Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi

Dinasti Han Periode Perkembangan Agama Khonghucu

Penulis : Tan Sudemi

“Sepeninggal Raja Wen, bukankah kitab-kitabnya Aku yang mewarisi?”
“Bila Tian Yang Maha Esa, hendak memusnahkah Kitab-kitab itu, Aku sebagai orang yang lebih kemudian, tidak akan memperolehnya. Bila Tian tidak hendak memusnahkan Kitab-kitab itu, apa yang dapat dilakukan orang-orang negeri Kuang atas diriKu?” (Lun Yu IX : 5)

1.      Latar Belakang
Setelah wafatnya Nabi Agung Kongzi, Ru Jiao (agama Khonghucu) dilanjutkan penyebarannya oleh murid-murid Nabi Kongzi. Karena jarak yang memisahkan dan terutama sekali oleh kurangnya pendalaman akan makna hakiki dari ajaran suci ini yang kemudian muncul beratus aliran[1]beserta berbagai tafsiran. Periode ini merupakan pengalihan zaman Chun Qiuatau Zaman Musim Semi dan Musim Rontok (722 SM-476 SM) yang merupakan masa menurunnya kekuasaan dan kewibawaan Dinasti Zhou ke tangan raja muda pemimpin kepada zaman Zhan Guoatau Zaman Perang Antar Negara (476 SM-221 SM) yang memunculkan tujuh kekuatan negara (Qi, Yan, Zhao, Wei, Han, Chu, Qin) yang terus saling berperang dan tidak lagi mengakui kekuasaan Dinasti Zhou.Di antara ketujuh negara, Negeri Jin adalah negeri yang paling kuat dan agresif yang ingin menaklukan keenam negara tersebut.

Dalam zaman yang diliputi kegelapan dan penderitaan ini ternyata Tian tidak menghendaki ini berlarut dengan segala kerusakan dalam agama Khonghucu dan Tian telah menurunkan Mengzi (372 SM-289 SM) yang menegakkan dan meluruskan kembali kemurnian ajaran suci agama Khonghucu.Mengzi menerima bimbingan agama ini dari ibunya dan dari ajaran salah satu seorang murid Zi Si, cucu Nabi Kongzi yang menjadi murid Zeng Zi.Mengzi memberikan penegasan dan penglurusan dari ajaran suci agama Khonghucu.Pada akhirnya agama Khonghucu terselamatkan dari penyimpangan dan penyelewengan dari kemurniannya.

Pada masa Chan Guo ini muncul seorang tokoh patriotisme dan sastrawan yang bernama Chu Yuan (Khut Gwan)yang mencintai tanah airnya.

Chu Yuan (Khut Gwan) ialah seorang menteri besar dan setia dari negeri Chu (Cho), beliau seorang tokoh yang paling berhasil menyatukan keenam negeri itu untuk menghadapi negeri Jin (Chien). Karena itu orang-orang negeri Jin (Chien) berusaha menjatuhkan nama baik Chu Yuan (Khut Gwan). Mereka berhasil meretakkan hubungan Chu Yuan dengan Rajamuda Negeri Chu (Cho). Chu Yuan (Khut Gwan) di pecat dan dihukum buang ke wilayah lain. Pada akhirnya Negeri Chu (Cho) berhasil ditaklukan Negeri Jin (Chien).Ketentraman Khut Gwan dihancurkan oleh berita binasanya ibukota Negeri Chu.Khut Gwan kemudian mengakhiri hidupnya di sungai Miluo (Bik Loo).Chu Yuan (Khut Gwan) meninggal tepat pada hari Twan Yang.[2]Setiap hari Suci Twan Yang[3] yang jatuh pada tanggal 5-5 Imlek, umat Khonghucu juga memperingati dan mengenang jasa-jasa baik Chu Yuan (Khut Gwan).

Sesudah Mengzi wafat muncul tokoh lain ialah Xunzi (Suncu)[4], seorang cendekiawan yang cerdas, berpengetahuan luas, banyak pengalaman dan pengagum Nabi Kongzi. Namun Xunzi lebih menekankan perhatiannya pada pemecahan masalah politik dalam menghadapi kemelut pada zaman itu daripada masalah spiritual.

Kaisar terakhir Dinasti Zhou adalah Ji Yan yang bergelar Nanwang memerintah tahun 314-256 SM. Kaisar sendiri, seorang keturunan yang lemah dan tidak berarti dari keluarga Zhou yang budiman,dan akhirnya menjadi penakut.

