Pada
tiap tanggal 5 Go Gwee ( bulan Lima Imlek ), di dalam keluarga Konfusiani di
Tiongkok, Hong Kong, Singapura, Indonesia dan lain-lain negara, biasa mereka
berkumpul, melakukan sembahyang dan makan kue cang ( kue dari ketan yang
dibungkus daun bambu ) dicampur manis-manisan.
Di
tepi-tepi sungai atau sepanjang pantai, orang berkerumun melihat lomba perahu
naga. Ketika genderang berbunyi, orang yang berlengan kuat mulai beraksi dan
meluncurkan perahu ramping dengan kepala naga. Inilah festival perahu naga dan
tokoh yang menyebabkan adanya festival ini ialah Khut Gwan ( Qu Yuan ), beliau
lahir di Negeri Cho (Chu 楚 国) pada
sekitar tahun 340 sebelum masehi, pada masa yang paling kacau dalam sejarah
dinasti Ciu ( Zhou 周 1122 s.M –
255 s.M ) yang disebut zaman perang
antar negara.
Aku
Lurus dalam bentuk dan garis keturunan
Pada
suatu hari yang cerah ketika Khut Gwan ( Qu Yuan ) berumur lebih kurang 20
tahun, ia sedang melihat sebatang pohon jeruk di halaman rumahnya. Pohon jeruk
itu jenis yang istimewa. Daunnya lebih hijau, bunganya lebih cemerlang, buahnya
lebih manis daripada pohon jeruk lain yang sama jenisnya. Hal itu hanya dapat
berhasil bila ditanam di tanah dan iklim Negeri Cho ( Chu 楚 国 ). Di cangkok dan ditanam di negeri mana pun, jenis
pohon itu akan layu dan mati. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mengagumi pohon jeruk itu karena indahnya dan
karena kesetiaannya terikat pada tanah airnya.
Seperti
pohon jeruk itu, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) merasa
berakar dalam di negeri Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). Para
leluhurnya adalah termasuk di antara para pendiri Negeri Cho ( Chu 楚 国 ). Keluarga Khut Gwan ( Qu
Yuan 屈 原 ) adalah salah satu di antara
tiga keluarga besar yang termasyhur di Negeri Cho ( Chu 楚 国 ).
Wajahnya
yang cakap, sikapnya yang lemah-lembut, berwibawa dalam pembawaan, mencerminkan
leluhurnya yang mulia terhormat. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) seorang negarawan yang cerdas dan seorang ahli
puisi. Pandai berbahasa dan cerdas, ia memperlajari berbagai bidang ilmu
pengetahuan seperti astronomi ( ilmu bintang ), ilmu bumi, sejarah, pertanian,
hukum dan sastra.
Keluasaan
pengetahuannya sesuai dengan perasaannya yang dalam. Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mempunyai jiwa yang
sensitif dan penuh semangat, berbudi luhur dan jernih, penuh dengan cita yang
tinggi, terutama untuk negerinya yang sangat dicintainya.
Aku Ingin Melakukan Perbuatan Besar
untuk Tanah Air dan Rakyatku
Kerajaan
Ciu ( Zhou 周 ) pada waktu itu terbagi menjadi tujuh negara yang satu terhadap yang lain saling mengawasi
dengan penuh ambisi dan kecurigaan. Tujuh negara itu ialah Negeri Yan, Cee, Thio,
Gwi, Han, Cho dan Chien. Negeri Chien yang berkedudukan di wilayah Barat Laut
ialah yang paling kuat dan agresif dan Negeri Cee yang di wilayah Timur ialah
yang paling kaya dan makmur, sementara negeri Cho ( Chu 楚 国 ) yang berkedudukan di wilayah sekitar sungai
Tiang-kang ( Yangzi ) ialah yang paling luas. Negeri Chien mempunyai
pemerintahan dan angkatan perang yang paling efisien. Negeri Chien senantiasa
menanti kesempatan untuk menaklukan negeri-negeri yang lain satu persatu.
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) mengajukan proposalnya kepada raja yang dengan senang
menerimanya. Ia menugaskan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menangani hal-hal yang menyangkut urusan dalam
dan luar negeri. Ke luar, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) harus berhasil menjalin persahabatan dengan negeri
Cee, dan dalam hal ini ia telah menggunakan kemampuannya yang luar biasa. Ke
dalam, ia harus membuat rencana undang-undang bagi era baru ini. Ia segera
dapat menyiapkan rencana itu.
Kelihatannya,
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 )
seolah-olah akan berhasil merealisasikan programnya tetapi sayang, orang-orang
rendah budi masuk menjegalnya.
