Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Xs. Tjie Tjay Ing Pejuang Khonghucu


Oleh : Espos
Gerakannya tak terlihat meletup-letup. Perlahan namun pasti. Padahal, Tjhie Tjay Ing tegas menentang rezim Orde Baru yang mem-blacklist agama, kepercayaan dan adat istiadat China termasuk agama Konghucu di Indonesia. Haksu Tjay Ing ? begitu panggilan akrabnya? membakar semangat umat Konghucu dari dalam. Ia terus memimpin kebaktian maupun kajian keagamaan.

Tjhie Tjay Ing pun konsisten menerbitkan majalah untuk kalangan internal khonghucu yang berisi tulisan pergumulan pemikirannya dengan sejumlah haksu lainnya sejak tahun 1956. Intinya, agar iman Confusian,  umat Confusius atau yang dalam agama Konghucu disebut Nabi Khongcu tak goyah walaupun dibelenggu pemerintah. Bahkan lebih dari itu, Tjhie Tjay Ing dengan sabar dan telaten mengenalkan khazanah budaya Konghucu kepada khalayak. Memberikan pemahaman bahwa Konghucu juga layak eksis dan mendapatkan hak yang sama untuk berkembang seperti halnya agama lain di Bumi Pertiwi ini.

Tak berlebihan kiranya jika dengan segala perjuangannya itu, Tjhie Tjay Ing lalu disebut sebagai pejuang eksistensi Konghucu di Indonesia. Aktivitasnya dalam forum-forum sarasehan, diskusi lintas agama maupun budaya juga menjadikannya mendapat julukan tokoh lintas agama dan budayawan. Namun sebenarnya, semangat pendobrak dan kecintaan Tjhie Tjay Ing pada ajaran Nabi Khongcu itu sudah berkecambah sejak belia. Sejak kecil saya memang sudah bertekad mendalami agama Konghucu, ujar kakek empat cucu yang usianya beranjak 75 tahun ini saat ditemui Espos di ruang kerjanya yang terletak di belakang Tempat Ibadah Agama Konghucu, Litang, Jl Drs Yap Tjwan Bing 15 atau dulunya kondang disebut Jl Jagalan 15 Solo, awal bulan lalu.

Beragam kitab-kitab setebal kamus bertumpuk di mejanya. Sementara di sebuah lemari kayu yang usang tapi kokoh, puluhan kitab klasik berusia ratusan tahun, berbahasa Hokian yang semua kertasnya telah menguning, tampak memenuhi lemari.

Penggemar Wayang
Kecintaannya kepada ajaran Nabi Khongcu seperti halnya ketakjuban pada dunia wayang yang menjadi tontonan paling spektakuler di masa kecilnya. Sampai-sampai karena tak pernah melewatkan pertunjukan wayang, baik wayang kulit, krucil maupun po te hi, semalam suntuk, nilai rapor Tjay Ing kecil di bangku Kelas III SD, dua kali merona.

Namun menurut Tjay Ing, untuk kali kedua tak naik kelas, ia nekat masuk ke Kelas IV tanpa menggubris teguran gurunya. Dua kali pukulan dari nilai rapornya yang menyala ternyata ampuh melentingkan semangat belajarnya. Sehingga sampai di bangku SMP, Tjay Ing berhasil menempuh jenjang akademisnya tepat waktu. Lalu setamat SMP tahun 1954, Tjay Ing hijrah melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Agama (SGA) Kristen, Solo. Sesuai dengan tekad Tjay Ing kecil, sejak awal masuk SGA itu pula ia aktif mengikuti kebaktian di Litang dan bergabung dengan orang-orang yang berorientasi pada Konghucu dalam perkumpulan Khong Kauw Hwe Solo yang sudah berdiri sejak 1918. Lalu pada 13 Maret 1955, bersama dengan sejumlah pemuda, Tjay Ing mendirikan Pemoeda Agama Konghoetjoe Indonesia (Pakin). Awal berdiri saya menjadi sekretaris, kenang lelaki yang juga tertarik dengan karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Pramoedya Anantatour ini. Setahun kemudian, berbagai Khong Kauw Hwe di seluruh Indonesia berkumpul dan membentuk Perserikatan Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI).

Lalu setelah berganti-ganti nama, pada 1967 tepatnya, pada musyawarah nasional ke-4 yang berlangsung di Solo, PKCHI diubah namanya menjadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin). Nama tersebut masih langgeng sampai sekarang. Sejak lembaga itu tampil dengan nama Matakin, Tjay Ing didaulat menjadi ketua dewan kerohanian, sampai kini. Meskipun setamat SGA tahun 1957, ia sempat menjadi Bunsu atau guru agama di SD Tripusaka dan setahun kemudian menjadi kepala sekolah sampai 1960.

Masa pencekalan
Awal berubahnya menjadi Matakin itu jua yang menjadi awal pencekalan terhadap agama Konghucu, yakni dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China.

Pencekalan dari pemerintah terus menghujam bertubi-tubi. Bahkan, pembubuhan agama Konghucu di Kartu Tanda Penduduk (KTP) tak diperbolehkan. Tak heran, sebagian confucian lantas pindah agama maupun mencantumkan agama lain di KTP mereka demi keamanan. Segala kegiatan umat Khonghucu tak mendapat ijin dari pemerintah. Tetapi saya dulu nekat membubuhkan agama Konghucu di KTP dengan diketik sendiri, ujar penggemar sayur rebung tunas bambu ini. Kebaktian dan penataran yang dipimpin Tjay Ing baik di Solo maupun berbagai daerah Pulau Jawa juga tetap dijalankan.

