Vietnam
merupakan salah satu wilayah Asia Tenggara yang sangat kuat
dipengaruhi oleh peradaban Tiongkok. Di antara pengaruh terpenting tersebut
adalah ajaran Khonghucu (Konfusianisme), yang dalam bahasa Vietnam dikenal
sebagai Nho giáo. Selama lebih dari seribu tahun, Khonghucu tidak hanya
membentuk sistem pemerintahan dan pendidikan Vietnam, tetapi juga menjiwai
etika keluarga, tatanan sosial, serta berbagai tradisi budaya, termasuk
perayaan Tahun Baru Imlek yang di Vietnam disebut Tết Nguyên Đán.
Artikel ini mengulas sejarah masuk dan perkembangan agama
Khonghucu di Vietnam, serta kaitannya dengan tradisi Tết sebagai perayaan tahun
baru yang sarat nilai moral, kosmologis, dan kekeluargaan.
Latar Sejarah Awal Penaklukan Dinasti Han atas Nanyue
Sejak
tahun 214 SM, Qin Shi Huang Ti , pemersatu negeri Tiongkok, telah menaklukkan
bagian utara Tonkin yang sekarang untuk membentuk tiga buah wilayah militer di
situ, yang betul-betul merupakan daerah perbatasan kemaharajaan.
Fondasi
awal masuknya pengaruh Tiongkok dan Khonghucu ke wilayah Vietnam tidak dapat
dilepaskan dari peristiwa penaklukan Kerajaan Nanyue oleh Dinasti Han yang
pimpin oleh Jenderal Lu Bo De dan Jenderal Yang Pu pada tahun 111 SM. Nanyue
merupakan kerajaan lintas wilayah yang mencakup Guangdong, Guangxi, serta
Vietnam Utara modern. Kerajaan ini didirikan oleh Zhao Tuo, seorang bekas
perwira Dinasti Qin, yang pada awalnya diakui secara diplomatik oleh Kekaisaran
Han sebagai penguasa lokal.
Hubungan
Han–Nanyue berlangsung dinamis, berganti antara diplomasi, ketegangan politik,
dan konflik kepentingan. Ketika integrasi politik melalui jalur damai mengalami
penolakan dari elite Nanyue, terutama setelah krisis internal istana pada abad
ke-2 SM, Dinasti Han di bawah Kaisar Wu melancarkan ekspedisi militer
besar-besaran. Penaklukan Nanyue pada tahun 111 SM menandai dimulainya
pemerintahan langsung Han di wilayah Vietnam Utara melalui pembentukan sejumlah
komando administratif dan berlangsung hingga tahun 938 M (Dinasti Tang).
Peristiwa
ini memiliki arti historis yang sangat penting karena membuka jalan bagi
masuknya sistem birokrasi Han, aksara Tionghoa, hukum kekaisaran, serta ajaran
etika Khonghucu ke wilayah Vietnam. Sejak saat itu, proses sinifikasi dan
interaksi budaya berlangsung secara bertahap, membentuk fondasi awal bagi
perkembangan Nho giáo (Khonghucu Vietnam) pada masa-masa selanjutnya.
Masuk dan Berkembangnya Agama Khonghucu
Agama Khonghucu mulai dikenal di wilayah Vietnam sejak abad ke-1 sebelum Masehi, ketika Dinasti Han dari Tiongkok memperluas pengaruh politiknya ke wilayah Vietnam Utara. Bersamaan dengan administrasi kolonial, diperkenalkan pula aksara Tionghoa atau (Chữ Nôm aksara ini digunakan sekitar tahun 1200 hingga tahun 1949 setelah seorang misionaris Yesuit Portugis menciptakan alfabet Vietnam yang menggantikan chữ Nôm dengan aksara latin), sistem birokrasi, dan ajaran etika Khonghucu. Pada tahap awal, pengaruh ini masih terbatas dan lebih bersifat administratif.
Setelah Vietnam meraih kemerdekaan pada abad ke-10, terutama sejak Dinasti Lý (abad ke-11), Agama Khonghucu mulai mendapat tempat penting dalam pembangunan negara. Pendirian Kuil Sastra (Văn Miếu) pada tahun 1070 dan pembukaan sistem ujian kenegaraan pada tahun 1075 menandai lahirnya tradisi pendidikan Khonghucu di Vietnam. Sejak saat itu, Khonghucu berkembang sebagai landasan moral negara, alat seleksi pejabat, serta pedoman etika sosial.
Pada
masa Dinasti Trần, Lê, hingga Nguyễn, Khonghucu mencapai puncak pengaruhnya.
