Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi E-Book

Sejarah Agama Khonghucu & Tradisi Tahun Baru Imlek (Tết) Vietnam

Penulis Tan Sudemi

Pendahuluan

Vietnam merupakan salah satu wilayah Asia Tenggara yang sangat kuat dipengaruhi oleh peradaban Tiongkok. Di antara pengaruh terpenting tersebut adalah ajaran Khonghucu (Konfusianisme), yang dalam bahasa Vietnam dikenal sebagai Nho giáo. Selama lebih dari seribu tahun, Khonghucu tidak hanya membentuk sistem pemerintahan dan pendidikan Vietnam, tetapi juga menjiwai etika keluarga, tatanan sosial, serta berbagai tradisi budaya, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek yang di Vietnam disebut Tết Nguyên Đán.

Artikel ini mengulas sejarah masuk dan perkembangan agama Khonghucu di Vietnam, serta kaitannya dengan tradisi Tết sebagai perayaan tahun baru yang sarat nilai moral, kosmologis, dan kekeluargaan.

Latar Sejarah Awal Penaklukan Dinasti Han atas Nanyue

Sejak tahun 214 SM, Qin Shi Huang Ti , pemersatu negeri Tiongkok, telah menaklukkan bagian utara Tonkin yang sekarang untuk membentuk tiga buah wilayah militer di situ, yang betul-betul merupakan daerah perbatasan kemaharajaan.

Fondasi awal masuknya pengaruh Tiongkok dan Khonghucu ke wilayah Vietnam tidak dapat dilepaskan dari peristiwa penaklukan Kerajaan Nanyue oleh Dinasti Han yang pimpin oleh Jenderal Lu Bo De dan Jenderal Yang Pu pada tahun 111 SM. Nanyue merupakan kerajaan lintas wilayah yang mencakup Guangdong, Guangxi, serta Vietnam Utara modern. Kerajaan ini didirikan oleh Zhao Tuo, seorang bekas perwira Dinasti Qin, yang pada awalnya diakui secara diplomatik oleh Kekaisaran Han sebagai penguasa lokal.

Hubungan Han–Nanyue berlangsung dinamis, berganti antara diplomasi, ketegangan politik, dan konflik kepentingan. Ketika integrasi politik melalui jalur damai mengalami penolakan dari elite Nanyue, terutama setelah krisis internal istana pada abad ke-2 SM, Dinasti Han di bawah Kaisar Wu melancarkan ekspedisi militer besar-besaran. Penaklukan Nanyue pada tahun 111 SM menandai dimulainya pemerintahan langsung Han di wilayah Vietnam Utara melalui pembentukan sejumlah komando administratif dan berlangsung hingga tahun 938 M (Dinasti Tang).

Peristiwa ini memiliki arti historis yang sangat penting karena membuka jalan bagi masuknya sistem birokrasi Han, aksara Tionghoa, hukum kekaisaran, serta ajaran etika Khonghucu ke wilayah Vietnam. Sejak saat itu, proses sinifikasi dan interaksi budaya berlangsung secara bertahap, membentuk fondasi awal bagi perkembangan Nho giáo (Khonghucu Vietnam) pada masa-masa selanjutnya.

Masuk dan Berkembangnya Agama Khonghucu

Agama Khonghucu mulai dikenal di wilayah Vietnam sejak abad ke-1 sebelum Masehi, ketika Dinasti Han dari Tiongkok memperluas pengaruh politiknya ke wilayah Vietnam Utara. Bersamaan dengan administrasi kolonial, diperkenalkan pula aksara Tionghoa atau (Chữ Nôm aksara ini digunakan sekitar tahun 1200 hingga tahun 1949 setelah seorang misionaris Yesuit Portugis menciptakan alfabet Vietnam yang menggantikan chữ Nôm dengan aksara latin), sistem birokrasi, dan ajaran etika Khonghucu. Pada tahap awal, pengaruh ini masih terbatas dan lebih bersifat administratif.