Bahkan pada tahun 1980-an, Tjay Ing juga melakukan perjalanan spiritualnya sampai ke Hongkong dan Taiwan. Di dewan kerohanian itu pula, dengan gerakan yang halus Tjay Ing tetap menggeber lewat tulisan-tulisan di majalah bulanan internal Konghucu yang dipimpinnya sejak 1956 dengan label Suara Kung Chiao yang terbitan pertamanya disebarkan di Malang. Di tahun 1965, nama terbitan berkala itu berubah nama menjadi Suara Agama Khonghucu. Tak berselang lama, namanya diubah lagi menjadi Majalah Genta Buana dan terakhir menjadi Suara Genta Suci Konfucian (SGSK) sampai kini. Selain itu juga, Konghucu menurut Tjay Ing juga eksis lewat lewat penerbitan media, seperti kalender dan buku pegangan pelajaran agama Konghucu dari SMP sampai SMA. Tjay Ing masih ingat, di tahun 1975, hanya karena membubuhkan foto sambutan pejabat dalam kalender itu, ia pun sempat mendapat pencekalan.

Termasuk karena dianggap mencatut sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Syarif Thayib, dalam kata pengantar buku pegangan pelajaran itu. Buntutnya, Ketua Matakin saat itu, Suryohutomo harus menjalani hukuman penjara selama enam bulan. Pembelaan sama sekali tak digubris, kenangnya masygul. Barulah pada pemerintahan Presiden KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, saat Inpres No 14/1967 dicabut, umat Nabi Khongcu dapat bernafas lega. Namun, menurut Tjay Ing akibat tekanan dan larangan yang sudah sekian lama, menjadikan nuansa diskriminasi tetap belum dapat pulih sepenuhnya. Ia mencontohkan, penggantian agama pada KTP misalnya masih ada yang harus menempuh birokrasi berbelit. Tjay Ing berharap dukungan pemerintah bisa terus mengalir.

Demikian pula dengan umat Konghucu sendiri. Sudah seharusnyalah, kata Tjay Ing mencintai dan konsisten terhadap agama maupun organisasi keagamaannya. ?Tak lupa selalu menebarkan kerukunan dan kedamaian di mana pun berada,? tandasnya.

Biodata Tjhie Tjay Ing
Nama : Tjhie Tjay Ing
Tempat, tanggal lahir : Blora, 26 Maret 1935
Alamat : Jl Drs Yap Tjwan Bing 15 d/h Jagalan 15 Solo
Istri : Tjiong Giok Hwa
Anak : l Tjie Sian Hwie (Willy Pramudita Djiwatman) l Tjie Sien Gie (Mursid Djiwatman) Riwayat
Pendidikan: l SD Tionghoa, Blora l SMP Kristen, Blora l Sekolah Guru Agama (SGA) Kristen, Solo Pekerjaan: l Guru Agama SD Tripusaka 1957-1958 l Kepala Sekolah SD Tripusaka 1958-1960 l Guru Agama SD Tripusaka 1960-1968 l Dosen Agama Khonghucu 1968-2004 Organisasi: l Ketua Dewan Kerohanian Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) l Ketua Dewan Kerohanian Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Solo Penghargaan: l Penghargaan Walikota Solo pada Imlek 2009 atas konsistensinya dalam bidang kebudayaan.

Tiada hari tanpa menerjemahkan kitab

Rambut boleh saja telah memutih semua. Derap langkah pun mulai bertatih-tatih. Tetapi semangat berkarya Thjie Tjay Ing terus menggelora tak lekang termakan zaman. Di antara 10 haksu yang sekarang ada di Indonesia, tiga haksu di Solo, satu di Tegal, empat di Jakarta, satu di Surabaya dan satu di Manado, Tjay Ing terbilang paling produktif.

Terutama dalam menerjemahkan kitab-kitab Konghucu berbahasa Hokian maupun bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Baik itu kitab yang terdiri dari Kitab Suci Pokok atau Kitab Suci Empat yang disebut Su Si, maupun kitab suci yang mendasari atau Kitab Suci Lima yang disebut Ngo King. Setiap hari, seayat demi seayat diterjemahkan Tjay Ing, tanpa kenal lelah. Kitab Su Si yang terdiri dari Kitab Ajaran Besar (Thai Hak), Kitab Tengah Sempurna (Tiong Yong), Kitab Sabda Suci (Lun Gi) dan Kitab Bingcu (Mencuis), semuanya telah rampung diterjemahkan.

Sementara untuk Kitab Ngo King yang terdiri dari Kitab Sajak (Si King), Kitab Dokumentasi Sejarah suci (Su King), Kitab Perubahan dan Kejadian Alam Beserta Segala Isinya (Ya King), Kitab Kesusilaan dan Peribadatan (Lee King) serta Kitab Catatan Sejarah Chun Chiu (Chun Chiu King) tinggal satu yang belum diterjemahkan. Tinggal Chun Chiu King yang belum. Semoga bisa saya selesaikan secepatnya, ujar Tjay Ing sembari menunjukkan Kitab Su Si hasil terjemahannya setebal kurang lebih tujuh sentimeter itu.

Pahami makna Menurut Tjay Ing, menerjemahkan kitab tak sekadar mengubah bahasa dari bahasa asal menjadi bahasa Indonesia saja, melainkan juga memaknai dan menjelaskan agar si pembaca dapat lebih mafhum dalam mencerna dan memahami isinya. Dalam menerjemahkan kitab-kitab itu, Tjay Ing juga berkomitmen mengedepankan objektivitas. Pasalnya, tak jarang subjektivitas penerjemah pada sejumlah kitab dinilainya masih terasa begitu kental. Terkait penerjemahan itu pula, lanjut Tjay Ing, yang kadang membuat hatinya risau.