Sistem ujian kenegaraan (khoa cử) berlangsung selama lebih dari 800
tahun dan membentuk kelas cendekiawan (sĩ phu) yang sangat dihormati.
Nilai-nilai seperti bakti kepada orang tua (hiếu), kesetiaan (trung),
kebenaran (nghĩa), kesopanan (lễ), dan kebijaksanaan (trí)
meresap dalam kehidupan masyarakat Vietnam.
Agama Khonghucu, Kehidupan Keluarga dan Tradisi Leluhur
Salah satu ciri utama Khonghucu di Vietnam adalah penekanannya pada keluarga dan pemujaan leluhur. Keluarga dipandang sebagai dasar negara, sementara penghormatan kepada leluhur dianggap sebagai kewajiban moral tertinggi. Pandangan ini sangat berpengaruh dalam pembentukan tradisi Vietnam, terutama dalam ritual-ritual tahunan.
Dalam
konteks inilah perayaan Tahun Baru Imlek (Tết) memperoleh makna yang sangat
mendalam. Tết bukan sekadar pergantian tahun secara kalender lunar, melainkan
momen sakral untuk memperbarui hubungan manusia dengan Langit (Thiên), Bumi (Địa),
leluhur, dan sesama.
Tết Nguyên Đán: Tahun Baru Imlek dalam Tradisi Vietnam
Tết Nguyên Đán adalah perayaan terpenting dalam kalender Vietnam. Meskipun berakar dari tradisi Imlek Tiongkok, Tết berkembang dengan ciri khas lokal Vietnam yang kuat, dipengaruhi oleh Khonghucu dan kepercayaan rakyat.
Dalam perspektif tradisi Khonghucu, Tết mencerminkan harmoni kosmis dan moral:
- Harmoni Langit dan Manusia
- Penghormatan kepada Leluhur
- Pemurnian Diri dan Etika Sosial
Unsur Tradisi Khonghucu dalam Ritual dan Tradisi Tết
Perayaan
Tết di Vietnam tidak hanya berlangsung di ruang keluarga, tetapi juga hidup di
desa-desa kerajinan, pusat kebudayaan, dan ruang publik modern. Di sinilah
nilai-nilai Khonghucu menjelma menjadi praktik sosial yang nyata.
Beberapa
tradisi Tết yang mencerminkan nilai Khonghucu antara lain:
- Pemberian amplop merah (Lì
xì) sebagai simbol doa restu, keberkahan, dan kesinambungan kebajikan
antargenerasi.
- Kaligrafi Tahun Baru,
di mana para sarjana menuliskan aksara bermakna kebajikan seperti
kebahagiaan, panjang umur, keselarasan, dan kebajikan. Tradisi ini
mencerminkan penghormatan tinggi terhadap kaum terpelajar (sĩ),
nilai inti dalam Khonghucu.
- Mâm Ngũ Quả (lima macam
buah) di altar leluhur, melambangkan rasa syukur kepada Langit dan
Bumi serta harapan akan kemakmuran dan keseimbangan hidup.
- Upacara mendirikan pohon
Neu, sebagai simbol perlindungan spiritual, keteraturan kosmis, dan
penanda batas sakral selama masa Tết.
Di samping ritual-ritual tersebut, aktivitas ekonomi dan budaya masyarakat menjelang Tết juga mencerminkan etos Khonghucu tentang kerja, ketekunan, dan tanggung jawab sosial.
Desa
Kerajinan Tradisional dan Etos Khonghucu Menjelang Tết
Menjelang
Tết, desa-desa kerajinan tradisional di Vietnam memasuki masa paling sibuk
dalam setahun. Dari pembuatan makanan khas hingga alat musik ritual, denyut
kehidupan desa-desa ini menunjukkan bagaimana nilai Khonghucu hidup dalam kerja
kolektif dan pewarisan keterampilan.
Di
Provinsi Dong Thap, kerajinan pembuatan nem Lai Vung (sosis babi
fermentasi) telah berkembang selama lebih dari enam dekade. Selama musim Tết,
produksi meningkat dua hingga tiga kali lipat untuk memenuhi kebutuhan keluarga
yang menjamu tamu dan melakukan ritual kebersamaan. Kerajinan ini tidak hanya
menopang ekonomi lokal, tetapi juga mencerminkan nilai Khonghucu tentang kerja
keras, keharmonisan keluarga, dan tanggung jawab antargenerasi.