Sepanjang 59 tahun pemerintahannya (314 SM-256 SM), ia berulang kali mengubah posisi aliansinya. Ketika raja Zhao dari Qin berhasil merebut kota Yangcheng dari Han pada tahun 256 SM, raja Nanwang yang ketakutan mengubah posisinya menjadi mendukung Aliansi Anti-Qin dan memutus hubungan antara Yancheng dengan negeri Qin. Raja Qin yang mengetahui hal ini menjadi marah dan memerintahkan agar pasukan Qin menyerang Zhou Barat tempat bertahtanya Raja Nanwang. Mendengar ibukotanya akan diserang, Raja Nanwang  menjadi ketakutan dan buru-buru menuju kota Xianyang untuk memohon ampun dari Qin. Ia berjanji akan menyerahkan 36 kota beserta 30 ribu penduduknya kepada Qin sebagai permohonan maaf. Raja Zhao menerima permohonan itu dan melepaskan raja Nan kembali ke Zhou.[5]

Belakangan, Qin tetap menyerang ibukota Zhou pada tahun 256 SM serta membuang kaisar dan Bangsawan Penguasa Dinasti Zhou Belahan Barat ke Lingxian yang terletak di Provinsi Henan sekarang.Kaisar Zhou Nanwang serta Bangsawan Penguasa Dinasti Zhou Belahan Barat wafat pada tahun itu juga.Pihak Qin lalu merampas harta pusaka Dinasti Zhou yang berupa 9 bejana perunggu[6]dan mengirimkannya ke Xianyang.Peristiwa ini mengakhiri Dinasti Zhou yang telah berkuasa selama kurang lebih delapan abad.[7]

Dengan kematian Kaisar Nanwang dari Zhou dan dipindahkannya 9 bejana perunggu (Ding) ke Qin, dinasti Zhou dinyatakan berakhir dan penanggalan kemudian beralih kepada penanggalan kerajaan Qin.Meskipun demikian, Periode Negera Berperang belum berakhir sampai pada penyatuan Tiongkok oleh Raja Zheng dari Qin atau Qinshihuang.

Tidak lama kemudian Raja Zhao melakukan pemujaan terhadap Tian dan memohon restu sebagai Tianzhu (Putera Tuhan) dan menyebut dirinya sebagai Kaisar.Rajamuda-rajamuda lainnya marah dan menolak untuk mengakui dirinya sebagai kaisar.

Pada tahun 247 SM, Ying Zheng yang masih remaja naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dunia secara mendadak. Setelah menghabiskan waktu selama 17 tahun, ia akhirnya menerima penyerahan wilayah Negara bagian yang masih tersisa, yaitu Qi. Dengan menyerahnya raja Qi, Ying Zheng secara langsung menjadi penguasa mutlak atas Tiongkok. Wilayahnya membentang luas ke timur sampai utara semenanjung Korea, ke barat sampai ke Lintao (sekarang kecamatan Minxian di Gansu), ke selatan sampai ke pesisir Guangdong (atau bahkan bagian utara Vietnam) dan ke utara sampai Liaodong, (sekarang kota Shenyang di Liaoning). Daerah seluas ini belum pernah dikuasai secara tunggal sejak zaman dinasti Xia sekalipun.[8]

Setelah menaklukan negeri Qi, Yin Zheng menobatkan dirinya sebagai Kaisar Dinasti Qin dengan gelar Shih Huangdi pada tahun 221 SM, ia memerintah dari tahun 221 SM-210 SM. Pada periode Dinasti Qin, agama Khonghucu memasuki babak baru, upaya untuk melenyapkan Ru Jiao (agama Khonghucu) dan tekanan politik terhadap pengikut kaum Ru Jioa.

2.      Berdirinya Dinasti Han
Dikisahkan akibat perebutan kekuasaan di Negeri Lu, menyebabakan kekacauan dan keamanan yang tidak terkendali membuat rakyat hidup sengsara.Nabi Kongzi meninggalkan Negeri Lu menuju Negeri Qi.Dalam perjalanannya Nabi Kongzi beserta murid-muridnya melewati kaki gunung Tai San, mendengar tangisan suara wanita yang sangat memilukan hati.Nabi Kongzi menyuruh Zi Gong untuk mencari dan menemukan wanita itu. Wanita itu menangis di depan makam, ketika ditanya ia menjelaskan bahwa mertuanya, suaminya, dan kini anaknya telah mati diterkam harimau. Dengan terkejut, Zi Gong menanyakan, “Mengapa, Anda tidak meninggalkan tempat ini?” wanita itu menjawab, setidak-tidak ditempat ini, tidak ada pemerintah yang berlaku kejam terhadap kami.Dengan amat menyesal dan terharu Zi Gong meninggalkan wanita itu dan menceritakan hal ini kepada Nabi Kongzi.Nabi Kongzi dengan hati yang pedih bersabda, “Hai, murid-murid-Ku, ingatlah pemerintah yang kejam itu lebih ditakuti daripada buasnya harimau.”