Sebab, masih sedikit generasi muda Konghucu yang betul-betul tertarik untuk menguasai bahasa Mandarin maupun Hokian, apalagi sekaligus menerjemahkan. Padahal, tuturnya, dari pemahaman atas kitab-kitab itulah generasi penerus mestinya bisa menginternalisasi ajaran luhur Nabi Kongcu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Oleh sebab itu, didukung dengan sarana teknologi yang kian maju, sejumlah tulisan pembangkit semangat dari Tjay Ing pun memenuhi website Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin). Dengan harapan dapat melecutkan gairah para confusian muda. Rupanya media-media masa kini juga cukup efektif. Lomba kotbah bagi para pemuda Konghucu beberapa waktu lalu cukup disambut dengan antusias, ujarnya sambil tersimpul senyum.
Gurunya para haksu dan sumber agama Konghucu di Indonesia

Di Indonesia, jabatan keagamaan Konghucu ada tiga tingkatan. Tingkat paling bawah adalah kausing atau penebar agama. Bisa dianalogikan semacam santri dalam Islam. Lalu tingkat kedua adalah bunsu atau guru agama. Sementara yang paling atas yakni haksu atau pendeta. Menurut Oesman Arif, haksu yang juga dosen pengampu mata kuliah Bahasa Mandarin di Universitas Sebelas Maret (UNS) dan pengampu mata kuliah Filsafat di UGM ini, Haksu Thjie Tjay Ing lebih dari sekadar haksu.

Bisa dibilang, Haksu Thjie Tjay Ing adalah gurunya haksu dan sumber agama Konghucu di Indonesia, ujarnya saat ditemui Espos di rumahnya, Jl Kartika, Ngoresan, Solo, Rabu (3/1). Menurut Oesman, hal itu terlihat dari totalitas luar biasa pengabdian dan konsistensi Haksu Tjay Ing dalam pengembangan Konghucu. Haksu Tjay Ing juga sepenuh hati menjalankan ajaran Nabi Khongcu itu. Dengan telaten dan cermat, lanjut Oesman, Haksu Tjay Ing menerjemahkan semua kitab-kitab Konghucu ke bahasa Indonesia. Lalu menjabarkan maknanya agar lebih mudah dipahami sehingga hasil terjemahannya memang mencerminkan apa yang terkandung sebenar-benarnya dalam kitab.

Tak lupa, Haksu Tjay Ing terus produktif menulis artikel baik mengupas soal kitab maupun dihubungkan dengan problematika masa kini. Tanpa kenal menyerah, bahkan kondisi sakit pun tak menjadi penghalang bagi Haksu Tjay Ing untuk menulis, ujar lelaki 56 tahun ini. Karena itulah, kata Oesman, Haksu Tjay Ing sangat berpengaruh terhadap perkembangan agama Konghucu di Indonesia. Semua haksu yang ada di Indonesia sekarang, tidak ada yang tidak ngangsu kaweruh kepada Haksu Thjie Tjay Ing. Itu jua sebabnya, lewat pengabdian-pengabdian masyarakat pun, banyak yang memberikan apresiasi tinggi terhadap Haksu Tjay Ing. Tak hanya dari Confusian saja, melainkan juga dari pemeluk berbagai agama. Tak heran Haksu Tjay Ing juga dijuluki tokoh lintas agama, jelasnya.

Kutu Buku yang tidak pernah marah

Dalam ingatan Purwani, ada dua hal yang begitu lekat dengan sosok Haksu Thjie Tjay Ing. Pertama kutu buku dan kedua tidak pernah marah, ujar murid Thjie Tjay Ing saat duduk di bangku SD ini. Kini Purwani adalah seorang Bunsu di SD dan SMP Tripusaka. Dia menerima kehadiran Espos awal pekan lalu juga di Tempat Ibadah Agama Konghucu Litang di Jl Drs Yap Tjwan Bing 15 alias Jl Jagalan 15 Solo yang juga tempat Haksu Tjay Ing tinggal. Menurut Purwani, Haksu begitu ia biasa memanggil selalu memanfaatkan hampir setiap waktu luangnya untuk membaca, selain juga menerjemahkan buku-buku beraksara dan berbahasa Cina atau Inggris ke bahasa Indonesia. Sekalipun penglihatannya tak lagi setajam kala muda, tetap saja kegilaannya membaca tak berkurang sedikit pun jua. Selain itu, kata Purwani, sejak dirinya mengajar di SD dan SMP Tripusaka mulai tahun 1976, ia tak pernah melihat Haksu marah. Meskipun, lanjutnya, jelas-jelas misalnya, sejumlah pengurus di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Solo membuat kesalahan. Seperti misalnya melalaikan tugas khotbah ataupun tidak datang saat kegiatan-kegiatan tertentu.

Haksu menanggapinya dengan biasa saja dan tetap semangat meskipun bekerja sendiri, tuturnya. Haksu, menurut Purwani juga sosok yang sangat rendah hati dan nrima. Purwani ingat, sekitar tahun 1977, selain mengampu mata kuliah Agama Konghucu di Universitas Gadjah Mada (UGM), Haksu kadang kala juga mengajar di SMA Tripusaka. Biasanya, saat mengajar di SMA, Haksu selalu berangkat dengan mengendarai sepeda onthel. Suatu ketika, sepulang mengajar ternyata sepeda onthel-nya raib.

Tak banyak mengeluh, Haksu pun berjalan kaki dari sekolah sampai ke rumah. Sesampai di rumah, raut wajah yang ditunjukkannya pun juga biasa saja. Tak ada guratan rasa gela sedikit pun kalau sepedanya hilang, kenangnya. Termasuk, lanjutnya, setiap sepekan sekali hingga 2004 lalu, Haksu juga masih bersedia bolak-balik mengajar di UGM naik bus sejak tahun 1968. Dalam hidup sosial kemasyarakatan, kata Purwani, Haksu juga dikenal merakyat dan tak pernah keberatan dijadikan tempat curahan hati maupun kegalauan warga sekitar. Makanya, puluhan tahun Haksu masih jadi ketua RW, ungkapnya.