Sementara
itu, di Desa Doi Tam (Ninh Binh), kerajinan pembuatan gendang yang telah
berusia lebih dari seribu tahun tetap lestari. Gendang tidak hanya berfungsi
sebagai alat musik, tetapi juga sebagai sarana ritual di kuil, festival, dan
upacara tradisional. Proses pembuatannya yang teliti dan penuh dedikasi
mencerminkan etika Khonghucu tentang kesungguhan (cheng) dan
penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Dewa
Dapur, Kepercayaan Rakyat, dan Harmoni Keluarga
Salah
satu ritual penting menjelang Tết di Vietnam adalah upacara penghormatan kepada
Tiga Dewa Dapur (Táo Quân), yang dipercaya mengawasi kehidupan rumah
tangga dan melaporkan perilaku keluarga kepada Langit setiap akhir tahun lunar.
Pada tanggal 23 bulan ke-12 kalender lunar, keluarga-keluarga Vietnam melakukan
upacara perpisahan Dewa Dapur, mengganti patung-patung lama dengan yang baru,
serta memanjatkan doa bagi tahun yang damai dan sejahtera.
Di
kawasan Dia Linh, Hue, kerajinan pembuatan patung Dewa Dapur dari tanah liat
telah diwariskan selama beberapa generasi sejak masa Dinasti Nguyen. Setiap
patung dibuat dengan ketelitian tinggi, melalui proses pemilihan tanah liat,
pencetakan, pengeringan, pembakaran, hingga pewarnaan. Patung-patung ini bukan
sekadar benda ritual, melainkan simbol kepercayaan rakyat yang sejalan dengan
ajaran Khonghucu tentang keteraturan rumah tangga, keselarasan moral, dan bakti
keluarga.
Meskipun
menghadapi tantangan modernisasi dan menurunnya minat generasi muda, para
pengrajin tetap bertahan karena memandang pekerjaan ini sebagai amanah leluhur.
Upaya pelestarian melalui pariwisata budaya dan edukasi publik menjadi harapan
agar nilai-nilai tradisional ini tetap hidup.
Tết di Ruang Modern: Festival Musim Semi Suoi Tien
Di
era kontemporer, nilai-nilai Khonghucu dan tradisi Tết juga dihadirkan dalam
ruang-ruang modern. Festival Musim Semi Suoi Tien di Kota Ho Chi Minh,
misalnya, mengemas Tết sebagai pengalaman budaya yang menggabungkan hiburan
modern dengan narasi sejarah dan nilai tradisional.
Melalui
tema seperti Tet Akar Leluhur, Tet Masa Perang, hingga Tet
Generasi Muda, festival ini memperlihatkan kesinambungan nilai bakti,
ingatan sejarah, dan identitas budaya dalam masyarakat Vietnam modern. Meskipun
dikemas secara visual dan atraktif, esensi Tết sebagai momen refleksi moral dan
kebersamaan keluarga tetap dipertahankan.
Perubahan
Zaman dan Warisan Tradisi Khonghucu
Sejak
runtuhnya monarki Vietnam pada tahun 1945, Agama Khonghucu tidak lagi menjadi
pondasi resmi negara. Namun, nilai-nilainya tetap hidup dalam budaya,
pendidikan, dan tradisi masyarakat. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi,
Tết tetap bertahan sebagai simbol identitas budaya Vietnam, sekaligus ruang
aktualisasi nilai-nilai Khonghucu seperti bakti keluarga, harmoni sosial, dan
penghormatan terhadap tradisi.
Saat
ini, upaya pelestarian budaya tradisional Vietnam sering kali kembali
menegaskan peran tradisi Khonghucu sebagai fondasi etika dan kebudayaan nasional.
Chu
Văn An dan Fondasi Khonghucu Vietnam
Dalam
sejarah Vietnam, figur Guru Chu Văn An (1292–1370) menempati posisi yang
sangat istimewa sebagai teladan moral dan Bapak pendiri tradisi cendekiawan
Khonghucu Vietnam. Ia tidak hanya dikenal sebagai pendidik agung, tetapi juga
sebagai simbol integritas, keberanian moral, dan kesetiaan pada prinsip-prinsip
Khonghucu.
Chu
Văn An, nama asli Chu An, berasal dari distrik Thanh Đàm (kini wilayah Thanh
Trì, Hanoi). Sejak muda ia dikenal sebagai cendekiawan luar biasa yang
menguasai Empat Kitab dan Lima Klasik, sejarah, kaligrafi, serta ilmu feng
shui. Berbeda dari banyak sarjana sezamannya, ia tidak mengejar ketenaran
melalui jalur ujian dan jabatan, melainkan memilih jalan pendidikan dan
pembinaan moral.