Kaisar Shih Huangdi berhasil menyatukan neger-negeri terpisah menjadi satu Negara, Dinasti Qin.Sistem pemerintah dirubah dari feodalisme menjadi pemerintah terpusat, kerajaan yang semula dipimpin oleh rajamuda, diganti menjadi wilayah provinsi dan dipimpin oleh seorang gubernur. Semua tuan tanah dan petani yang memiliki tanah harus mendaftarkan area tanah yang mereka miliki dan harus membayar pajak kepada pemerintah. Sehingga kepemilikan tanah mereka diketahui dan dilindungi Negara. Kaisar Shih Huangdi juga berhasil menstandarkan sistem pengukuran dan mata uang. Salah satu keberhasilannya adalah menyatukan aksara-aksara yang berbeda menjadi satukesatuan  dan disebarkan ke seluruh negeri. Aksara ini kemudian diteruskan oleh Dinasti Han yang saat ini lebih dikenal sebagai bahasa dan huruf Hanzi atau bahasa Mandarin.Selain itu menstandarkan lebar jalan-jalan dan panjang as roda-roda kereta di perbaiki. Untuk melindungi negra dari serangan suku-suku dari Xiongnu, ia memerintahkan pembangunan tembok raksasa yang menelan korban nyawa tidak sedikit.

Selama masa pemerintahannya, Kaisar Shih Huangdi didampingi oleh seorang Perdana Menteri bernama Li Si.Li Si yang memang anti terhadap pengikut agama Khonghucu menghasut Kaisar Shih Huangdi untuk melenyapkan agama Khonghucu.

Li Si berkata “Kaisar-kaisar dari zaman dahulu tidak begitu bijaksana seperti sangkaan kita. Kerajaan mereka selalu kacau balau dan dalam peperangan. Pemerintahan Baginda sekarang ini adalah lebih baik, karena lihatlah! Kerajaan ini aman, meskipun hanya diperintah oleh seorang saja! Pujangga-pujangga ini terlalu banyak membaca buku-buku kuno, sehingga mereka hanya ingat kepada zaman yang telah silam saja dan tidak dapat melihat waktu sekarang ini! Apa yang dikatakan meraka adalah omong kosong belaka, tetapi dapat menimbulkan keonaran, karena Baginda dicela dimuka umum sebagai raja yang tidak seperti raja-raja di zaman yang lalu. Saya usulkan, supaya semua buku-buku kuno dibakar, dan setiap orang yang membicarakan tentang zaman yang sudah lalu dan mencela keadaan sekarang ini, harus dihukum mati.”[9]

Li Si telah membantu Qin Shih Huangdi menjadi raja besar, tetapi kemudian ternyata ia pula yang telah membantu raja itu di dalam kekalapannya, yaitu melenyapkan segala hasil kebudayaan lama yang diprasangkakan dapat membahayakan cita-cita kerajaan barunya. Di dalam pemerintahan yang bersifat diktator dan totaliter itu ternyata masih ada para Phoksu / Boshi (sarjana dan rohaniwan) Ru Jiao atau Agama Khonghucu yang berani mengeluarkan pendapat dan kritik, bahkan sering terang-terangan; maka Li Si telah mengusulkan dilakukan larangan memiliki dan membaca Kitab-kitab Suci Konfuciani : dilakukan perampasan dan pembakaran Kitab-kitab Suci pada tahun 213 SM. Para Boshi yang berani menentang ditangkap dan dihukum menjadi pekerja paksa membuat tembok besar, bahkan ada 460 orang Boshi pada tahun berikutnya 212 SM dihukum kubur hidup-hidup di ibukota Ham Yang / Xian Yang.[10]

Selama pemerintahan Kaisar Shih Huangdi, rakyat hidup menderita, selain kerja paksa, rakyat pun diwajibkan membayar pajak yang sangat mahal hingga dua pertiga hasil panen, faktor inilah yang mendorong pemberontakan yang dipimpin oleh para petani.

Selama masa pemerintahannya, Kaisar Shih Huangdi banyak melakukan proyek-proyek besar seperti pembangunan Istana Epang, pembangunan Tembok Raksasa untuk menghalau suku-kuku barbar Xiongnu di utara, kaisar mengerahkan 300 ribu pasukan ditambah dengan ratusan ribu rakyat ke utara, tidak hanya itu saja, kaisar juga memerintahkan ratusan ribu penduduk dan para tahanan untuk membangun Mausoleum Lishan, makam Kaisar Shih Hudngdi.

Akibat tekanan yang dirasakan oleh rakyat begitu beratnya kehidupan, timbullah keinginan untuk melakukan gerakan perlawanan dan pemberontakan untuk menggulingkan dinasti Qin, yang digerakan kaum petani.Salah satu gerakan perlawanan dipimpin Liu Bang.Kemenangan Xiang Yu dan Liu Bang untuk mengakhiri kekuasaan Dinasti Qin tercapai.Xiang Yu mengangkat keturunan Negeri Chu menjadi kaisar, Raja Chu Huai wang. Xiang Yu kemudian membagi 18 wilayah atau negeri kerajaan bawahan seperti yang berlaku pada masa dinasti Zhou yang dipimpin para rajamuda.Liu Bang menjadi Rajamuda Negeri Han meliputi provinsi Sichuan dan Hanzhong. Pembagian kerajaan-kerajaan ini terjadi pada tahun 206 SM dan nama Dinasti Han yang kelak didirikan oleh Liu Bang berasal dari nama kerajaan yang dibagikan oleh Xiang Yu kepadanya.