Sumber dari : http://tokohsurakarta.com/index.php?option=com_content&view=art...
Sumber dari : http://www.spocjournal.com/berita/271-xs-tjie-tjay-ing-pejuang-khonghucu.html

Sisi-Sisi Utama Orientasi Spiritual Konfusian

Penulis : Tan Sudemi

LATAR BELAKANG
Modal utama dalam menghadapi kehidupan dan penghidupan adalah proses belajar. Dengan belajar mampu mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Proses belajar banyak menuntut realita berpikir, sebagai ilustrasi, kalau proses belajar diumpamakan bermain catur maka berpikir yaitu bagaimana memenangkan pertarungan agar menjadi pemenang. Belajar tanpa berpikir adalah bermain catur yang tidak mengenal teori strategi permainan dan berpikir tanpa belajar adalah keinginan memenangkan pertarungan tetapi tanpa pernah belajar rutin bermain catur, sulit untuk memenangkannya. Artinya haruslah mengerti hakekat masalah yang dipelajari dan perlu didasarkan pada kenyataan. Andaikata mengerti berlakulah sebagai orang yang mengerti.

Namun menurut hemat saya pada dasarnya belajar itu harus membutuhkan landasan yang kuat menggunakan benih-benih kebajikan yakni cinta kasih (ren), kebenaran (yi), susila (li), bijaksana (zhi) dan dapat dipercaya (xin), yang dapat menangani, memecahkan kendala yang tepat dan tidak menyeleweng.

Mempelajari tradisi penganut Konfusian di Asia Timur bukan hanya merupakan sebuah komitmen akademis dalam posisi sebagai sejarawan intelektual professional, tetapi juga merupakan penelusuran pribadi dari sebuah refleksi seorang manusia. Ungkapan itu terucap oleh Prof. Tu Wei Ming, seorang ahli sejarah China dan Filsafat Konfusianisme dari Harvard University, Amerika Serikat.

Menurut Tu Wei Ming, cara terbaik menggambarkan Konfusianisme adalah sebagai cara pembelajaran menjadi manusia. “Tidak seperti hewan, manusia terus menerus membentuk dirinya melalui pembelajaran, melalui interaksi dengan sesama manusia.

Tu Wei Ming menyebutkan proses menjadi manusia mengandung empat dimensi pertanyaan yang harus dijawab.
  1. Pertanyaan dalam diri kita sendiri, bagaimana mengintegrasikan hati dan pikiran dengan tubuh dan jiwa
  2. Bagaimana sebagai individu dapat berinteraksi secara bermanfaat di tengah komunitas baik dengan keluarga, masyarakat, bangsa hingga komunitas global.
  3. Bagaimana menjalin hubungan berkelanjutan dan bermanfaat atau hubungan harmonis dengan alam dalam arti luas
  4. Bagaimana membangun kebersamaan antara jiwa dan pikiran dengan alam surgawi.
Kempat dimensi itu member pemahaman kepada pandangan humanistik Konfusian. Pandangan humanistik Konfusian ini bukan humanism secular melainkan agama dalam pemahaman yang mendalam. Bisa dikatakan sebagai panduan hidup dan tentu saja sebagai etika social demikian dikatakan Tu Wei Ming.[1]

Menurut Tu Wei Ming, “Fokus perhatian ajaran Khonghucu adalah bagaimana kita belajar menjadi manusia yang sebenarnya. Pemikiran Konfusian berorientasi humanistik dan mengajarkan pandangan hidup yang humanis. Semua umat manusia mesti secara sadar belajar manusia.” [2] hal ini menunjukkan sebuah komitmen usaha umat manusia menciptakan suatu keharmonisan dan pendekatan yang humanis hingga mencapai pendekatan yang holistik.

Menurut Tu Wei Ming, proses pembelajaran untuk mencapai manusia yang sebenarnya atau Jun zi melalui tiga hal yakni :
  1.  Ajaran Khonghucu mengatakan bahwa belajar menjadi manusia tidak terjadi begitu saja. Proses tersebut melibatkan keputusan komitmen pribadi. Tanpa ada semacam usaha secara sadar, kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tidak akan mungkin dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri kita. Kita harus menyakinkan diri kita sendiri pada proses pembelajaran secara moral dan spiritual untuk menjadi manusia sebagai titik awal memulai hidup yang panjang menuju manusia yang seutuhnya.
  2. Proses pembelajaran berkesinambungan. Proses tersebut tidak dipahami sebagai sebuah proyek atau program yang dapat mencapai kesempurnaannya pada kurun waktu tertentu. Dan dipahami penganut kaum Konfusian, bahwa proses pembelajaran menjadi manusia tidak pernah berakhir.
  3. Proses tersebut bersifat holistik. Belajar menjadi manusia bukanlah sesederhana mempelajari satu ketrampilan profesi tertentu atau menjadi professional dalam satu tugas tertentu. Kita tahu benar bahwa menjadi seorang musisi atau artis itu melibatkan banyak akuisisi dan teknik yang baik. Pencarian talenta musik atau keartisan tentunya memerlukan seleksi kepribadian. Sebagai bahan bandingan, belajar menjadi manusia seutuhnya memerlukan sebuah transformasi kepribadian secara total dalam hal etika dan keberagaman. [3]
Intinya adalah bahwa proses pembelajaran untuk mencapai manusia yang bersifat Jun zi, perlu kesabaran dan melatih diri terus menerus dan belajar tidak hanya dari kitab suci saja melainkan juga dari manusia, hewan maupun alam semesta, seperti yang disabdakan Nabi Kongzi : “Di dalam belajar hendaklah seperti engkau tidak dapat mengejar dan khawatir seperti engkau akan kehilangan pula.” (Lun Yu VIII:17) “Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan?” (Lun Yu I:1)

Belajar merupakan bentuk dari pembinaan diri untuk menjadi seorang yang bersifat Jun zi.  Bagaimana hubungan belajar  untuk menjadi manusia Jun zi antara manusia dan Tian ?