Rajaku lebih mendengarkan para
pengkhianat
Ada orang-orang
di istana yang sama sekali tidak menyukai Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原). Perubahan yang ditawarkan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) akan menghilangkan hak-hak
istimewanya dan membuka kebusukan hatinya. Mereka juga cemburu terhadap bakat
dan kepiawaian Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). Karena
kekurangan kebolehan dan integritas (kepercayaan diri), mereka membenci Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) yang
memiliki kedua-duanya. Mereka yang munafik dan hanya mencintai diri sendiri,
membenci Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原) yang
mencintai kebenaran dan tanah air di atas segalanya. Maka mereka membentuk
komplotan untuk melawan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ).
Salah
seorang dari mereka datang kepada raja dan berkata, “Tahukah baginda, apa yang
disebarkan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) di istana
? Baginda dikatakan bahwa tanpa dia, baginda tidak dapat berbuat apa-apa, bahwa
dialah satu-satunya orang yang mampu menegakkan hukum dan melaksanakan strategi
politik yang efektif.”
Demikianlah
mereka menjilat sang raja dan meracuni telinganya. Raja yang bodoh dan lemah
mental itu dengan mudah diombang-ambingkan niatnya. Segera raja menurunkan
kedudukan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dan
menjauhinya.
Komplotan
orang-orang penjilat dan penghkhianat yang berpihak kepada negeri Chien karena
mereka telah disuap oleh utusan Chien, mereka membujuk raja agar mau bersahabat
dengan negeri Chien dan memutuskan hubungan dengan negeri Cee. Khut Gwan ( Qu
Yuan 屈 原 ) sangat menentang maksud
itu. Tetapi saran kepada rajanya itu hanya seperti masuk ke telinga yang tuli.
Negeri
Chien ternyata adalah kawan yang khianat. Negeri Chien banyak dan kian banyak
mengambil tanah negeri Cho ( Chu 楚 国 ), lewat
kekuatan senjata dan lewat tipu muslihat. Raja Cho ( Chu 楚 国 ) yang telah terbius oleh kata-kata manis para
menterinya yang korup, tetap tidak dapat menyadari.
Suatu
hari, Raja Negeri Chien mengundang Raja Cho ( Chu 楚 国 ) berkunjung ke negeri Chien untuk bermusyawarah.
Raja Cho ( Chu 楚 国 ) ketika
akan berangkat, Khut Gwan (Qu Yuan 屈 原)
berteriak, “Jangan pergi, rajaku. Negeri Chien itu tanah harimau dan serigala.
Negeri itu tidak dapat dipercaya. Baginda mungkin tidak akan pernah pulang.”
Seorang
pembantu istana yang berpihak kepada negeri Chien cepat menyela, “Sangat tidak
pantas menolak undangan yang bersahabat dari negeri tetangga kita. Dan lagi,
ini adalah suatu tanda penghormatan besar untuk Baginda. Alangkah pencuriganya
kamu!”
Maka
Raja Cho ( Chu 楚 国 )
berkunjung ke negeri Chien dan tidak pernah kembali. Begitu raja Cho ( Chu 楚 国 ) melewati daerah perbatasan,
ia ditahan dan tidak pernah kembali serta dipaksa untuk menandatangani
persetujuan menyerahkan wilayah yang sudah diambil Negeri Chien. Ia menolak
menandatangani dan akhirnya meninggal di Negeri Chien.
Para
menteri Negeri Cho ( Chu 楚 国 )
mengangkat raja baru yang lebih tidak berguna dibandingkan yang sebelumnya.
Raja itu bahkan menghukum buang Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) ke wilayah pengasingan.
Lewat
beberapa tahun, Negeri Cho ( Chu 楚 国 ) kian lama
kian menjadi lemah. Istana Negeri Cho ( Chu 楚 国 ) pun kian
kacau, dipenuhi dengan orang-orang yang hanya mencari keuntungan bagi diri
sendiri dan tidak mempunyai wawasan luas.
Aku berdiri sendiri, suci
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) sedih
untuk raja yang telah meninggal. Ia lebih sedih untuk negeri dan rakyatnya.
“Kemana tujuanmu, sayang? Engkau seperti kereta terbalik, meluncur kearah
kehancuranmu sendiri.”
Jiwanya
merana. Penderitaannya terungkap dalam sanjak-sanjaknya. Di dalam
keputusasaannya, Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) menulis
beberapa bait yang sangat menyentuh dalam sanjaknya. Sanjaknya yang terbesar
ialah yang berjudul Li sao 离 骚 (menanggung kepedihan), sebuah karya yang mencerminkan harapan yang sangat sang
penyair dalam mencari kebenaran dan keindahan.
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) tidak
dapat menahan diri untuk bertanya diri sendiri :
Mengapa
yang baik menderita ?
Mengapa yang jahat berjaya ?
Mengapa yang khianat mendapat
kepercayaan ?
Mengapa yang penjilat justru
mendapat hadiah ?
