengolah sawah ladang atau bertani.

Nasihat Nabi Kongzi ini sekaligus menyiratkan tiga hal penting, yakni:
  1. Pemerintahan yang baik haruslah benar-benar memperhatikan kepentingan rakyat sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.
  2. Apa yang baik bagi rakyat haruslah dilaksanakan.
  3. Tahun baru bukanlah merupakan waktu untuk berpesta pora, melainkan momentum untuk memulai sebuah karya dan kerja baru.
Ajaran yang Membudaya
Ajaran Khonghucu tidak hanya menekankan masalah-masalah yang bersifat ajaran atau keyakinan kepada Tuhan, tentang ritual dan peribadahan. Keyakinan terhadap ajaran yang disampaikan oleh para nabi akan dijabarkan melalui pemikiran atau filsafat, sehingga keyakinan tersebut dapat dipahami dengan baik dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Selanjutnya, untuk mempermudah dalam mempraktikkan ajaran atau keyakinan yang sudah dijabarkan melalui filsafat itu, diperlukan pengetahuan atau ilmu tertentu. Artinya, semua ilmu dibentuk dalam rangka membantu atau mempermudah manusia dalam mengamalkan apa yang menjadi keyakinannya, sekaligus dalam rangka menggenapi kodrat kemanusiaannya. Selanjutnya apa yang diajarkan oleh agama, dijabarkan oleh filsafat, dan didukung oleh ilmu pengetahuan akan membentuk sebuah kebiasaan yang selanjutnya menjadi budaya (membudaya).

Agama mengajarkan tentang laku bakti, filsafat menjabarkan apa dan bagaimana laku bakti itu, pengetahuan menuntun secara teknis bagaimana mempraktikkannya  dan akhirnya perilaku bakti itu menjadi sebuah budaya dikalangan masyarakat Tionghoa. Dari sini menjadi jelas, bahwa ajaran agama yang bersumber dari Khonghucu itu pada akhirnya akan menjadi budaya di kalangan masyarakat Tionghoa.

Berbicara agama berarti berbicara tentang ajaran dan keyakinan. Dalam dunia yang diwarnai dengan segala perbedaan, termasuk perbedaan agama (keyakinan) maka akan terjadi banyak pertentangan-pertentangan karena perbedaannya. Oleh karenanya, dalam perbedaan keyakinan (agama) manusia tidak dapat benar-benar beremu dalam satu titik persamaan. Nabi Kongzi menasihati: "Bila berlainan jalan suci (keyakinan) jangan berdebat." (Lun Yu XV:40).

Serupa dengan hal itu, dalam filsafat juga akan ditemukan perbedaan-perbedaan. Berbeda aliran, maka akan berbeda pandangan, pemikiran dan pemahaman. Begitupun dalam ilmu pengetahuan, berbeda disiplin  ilum akan berbeda sudut pandang.

Namun pertentangan karena perbedaan-perbedaan itu, baik perbedaan dan sudut pandang agama, filsafat, ataupun ilmu pengetahuan, akan menjadi hilang ketika semua itu telah menjadi budaya (membudaya).

Upacara-upacara atau persembahyangan yang ada dalam agama Khonghucu seringkali diidentikkan dengan acara budaya. Hal ini menjadi wajar, karena melalui budaya inilah masyarakat dapat menyatu. Mereka dapat bersama-sama menjalankan ajaran agama melalui bingkai budaya.

Tahun Baru Imlek/Yinli adalah salah satu contoh yang paling nyata. Masyarakat Tionghoa dapat bergembira bersama merayakan Tahun Baru Yinli dan tidak lagi mempersoalkan apa agama mereka. Meskipun fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa Tahun Baru Yinli bersumber dari ajaran peribadahan agama Khonghucu

Budaya sangat terkait dengan agama, artinya apa yang dibawakan (diajarkan) oleh agama akan membentuk karakter dan kebiasaan umatnya yang pada ujungnya menjadi tradisi yang membudaya. Christopher Dowson mengatakan: "Great Religions are building a foundation for great civilizations" (agama-agama besar adalah bangunan-bangunan dasar bagi budaya  atau peradaban besar).

Makna Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek bagi umat Khonghucu bukan sekedar tradisi budaya dan eporia belaka, Tahun Baru (Xin Nian) atau Xin Chun (musim semi baru) yang selanjutnya dikenal dengan Tahun Baru Imlek, bukan sekedar pergantian musim, bukan sekedar tradisi atau budaya saja. Tahun Baru (Xin Nian) mengandung makna spiritual, sosial dan makna budaya. Tahun Baru menjadi momentum untuk instropeksi diri.