“…..Seorang Jun zi tidak boleh tidak membina diri, bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orang tua, bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal kepada Tian (Tuhan Yang Maha Esa)”. (Zhong Yong XIX:7)

Sebuah hubungan spiritual yang mana ditegaskan oleh Nabi Kongzi, bahwa seorang Jun zi, wajib untuk belajar untuk peningkatan dan perbaikan moral dalam bentuk pembinaan diri. Pembinaan diri merupakan wujub bakti kepada orang tua, namun sikap seorang Jun zi, harus berlandaskan cinta kasih kepada sesama, yang semuanya bermuara kepada dan kembali kepada Tian. Demikian sabda Nabi Kongzi : Jangan khawatir orang lain tidak mengenal dirimu, khawatirlah kalau kamu tidak mengenal siapa mereka.

Jalan Suci itu tidak boleh terpisah biar sekejappun. Yang boleh terpisah, itu bukan Jalan Suci. Maka seorang Jun zi hati-hati kepada Dia (Tian) yang tidak kelihatan, khawatir takut kepada Dia yang tidak terdengar. (Zhong Yong I:2)

BELAJAR MENJADI MANUSIA
Ciri khusus pendekatan tradisi Konfusian terhadap pembangunan manusia adalah Pendidikan dalam bentuk belajar. Belajar demi diri sendiri, belajar yang berkelanjutan demi mendapatkan pengetahuan tentang diri sendiri secara mandiri.(Tu Wei Ming).[4]

Di zaman Nabi Kongzi mengajar bahwa belajar itu bukan untuk tujuan mendidik setiap orang menjadi pintar. Belajar yang diutamakan adalah peningkatan moral, belajar untuk memperbaiki diri. Jika kita berbuat salah diri kita harus berani untuk memperbaikinya demikian ditekankan oleh Nabi Kongzi. Belajar menjadi pintar adalah urutan selanjutnya. Kejujuran dan ketulusan hati tidak bisa di didik  dalam satu hari melainkan melalui tahapan-tahapan yang kita lalui dengan belajar. Di zaman sekarang pendidikan diutamakan untuk mendidik orang menjadi pintar sementara peningkatan moral diabaikan. Para siswa ditekan untuk mengejar nilai, hasilnya adalah kita mengeluarkan suatu produk manusia yang pintar tetapi tak bermoral. Gayus Tambunan, Cirus, adalah contoh manusia-manusia pintar tetapi memiliki kualitas pendidikan moral yang rendah sehingga mereka berani melakukan korupsi dengan mengabaikan nilai-nilai moral.
Orang bodoh untuk mendidiknya menjadi pintar itu tidaklah sulit tetapi mendidik setiap orang menjadi jujur tidak bisa dalam satu hari. untuk menjadi jahat anda hanya butuh waktu satu detik, untuk menjadi orang baik anda butuh waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk suatu proses peningkatan moral.

Belajar itu tidak hanya untuk menambah pengetahuan positif seperti peningkatan ketrampilan maupun akademik tetapi belajar juga dengan membaca kitab untuk peningkatan moral diri dan belajar-belajar terus menerus tanpa henti. Tentu saja belajar bukan asumsi untuk membaca buku saja tetapi belajar untuk memperbaiki diri setiap hari dengan terus menerus dari hari ke hari dengan tujuan agar lebih baik dari hari-hari sebelumnya. [5]

Nabi Kongzi bersabda : “ Seorang yang tiap hari dapat mengetahui pelajaran-pelajaran yang belum difahami dan tiap bulan tidak melupakan pelajaran-pelajaran yang sudah dipahami, ia boleh dikatakan suka belajar.” (Lun Yu XIX : 5). Orang bodoh untuk mendidiknya menjadi pintar itu tidaklah sulit tetapi mendidik setiap orang menjadi jujur tidak bisa dalam satu hari. untuk menjadi jahat anda hanya butuh waktu satu detik, untuk menjadi orang baik anda butuh waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk suatu proses peningkatan moral.

Belajar biasanya tidak berarti pengumpulan fakta bagi dirinya sendiri. Belajar mengandung arti pengumpulan pengetahuan untuk kepentingan membimbing tingkah laku seseorang. Oleh karena itu seorang yang telah menunjukkan dirinya telah mempelajari pelajaran moral tertentu telah dapat disebut sebagai “orang yang senang belajar”, bahkan apabila ia sama sekali bukan kutu buku. Kata hsueh, yang biasanya diterjemahkan “belajar” atau “mempelajari” sering mempunyai arti pelajaran dan peniruan teladan moral. Kongzi sendiri kemudian dianggap sebagai teladan moral yang merupakan objek hsueh (pelajaran dan peniruan) yang tepat. [6]


Nabi Kongzi bersabda : ”Seorang Jun-zi menggunakan pengetahuan kitab untuk memupuk persahabatan dan dengan persahabatan mengembangkan Cinta Kasih”. (Lun Yu XII : 24). Belajar itu tidak hanya untuk menambah pengetahuan positif seperti peningkatan ketrampilan maupun akademik tetapi belajar juga dengan membaca kitab untuk peningkatan moral diri dan belajar-belajar terus menerus tanpa henti. Tentu saja belajar bukan asumsi untuk membaca buku saja tetapi belajar untuk memperbaiki diri setiap hari dengan terus menerus dari hari ke hari dengan tujuan agar lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bila kita sudah banyak membaca, sudah mengetahui tentang nilai-nilai kebajikan, sudah banyak belajar namun tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sia-sialah makna belajar itu. Untuk apa kita banyak banyak kalau pembelajaran ini tidak bisa dimanfaatkan untuk mengemban Jalan Suci Tuhan, berbakti kepada orang tua, tidak hormat kepada yang lebih tua, tidak bisa memegang janji, tidak memiliki cinta kasih kepada sesama dan tidak bisa menjadi orang yang arif bijaksana. Nabi Kongzi bersabda : “Orang sejak lahir sudah bijaksana inilah orang tingkat teratas. Orang yang belajar lalu bijaksana ialah orang tingkat kedua. Orang yang setelah menanggung sengsara lalu insaf dan mau belajar inilah orang tingkat ketiga. Dan orang yang sekalipun sudah menanggung sengsara, tetapi tidak mau insaf untuk belajar, ialah orang yang paling rendah diantara semua manusia.” (Lun Yu XVI:9)