Pembagian wilayah ini ternyata tidak memuaskan kelompok pendukungnya, akibatanya Tiongkok kembali dilanda perang saudara.Dalam petempuran antara Liu Bang dan Xiang Yu yang akhirnya dimenangkan oleh Liu Bang. Xiang Yu yang terdesak oleh pasukan Liu Bang yang tidak mau menyerahkan diri akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.Liu Bang secara pribadi memimpin upacara pemakaman untuk menghormati Xiang Yu, ia tetap menghormati Xiang Yu sebagai seorang jenderal dan pahlawan besar, rekan seperjuangan menumbangkan dinasti Qin. Setelah memakamkan Xiang Yu, Liu Bang akhirnya didaulat para pendukungnya menjadi kaisar, Liu Bang menjadi Kaisar Pertama Dinasti Han (206 SM-221 M) dengan gelar Han GaoZu (206-195 SM). Pada periode Dinasti Han, agama Khonghucu memasuki babak baru yakni Periode Pemulihan Kedudukan dan Restorasi Kitab-kitab Suci Ru Jiao (Agama Khonghucu).

3.      Kebangkitan Ru Jiao (Agama Khonghucu)
“O,Tian Yang Maha Esa Nampak belum juga menghendaki damai sejahtera di dunia ini. Kalau dikehendaki damai sejahtera di dunia saat ini, selain aku siapa pulalah (dapat membawakannya?Betapa aku tidak bermurung?” (Mengzi IIB:13 ayat 5)

Han Gau Zu mengganti nama ibu kota dinasti Qin, Xianyang, menjadi Chang’an yang berarti Perdamaian Abadi. Amnesti umum diumumkan untuk merayakan kemenangannya.Berbeda dengan Kaisar dinasti Qin, Shih Huangdi, Han Gau Zu memperlakukan rakyatnya dengan lebih manusiawi dan hukum yang diberlakukan tidaklah sekeras pada masa sebelumnya.Kaisar Han Gau Zu menyelenggarakan upacara penghormatan besar di makam Nabi Agung Kongzi di Qufu.Agama Khonghucu yang sempat dilarang pada Dinasti Qin, diizinkan kembali hidup dan berkembang.

Pada periode pemerintahan Kaisar Han Wu Di  (140 SM – 74 SM), agama Khonghucu mencapai puncak kejayaannya, dibawah penasihat Boshi dan cendekiawan agama Khonghucu, Dong Zhong Shu, pada tahun 136 SM, Kaisar Han Wu Di menetapkan agama Khonghucu sebagai Agama Negara Dinasti Han dan pada tahun 104 SM, menetapkan penanggalan Dinasti Xia, yang dikenal sebagai penanggalan Imlek sebagai penanggalan resmi Dinasti Han, seperti yang diserukan Nabi Kongzi dalam Kitab Lun Yu Bab XV : 11 Yan Yuan bertanya bagaimanakah mengatur pemerintahan. Nabi bersabda, “Pakailah penanggalan Dinasti Xia.”Pemerintahan Dinasti Han juga memberlakukan sisem penerimaan pegawai kerajaan berdasarkan ujian Negara.Sebagian besar materi ujian adalah pengetahuan tentang Ru Jiao.Pemerintah Dinasti Han membangun perguruan pendidikan dari tingkat Kabupaten hingga ibukota kekaisaran. Ketetapan Kaisar Han Wu Di mengubah perjalanan sejarah Tiongkok selama lebih dari 2000 tahun kemudian, yang mana pengaruh agama Khonghucu itu melahirkan suatu budaya dan bangsa yang lebih dikenal dengan nama Bangsa dan Budaya Han.

Pengaruh agama Khonghucu juga menyebar ke Negara-negara tetangga seperti Korea, Jepang dan Vietnam.Agama Khonghucu ke Korea sekitar tahun 108 SM dari Korea agama Khonghucu kemudian diperkenalkan ke Jepang. Pengaruh agama Khonghucu maupun budaya bangsa Han sangat kuat pada bangsa Korea dan Jepang. Agama Khonghucu pernah menjadi landasan utama bagi pemerintahan Korea maupun Jepang. Masuknya agama Khonghucu di Korea dan Jepang menandai masuknya sejumlah kitab suci agama Khonghucu yang akhirnya mempengaruhi aksara di Jepang maupun Korea yang dipengaruhi aksara Hanzi (Mandarin) Tiongkok, dalam bahasa Korea dikenal Hanja sementara dalam bahasa Jepang dikenal dengan nama Kanji. Budaya membungkuk dan sujud berasal dari ajaran agama Khonghucu, yang mana diajarkan bahwa yunior bisa memberikan penghormatan kepada yang senior. Umumnya membungkuk ini akan dilakukan saat menyambut seseorang yang penting atau sudah tua, meminta maaf, wujud terimakasih, dan juga wujud rasa malu biasanya membungkuk juga dilakukan terhadap jenazah serta pada perayaan-perayaan tertentu. Ketiga negara ini mengajarkan murid-muridnya membungkuk jika bertemu dengan guru. Dalam tradisi Agama Khonghucu nilai-nilai Li (kesusilaan) dijunjung tinggi sehingga dapat dilihat pengaruh pakaian yang dikenalkan :