Setelah Vietnam meraih kemerdekaan pada abad ke-10, terutama sejak Dinasti Lý (abad ke-11), Agama Khonghucu mulai mendapat tempat penting dalam pembangunan negara. Pendirian Kuil Sastra (Văn Miếu) pada tahun 1070 dan pembukaan sistem ujian kenegaraan pada tahun 1075 menandai lahirnya tradisi pendidikan Khonghucu di Vietnam. Sejak saat itu, Khonghucu berkembang sebagai landasan moral negara, alat seleksi pejabat, serta pedoman etika sosial.

Pada masa Dinasti Trần, Lê, hingga Nguyễn, Khonghucu mencapai puncak pengaruhnya. Sistem ujian kenegaraan (khoa cử) berlangsung selama lebih dari 800 tahun dan membentuk kelas cendekiawan (sĩ phu) yang sangat dihormati. Nilai-nilai seperti bakti kepada orang tua (hiếu), kesetiaan (trung), kebenaran (nghĩa), kesopanan (lễ), dan kebijaksanaan (trí) meresap dalam kehidupan masyarakat Vietnam.

Agama Khonghucu, Kehidupan Keluarga dan Tradisi Leluhur

Salah satu ciri utama Khonghucu di Vietnam adalah penekanannya pada keluarga dan pemujaan leluhur. Keluarga dipandang sebagai dasar negara, sementara penghormatan kepada leluhur dianggap sebagai kewajiban moral tertinggi. Pandangan ini sangat berpengaruh dalam pembentukan tradisi Vietnam, terutama dalam ritual-ritual tahunan.

Dalam konteks inilah perayaan Tahun Baru Imlek (Tết) memperoleh makna yang sangat mendalam. Tết bukan sekadar pergantian tahun secara kalender lunar, melainkan momen sakral untuk memperbarui hubungan manusia dengan Langit (Thiên), Bumi (Địa), leluhur, dan sesama.

Tết Nguyên Đán: Tahun Baru Imlek dalam Tradisi Vietnam

Tết Nguyên Đán adalah perayaan terpenting dalam kalender Vietnam. Meskipun berakar dari tradisi Imlek Tiongkok, Tết berkembang dengan ciri khas lokal Vietnam yang kuat, dipengaruhi oleh Khonghucu dan kepercayaan rakyat.

Dalam perspektif tradisi Khonghucu, Tết mencerminkan harmoni kosmis dan moral:

  • Harmoni Langit dan Manusia
Tahun baru dipandang sebagai awal siklus kosmis yang baru. Manusia diharapkan memperbaiki perilaku moralnya agar selaras dengan kehendak Langit.
  • Penghormatan kepada Leluhur
Sebelum dan selama Tết, keluarga membersihkan altar leluhur, mempersembahkan makanan, dan memanjatkan doa. Hal ini sejalan dengan ajaran Khonghucu tentang bakti anak kepada orang tua dan leluhur.
  • Pemurnian Diri dan Etika Sosial
Menyambut Tết berarti meninggalkan pertikaian lama, saling memaafkan, berkata baik, dan berbuat kebajikan. Ini mencerminkan etika Khonghucu tentang keharmonisan sosial.

Unsur Tradisi Khonghucu dalam Ritual dan Tradisi Tết

Perayaan Tết di Vietnam tidak hanya berlangsung di ruang keluarga, tetapi juga hidup di desa-desa kerajinan, pusat kebudayaan, dan ruang publik modern. Di sinilah nilai-nilai Khonghucu menjelma menjadi praktik sosial yang nyata.

Beberapa tradisi Tết yang mencerminkan nilai Khonghucu antara lain:

  • Pemberian amplop merah (Lì xì) sebagai simbol doa restu, keberkahan, dan kesinambungan kebajikan antargenerasi.
  • Kaligrafi Tahun Baru, di mana para sarjana menuliskan aksara bermakna kebajikan seperti kebahagiaan, panjang umur, keselarasan, dan kebajikan. Tradisi ini mencerminkan penghormatan tinggi terhadap kaum terpelajar (), nilai inti dalam Khonghucu.
  • Mâm Ngũ Quả (lima macam buah) di altar leluhur, melambangkan rasa syukur kepada Langit dan Bumi serta harapan akan kemakmuran dan keseimbangan hidup.
  • Upacara mendirikan pohon Neu, sebagai simbol perlindungan spiritual, keteraturan kosmis, dan penanda batas sakral selama masa Tết.

