Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Aroma Yang Dicuri

Alkisah ada pria miskin yang tinggal di hutan, dan ia harus berburu setiap harinya untuk makan. Hutan itu berbatasan dengan kota yang lumayan indah, dan ketika matahari bersinar, sewaktu ia memiliki kekuatan dan energi, pria miskin dari hutan akan berjalan ke kota, dan menyusuri jalanan di kota.

Pada suatu pagi yang cerah, ia berjalan di sepanjang jalan utama, melihat-lihat ke dalam jendela toko, dan merasa puas semata-mata karena ia hidup.

Mendadak, ia mencium aroma lezat dalam udara pagi. Aroma roti yang baru saja dipanggang, dan berasal dari toko roti. Dengan penuh semangat, ia mengikuti indra penciumannya, sampai ia mendapati diri berada di toko roti, tempat orang-orang membeli roti untuk sarapan dan kue untuk minum teh sorenya.

Pria miskin itu bukannya iri pada orang-orang itu karena dapat makan dengan nikmat. Ia hanya ingin menghirup aroma hangat yang lezat itu dalam-dalam. Itu sudah cukup untuknya. Kenangan itu akan memberinya kekuatan sepanjang minggu. Maka ia pun berdiri di sana, tak jauh dari pintu, menghirup napas dalam-dalam dan menikmati aroma kental itu, memenuhi segenap dirinya dengan keajaiban aroma itu.

Tukang roti melihatnya berdiri di sana, dengan pakaian compang-camping, di dalam pintu tokonya. Dan ia tidak suka apa yang dilihatnya. "Pria ini akan membuat pelangganku kabur, berdiri di sana menghirup aroma dan tidak pernah berniat membeli apa pun," pikirnya. "Aku tidak dapat membiarkannya."

Maka tukang roti pun memanggil polisi dan menuntut pria miskin itu ditangkap karena, katanya, "Pria ini mencuri aromaku!" Polisi menggiring pria miskin itu, dan membawanya ke pengadilan. Ketika sidang dimulai, hakim memanggil pria miskin dan tukang roti ke ruang sidang, dan mendengarkan cerita mereka.
"Pria ini mencuri aromaku," ujar tukang roti.
"Aku hanya bernapas, "pria miskin itu membela diri. "Aku tidak mencuri apa pun dari tokomu. Kau tidak bisa mencuri aroama."

Hakim dengan saksama mempertimbangkan semua bukti, dan akhirnya menyampaikan keputusannya. "Aku memutuskan pria miskin ini bersalah karena mencuri aroma tukang roti," ujarnya, dan pengadilan menuntut terdakwa untuk membayar ganti rugi kepada tukang roti sebesar seratus pounds."
Pria miskin itu terkesiap kaget. "Bagaimana mungkin saya mengumpulkan seratus pounds?" tanyanya. "Kasihanilah saya. Satu-satunya yang saya miliki hanyalah beberapa penny." Lalu ia mengeluarkan dua koin kecil dari sakunya.
"Bawa kemari apa yang kaumiliki," perintah hakim. Dan pria miskin itu pun dengan putus asa menyerahkan dua penny terakhirnya kepada Hakim.

Hakim mengambil koin tersebut, dan memanggil tukang roti. Ia menunjukkan koin tersebut, dan tukang roti mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Hakim menghentikannya. "Pandangi saja koin ini baik-baik selama beberapa lama," ujarnya pada tukang roti. Tukang roti memandangi koin itu. Lalu Hakim pun mengembalikan koin itu kepada pria miskin, yang langsung memasukkannya kembali ke saku.
"Pria miskin ini mencuri aromamu," Hakim menyimpulkan, dan sekarang kau sudah mendapatkan ganti rugi. Kasus ditutup."

Sumber buku : Pohon Abadi dan 100 Cerita Inspiratif dari Seluruh Dunia, Oleh Margaret Silf, Penerbit PT.Gramedia Pustaka Utama - Jakarta, Tahun 2012

print this page Print this page

Pelestarian Lingkungan Hidup Dalam Perspektif Agama

Penulis : Djuidahwati Saputra (Mahasiswa Pascasarjana Ushuluddin Syarif Hidayatullah-Jakarta)
Pandangan Agama Tentang Alam dan Lingkungan Hidup
Alam adalah ciptaan Tuhan, dimana manusia dan makhluk lainnya tumbuh berkembang dalam keseimbangan dan keharmonisan agung.