Hanfu pakaian khas Bangsa Han
(Tiongkok)

Hanbok pakaian khas
Bangsa Korea

Kimono pakaian khas Bangsa Jepang




Demikian juga agama Khonghucu menyebar ke wilayah selatan yakni Indochina (Vietnam, Kamboja dan Laos), Vietnam yang berbatasan langsung dengan daratan Tiongkok pengaruh tradisi Ru Jiao lebih kental dibanding kedua negara Indochina lainnya. Agama Khonghucu masuk diperkirakan pada masa Dinasti Han. Salah satu dari sekian banyak peninggalan bangunan agama Khonghucu adalah Kelenteng Van Miau yang terletak di Jalan Quoc Tu Giam, jantung Kota Hanoi, Vietnam. Salah seorang mahasiswa teknik arsitektur dari Universitas Nasional Hanoi, yang mengawali kunjungannya, ia berdiri di depan kimsin Nabi Agung Kong Zi di atas singgasana yang bernuansa merah, ia merapatkan kedua tangannya di depan dagu, pelan-pelan kepalanya menunduk sebagai wujud rasa hormatnya. Ajaran agama Khonghucu tersebut sarat nilai-nilai keseimbangan  dalam konteks hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesamanya, serta hubungan antara manusia dengan alam semesta. Oleh warga Vietnam, ajaran diterjemahkan sebagai etos belajar dan bekerja keras dengan menjunjung tinggi budi pekerti.[11]

Sewaktu mendirikan kuil itu tahun 1070, Raja Ly Thang Tong mungkin tidak menduga bahwa dua patung di kuilnya itu akan begitu populer. Sejarah pendirian Kuil Van Mieu di atas tanah 5,5 hektar itu memang tak lepas dari misi menghormati ajaran Kong Zi. Dalam perkembangannya, seiring tingginya minat masyarakat berguru ajaran Nabi Kong Zi. Enam tahun kemudian, Ly Thang Tong mempermaknya menjadi sekolah tinggi bernama Quoc To Giam. Institusi pendidikan yang  juga dikenal dengan sebutan School of The Elite of Nation ini akhirnya berkembang sebagai bagian dari pusat pengkajian berbagai disiplin ilmu yang berkait dengan ajaran Ru, sosial, ekonomi dan budaya. Tak heran jika kuil itu juga dikenal sebagai universitas pertama di Vietnam. Dari situlah muncul sosok Chu Van An yang tampil mendidik calon-calon guru demi menyebarkan ilmu pengetahuan melalui berbagai jenis aksara. Pada masa itulah kerjasama pengkajian kebudayaan antar bangsa di dataran Indochina berkembang pesat. Kuil Van Mieu mengalami masa kejayaan sebagai universitas pada tahun 1482-1780. Kutipan-kutipan naskah kuno yang lahir dari pemikiran warga Kuil Van Mieu terabadikan dalam prasasti dan artefak-artefak. Tidak salah jika ia disebut Kuil Kesusastraan. Untuk mengenang jasa-jasa nya, patung Chu Van An diletakkan dalam altar ruang pemujaan berjejer dengan patung leluhur bangsa Vietnam.[12]

4.      Restorasi Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu
Walaupun dalam jaman pemerintahan Qin Shi Huang itu umat Khonghucu mengalami penindasan dan penganiayaan yang sangat mengerikan, namun tidak berarti mereka menjadi lenyap dan patah semangatnya. Mereka berusaha menyelamatkan Kitab-kitab Suci itu meski harus menanggung resiko sangat besar. Ada yang menghafal isi kitab suci, ada yang menyembunyikan kitab suci di dalam tembok rumah atau menanamnya. Setelah hancur Dinasti Qin dan tidak ada larangan, mereka mulai menggali kembali kitab-kitab itu.[13]

Pada masa pemerintahan Han Wu Di inilah proyek penggalian kembali dan usaha untuk merestorasi kembali ajaran agama Khonghucu dilakukan secara resmi.Kaisar Han Wu Di mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk melaksanakan proyek restorasi ini. Pada umumnya kitab-kitab suci ditulis dengan kepingan-kepingan bambu disamping itu ada juga yang ditulis di kain sutera, sehingga banyak kitab-kitab suci yang rusak disamping itu kebijakan Kaisar Qin Shi Huang yang menyatukan huruf-huruf yang berbeda menjadi satu kesatuan, sehingga banyak huruf kuno yang sulit dibaca kembali pada masa Dinasti Han.