Ia
mendirikan Sekolah Huynh Cung di tepi Sungai Tô Lịch, yang kemudian
berkembang menjadi pusat pendidikan terbesar pada masanya. Ribuan murid dididik
di sana, banyak di antaranya kelak menjadi pejabat tinggi Dinasti Trần. Etika
guru–murid yang kuat dalam tradisi Khonghucu Vietnam tercermin dari sikap
hormat para murid terhadap gurunya bahkan setelah mereka mencapai jabatan
tertinggi.
Pada
masa pemerintahan Raja Trần Minh Tông, Chu Văn An diundang untuk
menjabat sebagai Tư Nghiệp Quốc Tử Giám, setara dengan Rektor
Universitas Nasional (Kuil Sastra – Quốc Tử Giám). Ia menjadi tutor resmi
pertama Putra Mahkota yang tercatat dalam Đại Việt Sử Ký Toàn Thư.
Keagungan
karakter Chu Văn An tampak jelas dalam peristiwa terkenal “Petisi Tujuh
Eksekusi”, ketika ia dengan tegas meminta raja menghukum tujuh pejabat
korup. Ketika nasihat tersebut diabaikan, ia memilih mengundurkan diri dan
kembali mengajar, menjadikannya lambang cendekiawan Khonghucu sejati yang setia
pada kebenaran, bukan pada kekuasaan.
Ia wafat pada tahun 1370 dan kemudian dianugerahi gelar kehormatan anumerta Văn Trinh Công. Hingga kini, ia dipuja di Kuil Sastra – Universitas Nasional Hanoi sebagai bapak pendiri cendekiawan Agama Khonghucu Vietnam.
Ritual
Pemujaan Konfusius di Kuil Sastra – Universitas Nasional
Selain penghormatan kepada para cendekiawan lokal seperti Chu Văn An, tradisi Khonghucu di Vietnam juga diwujudkan melalui ritual pemujaan Kong zi, di Vietnam nama Kong zi dikenal dengan nama khổng tử, yang hingga kini masih dilaksanakan secara khidmat di Kuil Sastra – Universitas Nasional (Văn Miếu – Quốc Tử Giám), Hanoi. di Vietnam, Văn Miếu sama halnya dengan nama Boen Bio atau Kelenteng Kesusastraan sebagai tempat penghormatan terhadap Nabi Kongzi dan tokoh-tokoh cendekiawan baik murid Nabi Kongzi maupun cendekiawan Khonghucu dari Vietnam.
Pada
pagi hari 15 November, di ruang sakral Kuil Sastra, diselenggarakan
prosesi pembacaan teks-teks klasik dan ritual persembahan kepada Konfusius
serta para bijak Konfusianisme. Upacara ini bertepatan dengan peringatan Hari
Guru Vietnam (20 November) dan Hari Warisan Budaya Vietnam (23 November),
menegaskan hubungan erat antara pendidikan, moralitas, dan warisan budaya.
Prosesi
dimulai sekitar pukul 08.00 pagi dengan arak-arakan kitab suci dari area Danau
Văn menuju halaman dalam Kuil Đại Thành. Pemilihan Văn Miếu – Quốc Tử
Giám sebagai lokasi utama memiliki makna simbolis yang mendalam: tempat ini
dipandang sebagai “kuil suci pembelajaran”, pusat pertemuan antara ritual,
musik, pakaian adat, dan nilai-nilai kebudayaan klasik.
Setelah
prosesi teks, ritual persembahan dupa, bunga, dan buah-buahan dilakukan dengan
penuh ketertiban dan kesungguhan. Iringan genderang dan musik upacara menambah
suasana sakral, menciptakan pengalaman spiritual yang mendidik sekaligus
menggetarkan batin para peserta dan pengunjung.
Upacara
ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pelestarian ritual kuno, tetapi juga
sebagai pendidikan moral hidup bagi generasi muda. Melalui praktik
langsung, nilai-nilai Khonghucu seperti penghormatan kepada guru, bakti kepada
leluhur, kecintaan pada ilmu pengetahuan, dan pembinaan karakter ditanamkan
secara nyata.
Nabi Kongzi dipandang sebagai bijak teladan yang mempelopori pendidikan bagi semua lapisan
masyarakat serta menekankan pentingnya ritual dan musik dalam pembentukan
kepribadian. Selama berabad-abad, pemujaan terhadap Konfusius telah menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan dan budaya Vietnam.