Lingkungan Hidup adalah tempat dimana seseorang tinggal dan berinteraksi dengan makhluk lainnya dengan saling melengkapi, saling menjaga dan saling menghormati sehingga tercipta suasana yang harmonis.
Dalam hal ini lingkungan hidup merupakan bagian dari alam, ketika kita bisa menciptakan lingkungan hidup yang damai, seimbang, indah dan harmonis, maka alampun akan menjadi damai, seimbang, indah dan harmonis serta terjaga keasriannya.

Untuk tumbuh berkembang, manusia dan makhluk lainnya membutuhkan makanan dan minuman dan juga pasangan hidup yang telah disediakan di alam ini.
Seperti kita ketahui bersama, tumbuh-tumbuhan / pepohonan mendapat makanan dari dalam tanah yang mengandung sari-sari makanan yang diperlukan oleh tumbuhan dan dari air, udara serta sinar matahari yang dibutuhkan untuk mengolah sari makanan tersebut, ada juga beberapa tanaman yang menjadikan serangga sebagai makanannya.

Hewan ada yang mendapat makanan dari tumbuh-tumbuhan, ada yang mendapat makanan dari hewan lainnya, serangga atau tumbuh-tumbuhan dan hewan serta air dan udara.

Manusia juga mendapat makanan dari hewan, tumbuh-tumbuhan serta air dan udara.
Alam sudah menyediakan makanan, air dan udara serta pasangan hidup yang cukup bagi semua mahkluk yang tinggal didalamnya, cukup udara,  air, tumbuh-tumbuhan dan hewan dalam suatu siklus eko sistem yang telah tercipta secara alami, dalam bentuk rantai makanan yang seimbang dan saling melengkapi.
Demikian Tuhan dengan begitu teliti telah merencanakan dan mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Fungsi dan Tugas Manusia di Bumi
Saat ini kita tinggal di Bumi, Alam dan lingkungan dimana kita berinteraksi dengan sesama manusia, tumbuhan, hewan dan yang lainnya.

Sebagai manusia, kita diberikan kelebihan dapat berpikir, berakal budi dan dapat menciptakan hal-hal yang kita butuhkan dengan menggunakan sumber daya alam yang ada. Sehingga dikatakan “Berlaksa Wujud ada didalam diri manusia”.

Contoh nyata dalam kehidupan ini, dimasa lalu manusia makan menggunakan daun sebagai alas makan, tangan sebagai sendok dan garpu, duduk di tanah atau di batu. Suatu saat manusia terinspirasi oleh ciptaan Yang Maha Kuasa, lalu untuk kemudahan hidup mulai menciptakan meja, kursi, piring, sendok dan garpu dengan bahan dari sumber daya alam yang ada.
Ketika manusia mengamati burung yang terbang diangkasa, manusia terinspirasi untuk dapat terbang dan mulai berusaha menciptakan pesawat terbang, mencontoh dari burung dan seterusnya.

Manusia diciptakan berpasangan, laki-laki dan wanita, diciptakan sedemikian rupa untuk melengkapi satu sama lain,hidup berpasang-pasangan membentuk satu keluarga yang diikat dalam perjanjian suci pernikahan.
Seorang pria bertugas melindungi dan memberi nafkah lahir batin bagi istri dan keluarga, seorang istri bertugas memberi ketentraman dan inspirasi serta semangat dan kebahagiaan bagi suami dalam kehidupan berkeluarga yang disebut rumah tangga. Seorang istri juga bertugas untuk mengandung bayi yang dianugrahkan Tuhan melalui penyatuan suami istri yang bertujuan untuk memperbanyak manusia di Bumi sehingga Bumi yang tadinya kosong menjadi terisi.

Manusia sebagai mahkluk berpikir dan mempunyai kemampuan mencipta bertugas untuk mengembangkan keluarga dalam perilaku cintakasih dan juga menjaga keseimbangan alam dalam keharmonisan sehingga siklus mata rantai makanan dan eko sistem alami tetap terjaga serta kecukupan sumber daya alam yang dibutuhkan tetap mencukupi.

Ketika manusia menggunakan sumber daya alam, maka sebagai makhluk berpikir, untuk menjaga kesimbangan dan kesinambungan eko sistem alam dan mata rantai makanan, manusia juga hendaknya meneliti, bagaimana caranya mengembalikan sumber daya alam yang telah digunakan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan sumber daya alam tersebut, dan juga mempelajari serta meneliti setiap fungsi sumber daya alam yang ada tersebut.

Sebagai contoh : ketika manusia menebang pohon untuk membangun rumah dan perlengkapan rumah (meja, kursi, sendok, garpu, dsb.), maka manusia seyogyanya memahami apa yang harus dilakukan untuk menjaga kesinambungan kehidupan pohon tersebut, apa fungsi pohon tesebut bagi alam selain untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber daya alam (misalkan sebagai penjaga air tanah untuk kelembaban tanah dan untuk membantu penyerapan air hujan kedalam tanah hingga air tidak tergenang diatas tanah, dsb.).