Diantara para tokoh dan Boshi Agama Khonghucu ialah kakek Fu Sheng yang berasal dari Negeri Qi. Kakek Fu Sheng memahami dan menghafal isi Kitab Suci Shu Jing, sehingga dapat menyusun kembali beberapa kitab suci, meskipun tidak lengkap. Kitab Suci Shu Jing agama Khonghucu misalnya dari 100 bab, beliau hafal dan mampu membukukan kembali 29 bab. Teks Shu Jing yang dibukukan kembali oleh Kakek Fu Sheng inilah kemudian terkenal sebagai Kitab Shu Jing dengan huruf baru yang disebut Jin Wen.[14]

Pada jaman pemerintahan Han Wu Di (140-85 SM), telah ditemukan pada tembok kediaman keturunan Nabi Agung Kongzi sejumlah kitab suci Agama Khonghucu dalam bentuk kepingan-kepingan bambu yang masih dalam keadaan baik, yaitu Teks Kitab Shu Jing, Chun Qiu Jing, Xiao Jing, Lun Yu dan lain-lain. Tidak diketahui dengan jelas, berapa lama Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu itu disembunyikan, namun tampaknya keturunan keluarga Nabi Agung Kongzi menyembunyikan pada masa pemerintahan Dinasti Qin.Namun Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu ini ternyata ditulis dengan huruf-huruf kuno yang sudah tidak dikenal atau digunakan di jaman Dinasti Han, sehingga masyarakat pada waktu itu sudah tidak mampu mambacanya.Huruf-huruf kuno itu disebut hurf Ke Dou Wenatau huruf berudu, karena memang hurufnya menyerupai anak katak (berudu).Huruf kuno itu diperkirakan merupakan huruf yang biasa digunakan orang-orang Negeri Lu sekitar abad ke V sebelum masehi.[15]

Berkat ketekunan Kong An Guo yang merupakan keturunan ke XII dari Nabi Agung Kongzi, akhirnya dapatlah diterjemahkan Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu tersebut dalam huruf Jin Wen, huruf yang digunakan pada saat itu. Kong An Guo ini termasyhur sebagai Boshi di antara para pemuka Agama Khonghucu jaman itu. Kong An Guo juga merupakan kepala keluarga Kong. Dalam usaha beliau untuk memahami tulisan yang berhuruf kuno itu, Kong An Guo membanding-bandingkan Kitab-kitab Suci yang berhuruf kuno tersebut dengan Kitab-kitab Suci agama Khonghucu berhuruf Jin Wen, yaitu huruf yang digunakan untuk menulis kembali Kitab Suci Agama Khonghucu masa Dinasti Han, yaitu inskripsi dari Kakek Fu Sheng, akhirnya tulisan kuno itu dapat dibaca dengan baik. Terjemahan Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu pada tahun 97 SM diserahkan kepada Perpustakaan Kerajaan. Di dalam daftar Kepustakaan Kerajaan Han yang disusun oleh Liu Xin dicatat adanya Kitab Shu Jing dalam huruf kuno terdiri atas 58 bab. Jelas ini adalah merupakan Kitab Shu Jing yang telah disalin oleh Kong An Guo itu. Kemudian Kong An Guo juga diminta untuk memberi tafsir atas Kitab Suci Agama Khonghucu itu. Demikianlah akhirnya Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu itu sebagian besar dapat dilestarikan. Hanya Kitab Musik atau Yue Jing saja yang hampir musnah sama sekali. Karena begitu banyak bab-bab yang hilang, maka bagian yang masih tinggal dimasukkan ke dalam Kitab Li Ji bab XVII dengan judul Yue Ji (Catatan Musik). Di antara Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu yang selamat dan tidak terganggu pada masa Dinasti Qin adalah Kitab Suci Yi Jing dan Mengzi.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan pada jaman Dinasti Han ada dua versi Kitab Suci Agama Khonghucu
  1. Jin Wen yaitu kaum yang menggunakan Kitab-kitab Suci dengan huruf baru sebagai pegangan. Mereka dominan pada jaman Dinasti Han awal (206 SM – 24 SM).
  2. Ke Dou Wen yaitu kaum yang memakai kitab-kitab dengan huruf kuno sebagai pegangan. Mereka dominan pada jaman Dinasti Han kemudian.
Sesungguhnya yang membedakan ke dua pergerakan ini hanyalah masalah kitab-kitab yang mereka gunakan sebagai pegangan, yang mana kaum Ke Dou Wen memakai kitab sebelumnya belum dikenal (karena disembunyikan ketika ada larangan pada masa Dinasti Qin) dan baru diketemukan pada masa pertengahan Dinasti Han. Di mana ketika Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu ditemukan pada sekitar abad pertama sebelum masehi masih dalam huruf  dengan gaya tulisan Dinasti Zhou (Ke Dou Wen). Sedangkan kaum Jin Wen lebih dulu memahami dengan petunjuk kitab-kitab yang disusun dari ahli yang menghafal dan menguasai kembali ajaran Agama Khonghucu.