KEDUNIAWIAN
Keputusan eksistensi untuk tidak lari dari dunia tetapi menenggelamkan diri di dalam urusan sosial, ekonomi, politik, memaksa seorang Konfusian untuk terus berinteraksi dengan mereka yang berkuasa dengan isu-isu duniawi yang sekuler. Dengan pengertian yang kuat mengenai tanggung jawab moral dengan perngertian tragedi kemanusiaan, seorang Konfusian sejati seperti Konfucius, melakukan apa yang sebenarnya mereka tahu tidak bisa dilakukan. Cara yang berhasil mendekati dimensi Konfusian yang sangat penting namun sering disalahpahami ini adalah meneliti secara detail bagaimana Konfusian dengan sungguh-sungguh mendefinisikan dirinya dalam hal-hal semacam itu. (Tu Wei Ming) [7]
Nabi Kongzi menganggap bahwa Tian Yang Maha Memberi mencukupi manusia yang lahir ke dunia dengan suatu daya hidup atau bekal moral dan intelektual yang cukup. Bakat moral dan intelektual itu harus dikembangkan dengan belajar melalui proses membina diri yang dilakukan secara sistematis dan bertahap. Kita harus mengetahui mana yang harus didahulukan dan mana yang boleh dikemudiankan. Harus jelas mana tujuan dan mana hasil, atau mana yang pangkal dan mana yang akhir. 

Pada zaman Nabi Kongzi hidup, di daratan Tiongkok ada sekelompok golongan yang menyebut diri mereka sebagai kaum Tao, mereka hidup mengasingkan diri dan jauh dari hiruk pikuk persoalan dunia. Mereka menganggap kehidupan dunia sebagai kehampaan dan menyatu dengan alam. Nabi Kongzi menganggap bahwa hanya ada satu garis saja yaitu garis dari manusia menuju Tian melalui manusia. Mengabdi kepada Tian itu dilakukan dengan mengabdi manusia. Memahami yang akhirati itu caranya dengan memahami yang duniawi.

Dialog berikutnya di dalam Analek memperlihatkan dengan jelas pilihan eksistensialnya untuk berpartisipasi di dalam persahabatan manusia, meskipun pemikiran untuk melepaskan dirinya dari dunia tidak hanya sebuah kemungkinan yang riil tetapi juga godaan yang terus menerus.[8]  (Saya akan menyesuaikan teks dialog ini dengan Kitab Suci agama Khonghucu terjemahan terbitan MATAKIN pada Lun Yu XVIII : 6 )
Ch’ang-shu dan Chieh-ni mengerjakan sawahnya. Nabi Kongzi melewati mereka lalu menyuruh Tzu-lu (murid Nabi Kongzi) untuk bertanya kepada mereka di mana bisa menyeberangi sungai. Ch’ang-shu berkata, “Siapakah yang memegang kendali kuda di kereta itu”
Tzu-lu menjawab, “K’ung Chi’u (nama kecil Nabi Kongzi)”. Ch’ang-shu berkata lagi, “Apakah ia, K’ung Chi’u dari negeri Lu (Negara asal Nabi Kongzi)?”
“Benar!”, jawab Tzu-lu. “Kalau begitu ia telah tahu di tempat mana sungai itu bisa diseberangi!” Tzu-lu bertanya pada Chieh-ni. Chieh-ni berkata, “Siapa Anda, Tuan?” Tzu-lu menjawab,”Aku Chung-yu (nama kecil Tzu-Lu)”. “Apakah Anda pengikut K’ung Chi’u dari Negeri Lu?”


“Benar.” Chieh-ni berkata, “Banjir sudah melanda segala sesuatu di dunia ini, siapakah yang dapat memperbaikinya? Daripada engkau mengikuti orang yang hendak menyingkiri orang-orang jahat dengan pergi ke tempat-tempat lain, bukankah lebih baik mengikuti mereka yang meninggalkan dunia sama sekali?” Lalu, ia meneruskan pekerjaannya. Tzu-lu pergi ke Nabi Kongzi dan menceritakan pembicaraannya. Nabi Kongzi merenung sesaat dan bersabda, “Kita manusia, tidak dapat hanya hidup bersama burung dan hewan. Bukankah Aku ini manusia? Kepada siapakah Aku harus berkumpul? Kalau dunia dalam Jalan Suci, Aku tidak usah berusaha memperbaikinya.”


Dialog ini dengan jelas menggambarkan perjumpaan dua pendekatan yang sangat berbeda terhadap hidup. Pertapa Ch’ang-shu dan Chieh-ni memilih meninggalkan tanggungjawab sosial dan “meninggalkan dunia sama sekali”. Konfusius tampak menyetujui penilaian mereka mengenai kondisi objektif zaman kala itu: “seluruh dunia seolah-olah tersapu oleh banjir bah”. Namun keputusan pribadinya mengenai bagaimana menghadapi kekacauan zaman sangatlah berbeda dari kebanyakan orang. Penganut Tao berusaha mengembangkan “negeri suci”  sehingga mereka bisa menikmati ketenangan pribadi dan persatuan dengan alam. Mereka melihat dengan sinis orang-orang seperti Konfusius yang berusaha dengan putus asa dan selalu gagal untuk membenarkan kesalahan dunia. Keputusan Ch’ang-shu dan Chieh-ni untuk memutus hubungan dengan umat manusia penuh dengan implikasi etik dan spiritual yang jauh. Dalam pandangan mereka, satu-satunya harapan bagi kesempurnaan pribadi di zaman kekacauan adalah mengingkari masalah dunia dan “memelihara tamannya sendiri”. Ucapan Ch’ang-shu yang tampak sarkastik tentang Konfusius menandakan bahwa dalam pengertian yang lebih jauh, sungai, “banjir bah yang menyapu seluruh dunia”, terlalu berbahaya untuk diseberangi. Konfusius mengetahui apa yang dipilih untuk dilakukan oleh para pengkritiknya dari kelompok Tao.[9]