Di samping ritual-ritual tersebut, aktivitas ekonomi dan budaya masyarakat menjelang Tết juga mencerminkan etos Khonghucu tentang kerja, ketekunan, dan tanggung jawab sosial.

Desa Kerajinan Tradisional dan Etos Khonghucu Menjelang Tết

Menjelang Tết, desa-desa kerajinan tradisional di Vietnam memasuki masa paling sibuk dalam setahun. Dari pembuatan makanan khas hingga alat musik ritual, denyut kehidupan desa-desa ini menunjukkan bagaimana nilai Khonghucu hidup dalam kerja kolektif dan pewarisan keterampilan.

Di Provinsi Dong Thap, kerajinan pembuatan nem Lai Vung (sosis babi fermentasi) telah berkembang selama lebih dari enam dekade. Selama musim Tết, produksi meningkat dua hingga tiga kali lipat untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjamu tamu dan melakukan ritual kebersamaan. Kerajinan ini tidak hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga mencerminkan nilai Khonghucu tentang kerja keras, keharmonisan keluarga, dan tanggung jawab antargenerasi.

Sementara itu, di Desa Doi Tam (Ninh Binh), kerajinan pembuatan gendang yang telah berusia lebih dari seribu tahun tetap lestari. Gendang tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi juga sebagai sarana ritual di kuil, festival, dan upacara tradisional. Proses pembuatannya yang teliti dan penuh dedikasi mencerminkan etika Khonghucu tentang kesungguhan (cheng) dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Dewa Dapur, Kepercayaan Rakyat, dan Harmoni Keluarga

Salah satu ritual penting menjelang Tết di Vietnam adalah upacara penghormatan kepada Tiga Dewa Dapur (Táo Quân), yang dipercaya mengawasi kehidupan rumah tangga dan melaporkan perilaku keluarga kepada Langit setiap akhir tahun lunar. Pada tanggal 23 bulan ke-12 kalender lunar, keluarga-keluarga Vietnam melakukan upacara perpisahan Dewa Dapur, mengganti patung-patung lama dengan yang baru, serta memanjatkan doa bagi tahun yang damai dan sejahtera.

Di kawasan Dia Linh, Hue, kerajinan pembuatan patung Dewa Dapur dari tanah liat telah diwariskan selama beberapa generasi sejak masa Dinasti Nguyen. Setiap patung dibuat dengan ketelitian tinggi, melalui proses pemilihan tanah liat, pencetakan, pengeringan, pembakaran, hingga pewarnaan. Patung-patung ini bukan sekadar benda ritual, melainkan simbol kepercayaan rakyat yang sejalan dengan ajaran Khonghucu tentang keteraturan rumah tangga, keselarasan moral, dan bakti keluarga.

Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan menurunnya minat generasi muda, para pengrajin tetap bertahan karena memandang pekerjaan ini sebagai amanah leluhur. Upaya pelestarian melalui pariwisata budaya dan edukasi publik menjadi harapan agar nilai-nilai tradisional ini tetap hidup.

Tết di Ruang Modern: Festival Musim Semi Suoi Tien

Di era kontemporer, nilai-nilai Khonghucu dan tradisi Tết juga dihadirkan dalam ruang-ruang modern. Festival Musim Semi Suoi Tien di Kota Ho Chi Minh, misalnya, mengemas Tết sebagai pengalaman budaya yang menggabungkan hiburan modern dengan narasi sejarah dan nilai tradisional.

Melalui tema seperti Tet Akar Leluhur, Tet Masa Perang, hingga Tet Generasi Muda, festival ini memperlihatkan kesinambungan nilai bakti, ingatan sejarah, dan identitas budaya dalam masyarakat Vietnam modern. Meskipun dikemas secara visual dan atraktif, esensi Tết sebagai momen refleksi moral dan kebersamaan keluarga tetap dipertahankan.