Demikian juga ketika manusia memanfaatkan hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka seyogyanya dipikirkan bagaimana caranya untuk menjaga kelestarian hewan tersebut sehubungan dengan kesinambungan mata rantai makanan dalam eko sistem alami yang sejak awal telah ada dialam ini.


Etika Pemanfaatan Alam
Alam menyediakan Pepohonan, Hewan, Tanah, Minyak dan Gas Bumi, Udara Bersih dan sumber daya alam lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Di wilayah tertentu sumber daya alam sangat berlimpah, sehingga manusia sangat mudah memanfaatkannya dan menjadi manja.

Manusia mengeruk sumber daya alam untuk “kekayaan pribadi” dan lupa memulihkan kembali sumber daya alam sehingga mengakibatkan mata rantai eko sistem terganggu.
Ketika mata rantai makanan terputus dan eko sistem terganggu, mulai terjadi bencana alam, seperti banjir, longsor, penyakit karena makanan dan udara kotor dan sebagainya.

Didalam menggunakan sumber daya alam, kita diharuskan menjaga kesinambungan dan juga keseimbangannya untuk mencegah terjadinya bencana yang diakibatkan oleh terganggunya keseimbangan alam.

Manusia sebagai mahkluk berpikir telah diberikan kecerdasan alami untuk mempelajari dan meneliti fungsi dan cara kerja sumber daya alam, sehingga ketika manusia memanfaatkan sumber daya alam tersebut manusia telah dapat melakukan tindakan untuk menjaga keseimbangan mata rantai makanan dan eko sistem alami yang telah ada di alam ini.
Contoh : Ketika manusia mengambil pohon, manusia selayaknya sudah mengerti dan mempelajari apa fungsi pohon bagi alam ini, berapa lama pohon ini tumbuh, berapa usia yang wajar untuk dapat ditebang dan dipergunakan, apakah bibit pohon yang baru sudah tersedia (jika pohon dicabut sampai keakarnya) apakah jika akar pohon tetap ditinggal dalam tanah, pohon ini dapat menumbuhkan kembali daunnya? Sehingga tidak perlu menanam pohon baru hanya cukup merawat pohon ini sampai kembali berdaun dan seterusnya.
Demikian juga untuk pemanfaatan hewan, kapan hewan ini layak dipotong untuk dikonsumsi, apakah sudah ada cikal bakal pengganti untuk kelangsungan hidup jenis hewan tersebut? Jika hewan tersebut punah, akibat apa yang akan terjadi?

Dalam memanfaatkan sumber daya alam, manusia harus memikirkan efek-efek yang terkait dan berpegang pada kelestarian mata rantai makanan dan eko sistem secara seimbang, sehingga bencana alam dapat diminimalisasi.

Kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dewasa ini, misal di Jakarta, banjir terjadi setiap musim hujan datang. Banjir terjadi semakin parah dari tahun ke tahun, setelah diamati ternyata dari tahun ke tahun semakin banyak sampah yang sukar terurai memenuhi sungai dan saluran air, dibangun gedung-gedung dengan mengganti pepohonan yang ada menjadi bangunan, tanah tempat akar pohon dipadatkan sebagai dasar fondasi gedung tanpa menyediakan pengganti fungsi akar pohon sebagai penyerap air hujan dari atas tanah. Ketika kemudian disadari, kembali taman kota dibentuk, pembangunan gedung mulai menyediakan pengganti fungsi akar pohon sebagai penyerap air dari atas tanah, sungai dibersihkan dari sampah, maka banjir dimusim hujan mulai terkendali.


Prinsip-Prinsip Agama dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

  1. Bumi sebagai sumber hasil bumi untuk mencukupi sandang pangan harus dijaga dan dirawat, dikerjakan sehingga menghasilkan bahan sandang pangan
  2. Sumber makanan dari laut maupun darat, jika belum waktunya dipotong dan dikonsumsi, jangan dipotong
  3. Pemotongan kayu di hutan harus ditentukan waktunya, sehingga kayu di hutan tidak kurang untuk dipergunakan.

Ketiga prinsip ini diambil dari percakapan Raja Hui dengan Meng Zi, ketika Raja menanyakan bagaimana memenangkan hati dan menyejahterakan rakyat, intinya adalah pelestarian lingkungan hidup agar dapat mencukupi kebutuhan sandang pangan rakyat. Uraian lengkap terdapat didalam kitab Meng Zi.
print this page Print this page