Bagi Nabi Kongzi, Negara merupakan suatu keluarga besar yang dikelola oleh penguasa, yang mendapat mandat dari Tuhan atau Tian Ming sebagai Putra (wali) Tuhan atau Tian zhu, yang memerintah segenap manusia dan alam yang bersamanya untuk menegakkan Jalan Suci Tian (Tian Tao). Nabi Kongzi bersabda,”Diantara makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia kedudukannya dibawah kolong langit adalah manusia”. Bagi Nabi Kongzi, ditakdirkan sebagai manusia, tidaklah boleh disia-siakan, Nabi Kongzi, yang mendapat misi dari Tuhan merasa wajib melaksanakan tanggungjawab moral untuk meluruskan kerusakkan akhlak manusia. Nabi Kongzi bersabda, “Aku pernah sepanjang hari tidak makan dan sepanjang malam tidak tidur merenungkan sesuatu. Itu ternyata tidak berguna, lebih baik belajar.” (Lun Yu XV:31) Inilah adalah jawaban sikap Nabi Kongzi terhadap para pertapa yang mengasingkan diri terhadap kehidupan duniawi, meski demikian Nabi Kongzi tidaklah antipati terhadap secara ekstrim namun memiliki toleransi terhadap perbedaan keyakinan pada kelompok-kelompok petapa, seperti disabdakan Nabi Kongzi “Kalau kita berbeda Jalan Suci, mari kita tempuh Jalan Suci masing-masing”. Nabi Kongzi menyadari betul akan kerusakan akhlak manusia yang tidak mudah diperbaiki semudah membalikan telapak tangan, seperti sindiran pengikut Tao, Banjir sudah melanda segala sesuatu di dunia ini, siapakah yang dapat memperbaikinya?

Dalam konteks belajar adalah bagaimana kita mendekatkan diri kepada Tian, agama merupakan sebuah sikap dan prilaku untuk proses perbaikan diri. Bagaimana proses untuk mendekatkan diri kepada Tian, melalui belajar untuk memperbaiki diri. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan di kanan kiri kita!  (Zhong Yong XV:3). Berpuasa dalam hal ini dilakukan dengan cia chai (hanya makan makanan tanpa daging, sayuranis), dalam menjalankan puasa ini umat Khonghucu harus memperhatikan sikap dan prilaku. Yang tidak susila jangan dilihat, yang tidak susila jangan didengar, yang tidak susila jangan dibicarakan dan yang tidak susila jangan dilakukan.(Lun Yu XII:1)

Lalu apa yang harus dilakukan? melalui institusi Pendidikan itulah Nabi Kongzi mendidik semua murid-muridnya untuk mengembangkan Jalan Suci, seperti disabdakan Nabi Kongzi Ada pendidikan tidak ada perbedaan. Nabi Kongzi sangat berharap agar murid-muridnya bisa berkiprah di tengah-tengah masyrakat maupun dalam pemerintahan. Dalam sejarahnya, Nabi Kongzi dianggap guru pertama bagi kaumnya yang hidup didaratan Tiongkok, sebab Nabi Kongzi bersedia menerima murid dari kalangan rakyat jelata, semua murid dari segala lapisan baik  kaya maupun miskin. 
Ji Kang Zi bertanya tentang pemerintahan kepada Nabi Kongzi. Nabi Kongzi bersabda, “Makna memerintah ialah meluruskan. Bila kamu menjadi pelopor berbuat lurus, siapakah berani berbuat tidak lurus?”
Ji Kang Zi bertanya tentang pemerintahan kepada Nabi Kongzi, “Bagaimana bila dibunuh orang-orang  yang inkar dari Jalan Suci, untuk mengembangkan Jalan Suci?”

Nabi Kongzi menjawab, “Kamu memangku jabatan pemerintahan mengapa harus membunuh? Bila kamu berbuat baik, niscaya rakyat akan mengikuti baik. Kebajikan seorang pembesar laksana angin, dan kebajikan rakyat laksana rumput; ke mana angin bertiup, ke situ rumput mengarah!”

TRANSENDENSI DALAM IMANENSI
Meski Konfusius memiliki orientasi spiritual duniawi, ia tidak semata-mata peduli dengan perbaikan tatanan sekuler. Menggolongkan Konfusius sebagai pembaharu sosial seolah-olah sederhana. Misi Konfusius memiliki dimensi transenden. Ide bahwa Jalan manusia didukung oleh Langit menyiratkan bahwa keduniawian Konfusius sangatlah religius. (Tu Wei Ming) [10]
Petugas perbatasan Yi memohon bertemu dengan Nabi Kongzi dan berkata,”Setiap ada seorang Jun zi yang lewat ke tempat ini, aku tidak pernah tidak menemuinya.”