Mengapa yang setia justru
dihempaskan ?
Mengapa yang jujur justru dihukum ?
Kakak
perempuan Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) yang
melihat keprihatinannya, menghibur dengan berkata, “Mengapa engkau mengasingkan
diri ? Berbuatlah seperti yang lain kerjakan. Katakan kepada raja hanya apa
yang baginda inginkan !”
“Aku
tidak dapat, aku tidak mau!” teriak Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ). “Aku tidak mau melepuhkan lidahku dengan
kebohongan. Aku tidak dapat menodai jiwaku dengan hal yang memalukan. Aku tidak
dapat berkubang di dalam lumpur dan aku tidak dapat bersenang-senang
bermabuk-mabuk bersama orang-orang itu. Aku akan berdiri sendiri, suci.”
Betapa aku dapat meninggalkan tanah
airku ?
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) berdiam
di tanah pengasingan. Kurus, kurang tidur dan dengan rambut yang tidak heran,
ia berjalan mengembara di bawah bayang-bayang gunung yang menjulang dan
sepanjang tebing sungai yang suara alirannya gemercik. Beberapa tahun Khut Gwan
( Qu Yuan 屈 原 )
terlunta-lunta sampai ia tiba di tepi sungai Bik loo ( Mi luo ).
Dari
jauh datang berita buruk. Pasukan Negeri Chien telah memasuki ibukota Cho ( Chu
楚 国 ). Raja beserta seluruh isi
istana telah melarikan diri. Tentara Negeri Chien ada di seluruh Cho ( Chu 楚 国 ). Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) melihat
betapa rakyat menderita. Sawah ladang berubah menjadi ajang peperangan tiap
malam. Para petani menjadi pengungsi sepanjang hari. Jeritan perang, jeritan
kematian, jeritan kepedihan sampai ke telinga Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dan menusuk hatinya.
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) tidak
mendapat kesempatan menyelamatkan negerinya. Di istana tempatnya mengungsi.
Sang raja masih bermabuk-mabukan seperti biasanya. Orang-orang durhaka di
istana masih terus melakukan permainan yang berbahaya dengan menjilat dan
berkhianat.
“Kamu
manusia rendah budi! Apa yang telah kaulakukan terhadap rajaku ? Apa yang telah
kau lakukan terhadap negeriku? Apa yang telah kaulakukan terhadap rakyatku ?”
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) dengan
mata yang basah melihat aliran sungai Bik loo ( Mi Luo ) yang tanpa rasa
kasihan itu. Ketika itu, beliau berusia 62 tahun, harapannya telah pudar,
mimpinya telah punah, cita-citanya telah dikhianati.
“Terbang!
Terbang!” terdengar suara bergema. “Ayo pergi ke negeri lain, mengabdi kepada
raja yang lain. Kepiawaianmu akan bersinar ke mana-mana.”
“Ya,
ya, aku akan pergi ke negeri lain dan melayani raja lain.” Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ) naik menunggang kudanya
yang cepat lari itu dan terbang ke negeri lain ketika ia melihat tempat
sekitarnya dan menatap tanah negeri Cho ( Chu 楚 国 ) yang indah itu. Angin yang berdesir membawa bau
harum jeruk yang sedang berbunga kepadanya.
“Bagaimana
aku dapat meninggalkan tanah air ku!”
Khut
Gwan ( Qu Yuan 屈 原 )
melepaskan kudanya dan sebagai gantinya ia mendekap sebuah batu ke dadanya dan
terjun ke sungai Bik Loo ( Mi Luo ).
Sebuah Legenda
Saat
Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 )
menceburkan diri ke sungai Bik Loo ( Mi Luo ) itu bertepatan dengan saat
upacara sembahyang Twan Yang ( Hari Sumber Kehidupan ), hari untuk mensyukuri
rakhmat Tian untuk kehidupan di bumi ini yang jatuh pada tiap tanggal 5 Bulan 5
Imlek. Karena itu, tiap tahun pada hari itu digunakan pula untuk mengenang dan
memperingati Khut Gwan ( Qu Yuan 屈 原 ), penyair
besar yang berjiwa patriot, yang lebih memilih mati daripada meninggalkan tanah
airnya.
Lomba Perahu Naga dalam Festival Cisadane Kota Tangerang 2011 |
Nabi Kongzi bersabda, “Seorang yang luhur budi ( Kuncu ) hanya mengerti akan kebenaran, sebaliknya seorang rendah budi hanya mengerti akan keuntungan.” ( Lun Yu IV : 16 )
“Seorang
yang bercita menjadi siswa dalam cinta kasih / kebajikan, tidak inginkan hidup
bila itu membahayakan cinta kasih. Bahkan ada yang mengorbankan dirinya untuk
menyempurnakan cinta kasih itu.” ( Lun Yu XV : 9 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TERIMA KASIH