Menurut Ws.Ongkowijoyo, “Tentang keaslian kitab-kitab antar ke dua aliran ini, mana yang lebih murni selalu menjadi perdebatan yang tak kunjung habis antar sinolog. Namun sesungguhnya bukan kritik akan mana yang lebih asli dan murni yang membedakan kedua aliran tersebut, tetapi lebih cendrung karena titik pandang yang berlainanlah yang membedakannya. Apa lagi bila dikaji akan bunyi kitab antara ke duanya pada pokoknya sama. Memang harus diakui, karena dari orang yang ahli, menguasai dan hafal aka isi kitab/ajaran Nabi, Kim Bun (Jin Wen) sebagai pembanding. Namun karena itu dikerjakan oleh keturunan Nabi yang menguasai ajaran Nabi sebagai darah dagingnya dan juga dikerjakan oleh para ahli dari kepustakaan Negara, ditambah bila dalam Kim Bun (Jin Wen) tercampur dengan paham tradisi dan hal-hal yang aneh berdasar kepercayaan, maka pada akhirnya orang cendrung beranggapan Ko Bun (Ke Dou Wen) lebih mewakili akan kebenaran ajaran Nabi. Lepas dari gejala dan perbedaan itu namun dalam kecendrungan akan mitos dan tekanan dalam uraian dari Kim Bun (Jin Wen); maupun kecendrungan untuk berpijak akan nilai falsafah dengan pengajian rasionil dari Ko Bun (Ke Dou Wen). Ke dua aliran ini pada hakekatnya sama bertujuan menegakkan Agama Khonghucu dengan dasar dan pokok yang sama dan satu adanya”.


BERSAMBUNG


[1] Pada masa Zhan Guo muncul sejumlah pemuka agama antara lain Mozi, Zhuangzi, Xunzi yang melahirkan perbedaan pandangan pada masing-masing agama.
[2] Tim Penyusun. Kitab Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu. (Solo : MATAKIN, 1984).h.71
[3]Twan Yang ialah hari suci bersujud ke hadirat Tian Yang Maha Esa yang dilakukan umat Khonghucu sejak zaman purbakala.Twan artinya lurus, terang yang menjadi sumber.Yang artinya positif atau matahari.Twan Yang berarti saat matahri memancarkan Cahaya paling keras.Hari raya ini dinamai pula Twan Ngo. Ngo artinya saat antara jam 11.00 s.d 13.00 siang. Pada saat demikian, matahari melambangkan curahnya Rakhmat Tian.Cahaya matahari sumber kehidupan, lambing rakhmat dan kemurahan Tian atas manusia dan segenap makhluk hidup.(Tim Penyusun. Kitab Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu. (Solo : MATAKIN, 1984).h.70)
[4] Xunzi nama kehormatannya Xun Qing, juga penegak aliran legalis Fa Jia, seorang naturalis, tokoh Ru, penulis Kitab Xun Zi. Han Fei Zi murid Xunzi, seorang pemikir besar dan memperluas cakupan dari faham Fa Jia pemikirannya berfokus pada seni memerintah negara yang tertuang dalam Kitab Han Feizi.Selama periode akhir dinasti Zhou pengaruh Xun Zi lebih kuat daripada Mengzi.Aliran Fa Jia menganjurkan sistem pemerintahan terpusat dan penegakkan hukum positif untuk menegakkan kejayaan negara.Berbeda dengan Mengzi yang mempunyai premis fitrah manusia itu baik, Xun zi berkeyakinan bahwa fitrah manusia itu buruk karena itulah harus dikendalikan secara eksternal dengan hukum positif, pandangan Mengzi, seorang idealis dan Xun Zi seorang naturalis berbeda secara diametral.Ini adalah cikal bakal dari pemikiran Neo Konfusian.(Rip Tockary.Ru Jiao Dalam Prespektif Sejarah. (Bogor,The House of Ru,2002)h.35
[5] Michael Wicaksono. Qin Kaisar Terakota. (Jakarta : PT.Elex Media Komputindo,2013) h.87
[6] Sembilan bejana perunggu disebut Ding, merupakan panci perunggu besar berdinding tebal berkaki tiga dengan dua buah pegangan besar disisinya. Bagian luar dari Ding biasanya diukir dengan motif yang melambangkan kekuasaan seperti harimau, phoenix ataupun naga. Shouwen Jiezi, kamus besar huruf-huruf kanji Tiongkok mendefinisikan Ding sebagai, benda berkaki tiga dan bertelinga dua, menjadi alat untuk memasak berbagai bahan makanan. Yu mengumpulkan logam dari Sembilan provinsi, kemudian menempa Ding di kaki gunung Jingshan. Sebagai lambing kekuasaan, ditetapkan bahwa hanya  Putera Langit  yang boleh memiliki Sembilan Ding dikediamannya. (Michael Wicaksono. Qin Kaisar Terakota. (Jakarta : PT.Elex Media Komputindo,2013) h.85
[7] Ivan Taniputera. History of China. (Jogyakarta : Ar-Ruzz Media,2008) h.90
[8] Michael Wicaksono. Qin Kaisar Terakota. (Jakarta : PT.Elex Media Komputindo,2013) h.237
[9]Elizabeth Seeger. Penerjamah Ong Pok Kiat dan Sudarno. Sedjarah Tiongkok Selajang Pandang. (Jakarta : Groningen,1957) h.113
[10]Tim MATAKIN.Kitab Suci Wu Jing I Shi Jing. (Jakarta : Pelita Kebajikan,2010) h.xxv
[11] Harian umum Kompas, 02 Juni 2004
[12] ibid
[13]Tim MATAKIN.Kitab Suci Wu Jing I Shi Jing. (Jakarta : Pelita Kebajikan,2010) h.xxvii
[14]Tim MATAKIN.Kitab Suci Wu Jing I Shi Jing. (Jakarta : Pelita Kebajikan,2010) h.xxviii
[15]Tim MATAKIN.Kitab Suci Wu Jing I Shi Jing. (Jakarta : Pelita Kebajikan,2010) h.xxviii