Oleh para murid ia dipersilakan menemui Nabi Kongzi. Setelah keluar, ia berkata, “Saudara-saudaraku, mengapa kalian bermuram durja karena kehilangan kedudukan? Sudah lama dunia ingkar dari Jalan Suci, kini sungguh Tian telah menjadikan Guru selaku Mu Duo (lidah kayu) untuk membunyikan lonceng. (Lun Yu III:24)
Mu Duo (Bok Tok) adalah genta logam dengan lidah kayu sebagai pemukulnya; pada awalnya dikenal di zaman kaisar Oey Tee, dan digunakan sebagai alat memanggil manusia beribadah kehadapan Tian. Kemudian diperluas penggunaannya (dalam cakupan yang lebih kecil) untuk dipergunakan para utusan raja mencanangkan maklumat raja untuk rakyatnya. Namun yang paling menonjol adalah pada zaman Bun Ong ( Wen Wang) dan kemudian disahkan dipakai oleh para raja Dinasti Ciu (Chou) untuk isyarat panggilan beribadah kehadapan Tuhan di Pak Thang (Aula peribadatan kehadapan Tian di utara), sekaligus fungsinya sebagai alat memberitahu akan maklumat raja tetap dilestarikan.

Maka makna dari Lun Yu III:24 sungguh Tian telah menjadikan Guru selaku Mu Duo:
“Nabi Kongzi diturunkan bukan tanpa makna, namun ditugaskan untuk menetapkan hukum agar kehendak Tuhan terungkap”. Demikianlah Nabi Kongzi sebagai Mu Duo menetapkan hukum melalui ajaran-Nya agar kehendak Tuhan terungkap pada umat manusia.
Orang  sering meremehkan Nabi Kongzi hanya karena pernah berujar : “Aku hanya meneruskan, tidak mencipta.” (Lun Yu VII:1). Namun sesungguhnya inilah kebenaran yang agung. Benar Nabi Kongzi bukan pencipta, bukan hanya saja Beliau melengkapi dari rangkaian wahyu para pendahulunya,  juga sesungguhnya sang pencipta ada pada pemberi wahyu tersebut : Dialah, Tian, itu sendiri. Namun benar agama Khonghucu adalah sebutan kemudian atas Agama Ru Jiao, tidaklah berarti mengecilkan Nabi-nabi sebelumnya. Nabi Kongzi sendiri adalah seorang umat Ru Jiao, mengapa menjadi agama Khonghucu, hal itu terjadi karena mengikuti tradisi Barat, yang menganggap tokoh agama adalah pendiri agama itu sendiri. Penegasan Nabi Kongzi akan hal ini bisa disimak dalam kitab suci :
Kitab Lee Ki Bab 41, Nabi Kongzi menerangkan prilaku seorang umat Ru Jiao kepada Pangeran Ay. Kitab Lun Yu VI:13, Nabi Kongzi menasehati muridnya Cu He agar membina diri menjadi umat Ru yang berwatak Jun Zi.

Tian telah memilih Nabi Kongzi sebagai utusan-Nya untuk memperbaiki kemerosotan akhlak manusia, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Kongzi, ditengah-tengah usaha untuk mencelakakan dirinya, Nabi Kongzi menguatkan keyakinan murid-muridnya, bahwa Tian akan senantiasa melindungi :
Nabi Kongzi terancam bahaya di Negeri Kuang. Beliau bersabda ,”Sepeninggal Raja Wen, bukankah kitab-kitabnya, Aku yang mewarisi?”
“Bila Tian, hendak memusnahkan kitab-kitab itu, Aku sebagai orang yang lebih kemudian, tidak akan memperolehnya. Bila Tian tidak hendak memusnahkan kitab-kitab itu, apa yang dapat dilakukan orang-orang Negeri Kuang atas diriku? (Lun Yu IX:5)
Nabi Kongzi bersabda, Tian telah menyalakan Kebajikan dalam diriku. Apakah yang dilakukan Huan Tui atas diriku?” (Lun Yu VII:23)

Sebagaimana disabdakan Nabi Kongzi, kalau kamu mau mengabdi kepada manusia kamu harus mengenal Tian, karena Tian adalah sumber dari segala sumber, Tian telah memberkahi benih kebajikan kepada manusia, sebelum terlahir ke dunia ini, demikian dikatakan Mengzi  Watak sejati manusia pada dasarnya baik, Tian lah yang memberkali manusia dengan benih-benih kebajikan sebagai Jalan untuk mengenal manusia. “Cinta kasih itulah Hati Manusia. Kebenaran itulah Jalan Manusia. “Kalau Jalan itu disia-siakan dan tidak dilalui. Hatinya lepas tidak tahu bagaimana mencarinya kembali”. (Mengzi VIA:11). Dalam kehidupannya Nabi Kongzi, percaya bahwa tidak ada yang lebih mengenal dirinya sebaik-baiknya selain, Tian itu sendiri.

Belajar dan dilatih tidakkah itu menyenangkan?, teman-teman datang dari tempat yang  jauh tidakkah itu membahagiakan?, sekalipun orang tidak mau tahu,Aku tidak menyesali. 
“Aku tidak menggerutu Kepada Tian, tidak pula menyesali manusia. Aku hanya belajar dari tempat rendah ini, terus maju menuju tinggi, Tian lah mengerti diriku.” (Lun Yu XIV:35)



[1] Harian Kompas tanggal 21 Mei 2005. Tu Weiming, Panduan Hidup Konfusian Itu…
[2] Tu Weiming. Penerjemah.Zubair. Etika Konfusianisme. (Jakarta : Teraju, 2005).h.6
[3] ibid.6
[4] Tu Weiming. Jalan Sutera Dialog Peradaban kumpulan Esai Neo-Konfusianisme dalam Budaya China. (Jakarta : Mizan,2013).h.127
[5] Artikel pendek ini saya tulis di blog saya sendiri : konfusiani.blogspot.co.id dengan judul Belajar Hingga Akhir Hayat
[6] Raymond Dawson. Penerjemah Y.Joko Suyono. Konghucu Penata Budaya Kerajaan Langit. (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1992).h.16
[7] Tu Weiming. Jalan Sutera Dialog Peradaban kumpulan Esai Neo-Konfusianisme dalam Budaya China. (Jakarta : Mizan,2013).h.129
[8] ibid.130
[9] ibid.131