Tahun Baru adalah harapan baru. Semua berhenti sejenak dan merenungi serta memeriksa apa yang telah dijalaninya sepanjang tahun yang telah berlalu. Memeriksa dan merenungkan apa yang telah dikerjakan dan yang belum dikerjakan, meneliti apakah perbuatannya selalu di dalam Kebajikan atau sebaliknya. Hal-hal itulah yang akan dipertanggungjawabkan kepada leluhur dan kepada Tian sebagai wujud bakti kepada leluhur Tuhan.

Tahun Baru juga merupakan momentum untuk memperbaharui diri. Setelah memeriksa diri dari kekurangan-kekurangan, selanjutnya membulatkan tekad dan mengobarkan semangat untuk memperbaiki dan memperbaharuinya pada tahun mendatang.
Semangat memperbaharui diri ini diteladani oleh Cheng Tang (1766 SM). Semangat itu tersurat di dalam Kitab Ajaran Besar (Da Xue), sebagai berikut: "Pada tempayan raja Tong terukir kalimat Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari, dan jagalah baharu selama-lamanya." (Ajaran Besar II:1)

Rangkaian Tahun Baru Imlek
Er Si Sheng An
Tahun Baru Imlek merupakan sebuah rangkaian peribadahan kepada Tuhan, kepada Alam dan kepada Leluhur. Perayaannya sudah di mulai sejak seminggu sebelum Imlek yang dikenal dengan Dji Si Siang Ang / Er Si Sheng An atau Hari Persaudaraan. Er Si menunjukkan tanggal 24 bulan 12 Kongzili, Sheng berarti naik/menaikan, dan An berarti aman/selamat. Er Si Sheng An berarti saat menaikan / memanjatkan rasa syukur Kehadiran Tian karena sudah selamat melewati waktu satu tahun. Pada saat ini dilakukan penghormatan kepada Cao Kun Kong / Zao Jun Gong (Malaikat Dapur). Dikaitkan dengan malaikat dapur (Zao Jun Gong) karena dapur adalah simbol kemakmuran dan keselamatan (mendapat makan). Pemahaman bahwa hari itu adalah saat naiknya Malaikat Zao Jun Gong menghadap Tuhan untuk melaporkan semua perbuatan manusia selama satu tahun yang telah berlalu adalah tidak tepat.

Tanggal 24 bulan 12 Kongzili juga dikenal dengan Hari Persaudaraan, saat dimana umat Khonghucu khususnya dan masyarakat Tionghoa secara umum berbagi kepada saudara-saudaranya yang kurang mampu. Semangat berbagi kepada saudara-saudara yang kurang mampu ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas berkah yang sudah diterimanya selama satu tahun.

Ibadah Chu Xi
Satu hari menjelang Tahun Baru Imlek tanggal 29 atau 30 bulan Yinli/Kongzili dilaksanakan persembahyangan kepada leluhur (Chu Xi). Chu berarti menggeser, Xi berarti penghujung/penghujung hari (sembahyang penutupan tahun). Dilanjutkan dengan acara makan bersama (Nian Ye Fan). Acara makan bersama ini menjadi momen penting bagi keluta Tionghoa, karena merupakan saat reuni (Tang Yuan) bagi setiap keluarga Tionghoa.

Esok paginya, pada hari pertama Imlek, semua bersembahyang menyampaikan syukur kepada Tuhan seraya menyampaikan prasetya dan berkomitmen untuk berusaha lebih baik dalam menjalani tahun yang baru. Dilanjutkan dengan memberikan hormat dan mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada kedua orangtua dan saudara-saudara yang lain. Maka sejatinya, Tahun Baru Imlek memiliki makna spiritual dari sebuah ajaran agama yang digenap sempurnakan oleh Nabi Kongzi (Confucius).

Semoga perayaan Tahun Baru Imlek kali ini dan tahun-tahun selanjutnya selalu didasari oleh semangat persaudaraan agar tercipta keharmonisan, bukan hanya untuk kelompok, suku, atau etnis tertentu, tetapi bagi semua orang. Sebagaimana diajarka Confucius bahwa sesungguhnya "Di empat penjuru lautan semua adalah Saudara."

Gong He Xin Xi Wan She Da Ji
Hormat/Selamat Bahagia Menyambut Tahun Baru, Semoga Semua Harapan baik  Dapat Tercapai.
Sukses Selalu.

01-01-2570 K
05-02-2019 M

By: Gunadi Prabuki,S.Pd., M.Ag.
Ketua Bidang Pendidikan Tinggi MATAKIN:

Sumber: 
Buku Kenangan Drama Musikal Imlek 2570 "Harmoni Dalam Keberagaman" 
Perkumpulan Boen Tek Bio Bidang Pendidikan Sekolah Confucius Perguruan Setia Bhakti Tahun 2019