Kuil
Sastra – Universitas Nasional, yang dibangun pada tahun 1070 pada masa Dinasti
Lý, hingga kini tetap menjadi simbol tertinggi penghormatan terhadap ilmu
pengetahuan dan para cendekiawan berbudi luhur. Ritual di tempat ini, yang
lebih khidmat dan terstruktur dibandingkan daerah lain, mencerminkan kedalaman
penghayatan masyarakat Vietnam terhadap warisan Khonghucu.
Melalui
ritual-ritual tersebut, Khonghucu tidak hanya dikenang sebagai ajaran masa
lalu, tetapi terus dihidupkan sebagai nilai yang membentuk karakter bangsa dan
menghubungkan generasi masa kini dengan kebijaksanaan para bijak terdahulu.
Simbolisme Khonghucu dan Feng Shui dalam Maskot Imlek Kontemporer
Selain
ritual keagamaan dan pendidikan klasik, pengaruh Khonghucu di Vietnam juga
tampak jelas dalam seni simbolik dan praktik feng shui yang mengiringi
perayaan Tahun Baru Imlek (Tết) di ruang publik modern.
Menjelang
Tahun Baru Imlek 2026, komune Lao Bao, Provinsi Quang Tri,
menampilkan karya seni maskot berupa delapan patung kuda yang disusun
menyerupai lukisan feng shui terkenal Ma Dao Cheng Gong (马到成功),
yang bermakna “kesuksesan datang secepat kuda berlari.” Karya ini
diciptakan oleh seniman lokal Đinh Văn Tâm setelah melalui proses
perencanaan dan pengerjaan selama lima bulan.
Delapan
kuda tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai dekorasi, tetapi sebagai simbol
kolektif harapan masyarakat akan kesuksesan, kemakmuran, ketekunan, dan
kemajuan di tahun baru. Dalam tradisi Khonghucu dan budaya
Tionghoa-Vietnam, kuda melambangkan semangat kerja, loyalitas, kecepatan
bertindak, serta keberhasilan yang diperoleh melalui usaha dan kebajikan, bukan
keberuntungan semata.
Pemilihan
angka delapan, yang dalam kosmologi Tionghoa melambangkan keberuntungan
dan keseimbangan, semakin memperkuat makna filosofis karya ini. Dengan
demikian, maskot kuda di Lao Bao mencerminkan perpaduan antara nilai moral
Khonghucu, simbolisme feng shui, dan identitas budaya lokal Vietnam.
Tradisi
penciptaan maskot tahunan ini telah berlangsung selama tiga tahun
berturut-turut di Lao Bao. Sebelumnya, maskot naga melambangkan kemakmuran,
sementara sepasang ular melambangkan persahabatan Vietnam–Laos. Keberlanjutan
tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya klasik terus diadaptasi
secara kreatif untuk menjawab kebutuhan sosial, pariwisata, dan pendidikan
budaya masyarakat modern.
Kehadiran
karya seni “Kuda-Kuda Berlari Menuju Kesuksesan” di ruang publik
menegaskan bahwa perayaan Imlek di Vietnam tidak hanya berpusat pada altar dan
ritual rumah tangga, tetapi juga hidup dalam ekspresi seni, ruang kota, dan
imajinasi kolektif masyarakat, selaras dengan semangat Khonghucu tentang
harmoni antara manusia, alam, dan tatanan sosial.
Penutup
Sejarah
agama Khonghucu di Vietnam memperlihatkan perpaduan harmonis antara ajaran
klasik Konfusius dengan realitas sosial dan budaya lokal. Melalui institusi
pendidikan seperti Quốc Tử Giám, tradisi Tết Nguyên Đán, desa-desa kerajinan,
hingga figur teladan seperti Chu Văn An, Khonghucu menjelma sebagai kekuatan
pembentuk peradaban Dai Viet.
Nilai
bakti keluarga, keberanian moral, pendidikan, dan tanggung jawab sosial yang
diwariskan Khonghucu tetap hidup dalam masyarakat Vietnam modern. Dari altar
leluhur di rumah tangga hingga festival budaya kontemporer, ajaran ini terus
menjadi sumber inspirasi dalam menjaga harmoni antara manusia, bumi, dan langit.
Shanzai.
| Pelanggan memilih untuk membeli Lumpia Lai Vung difasilitas produksi Ut Thang (Komune Hoa Long, Provinsi Dong Thap) |
| Suoi
Tien menarik banyak wisatawan setiap liburan Tet (Foto: Suoi Tien). |
| Setelah maskot naga dan sepasang ular, delapan kuda diharapkan terus menarik pengunjung ke komune perbatasan Lao Bao selama Tahun Baru Imlek (Foto Ba Cuong) |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TERIMA KASIH