Damai dimulai Dari Diri Sendiri

Jakarta, 
Sabtu, 23 Sepetember 2017 Pendopo Balai Kota diramaikan oleh 600 siswa-siswi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD dan SMP dari enam Majelis Agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu dengan masing-masing majelis agama membawa 100 anak  dan 10 orang pendamping. Pertunjukan seni dan budaya ini diadakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta bersama Indonesia Bangkit. Kegiatan ini diisi oleh anak-anak dari bernagai agama dan dihadiri Bapak Gubernur DKI Jakarta, Drs.H.Djarot Saiful Hidayat,.M.S. dan Nyonya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama  DKI Jakarta, para tokoh dari keenam agama dan undangan lain.

Js.Liem Liliany Lontoh Ketua MATAKIN Provinsi DKI Jakarta
JS. Liem Liliany Lontoh, Ketua MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Provinsi DKI Jakarta mengatakan kehidupan yang damai dan harmonis hanya dapat tercipta apabila semua pemeluk agama saling menghormati dan bekerja sama dengan dasat bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih dan semua manusia adalah saudara. Oleh karena semua manusia berasal dari Tuhan Yang Maha Esa  sehingga kehidupan dunia dalam perdamaian agung  dapat tercipta. Pembinaan diri sebagai pokok dimulai dari diri sendiri, dengan meneliti hakekat tiap perkara dapat cukuplah pengetahuannya; dengan cukup pengetahuannya akan dapatlah mengimankan tekadnya; dengan tekad yang beriman akan dapatlah meluruskan hatinya; dengan hati yang lurus akan dapatlah membina dirinya; dengan diri yang terbina akan dapatlah membereskan rumah tangganya; dengan rumah tangga yang beres akan dapatlah mengatur negerinya; dan dengan negeri yang teratur akan dapat dicapai damai di dunia (Da Xue Bab Utama : 5)

Acara semacam ini sangat baik, FKUB melibatkan anaka-anak karena dari masa kanak-kanak sudah diajarkan kebersamaan di dalam keberagaman  sehingga apapun agama teman-temannya itu tidak menjadi masalah  karena mereka bersaudara, mereka bisa bermain dan bergembira bersama dengan teman-teman dari sekolah lain dan agama lain.

Sebagai generasi penerus bangsa tentunya kita semua berharap generasi penerus kita harus lebih baik dari generasi sekarang atau terdahulu  sehingga Indonesia benar-benar bangkit menjadi negara yang kuat, adil dan makmur berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dikatakan lembaga pendidikan merupakan lembaga paling strategis untuk mengembangkan sikap saling menghargai, hidup rukun, saling peduli, toleransi, kerja sama, katanya karena pendidikan sangat penting bagi seluruh umat manusia, tekun belajar tanpa henti mencari hakekat setiap perkara.

Sabda Nabi Kongzi bahwa ''ada pendidikan tiada perbedaan'', apabila generasi penerus semuanya mempunyai pendidikan tentu kita akan menjadi negara yang maju dan kaya. Banyak-banyaklah belajar, kurang jelas tanyakanlah, berpikirlah hati-hati, uraikanlah sejelas-jelasnya laksanakan dengan setulus hati  (Zhong Yong Bab XIX :19)

Sementara itu Romo Antonius Suyadi, tokoh agama, anggota FKUB yang mewakili Katolik menegaskan  situasi toleransi agama di DKI Jakarta selama ini berjalan dengan baik. Kalau toh itu ada mungkin hanya karena gesekan gesekan kecil. Sebagai masyarakat plurailis di DKI Jakarta, pihaknya mengatakan Katolik juga selalu berusaha untuk melakukan upaya-upaya perjumpaan sehingga terus terpupuk rasa persatuan. "Kita semua mengakui bahwa mungkin kita semua belum terlalu terbuka dalam dialog bersama dan sekiranya dengan adanya SABDA, bisa melahirkan agen perdamaian yang andal membawa 'virus' perdamaian bagi seluruh masyarakat,'' kata imam yang bertugas di paroki St. Yakobus, Kelapa Gading ini. 
Kontribusi Berita Agung/ Konrad Mangu