Perubahan Zaman dan Warisan Tradisi Khonghucu

Sejak runtuhnya monarki Vietnam pada tahun 1945, Agama Khonghucu tidak lagi menjadi pondasi resmi negara. Namun, nilai-nilainya tetap hidup dalam budaya, pendidikan, dan tradisi masyarakat. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi, Tết tetap bertahan sebagai simbol identitas budaya Vietnam, sekaligus ruang aktualisasi nilai-nilai Khonghucu seperti bakti keluarga, harmoni sosial, dan penghormatan terhadap tradisi.

Saat ini, upaya pelestarian budaya tradisional Vietnam sering kali kembali menegaskan peran tradisi Khonghucu sebagai fondasi etika dan kebudayaan nasional.

Chu Văn An dan Fondasi Khonghucu Vietnam

Dalam sejarah Vietnam, figur Guru Chu Văn An (1292–1370) menempati posisi yang sangat istimewa sebagai teladan moral dan Bapak pendiri tradisi cendekiawan Khonghucu Vietnam. Ia tidak hanya dikenal sebagai pendidik agung, tetapi juga sebagai simbol integritas, keberanian moral, dan kesetiaan pada prinsip-prinsip Khonghucu.

Chu Văn An, nama asli Chu An, berasal dari distrik Thanh Đàm (kini wilayah Thanh Trì, Hanoi). Sejak muda ia dikenal sebagai cendekiawan luar biasa yang menguasai Empat Kitab dan Lima Klasik, sejarah, kaligrafi, serta ilmu feng shui. Berbeda dari banyak sarjana sezamannya, ia tidak mengejar ketenaran melalui jalur ujian dan jabatan, melainkan memilih jalan pendidikan dan pembinaan moral.

Ia mendirikan Sekolah Huynh Cung di tepi Sungai Tô Lịch, yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan terbesar pada masanya. Ribuan murid dididik di sana, banyak di antaranya kelak menjadi pejabat tinggi Dinasti Trần. Etika guru–murid yang kuat dalam tradisi Khonghucu Vietnam tercermin dari sikap hormat para murid terhadap gurunya bahkan setelah mereka mencapai jabatan tertinggi.

Pada masa pemerintahan Raja Trần Minh Tông, Chu Văn An diundang untuk menjabat sebagai Tư Nghiệp Quốc Tử Giám, setara dengan Rektor Universitas Nasional (Kuil Sastra – Quốc Tử Giám). Ia menjadi tutor resmi pertama Putra Mahkota yang tercatat dalam Đại Việt Sử Ký Toàn Thư.

Keagungan karakter Chu Văn An tampak jelas dalam peristiwa terkenal “Petisi Tujuh Eksekusi”, ketika ia dengan tegas meminta raja menghukum tujuh pejabat korup. Ketika nasihat tersebut diabaikan, ia memilih mengundurkan diri dan kembali mengajar, menjadikannya lambang cendekiawan Khonghucu sejati yang setia pada kebenaran, bukan pada kekuasaan.

Ia wafat pada tahun 1370 dan kemudian dianugerahi gelar kehormatan anumerta Văn Trinh Công. Hingga kini, ia dipuja di Kuil Sastra – Universitas Nasional Hanoi sebagai bapak pendiri cendekiawan Agama Khonghucu Vietnam.

Ritual Pemujaan Konfusius di Kuil Sastra – Universitas Nasional

Selain penghormatan kepada para cendekiawan lokal seperti Chu Văn An, tradisi Khonghucu di Vietnam juga diwujudkan melalui ritual pemujaan Kong zi,  di Vietnam nama Kong zi dikenal dengan nama khổng tử, yang hingga kini masih dilaksanakan secara khidmat di Kuil Sastra – Universitas Nasional (Văn Miếu – Quốc Tử Giám), Hanoi. di Vietnam, Văn Miếu sama halnya dengan nama Boen Bio atau Kelenteng Kesusastraan sebagai tempat penghormatan terhadap Nabi Kongzi dan tokoh-tokoh cendekiawan baik murid Nabi Kongzi maupun cendekiawan Khonghucu dari Vietnam.

Pada pagi hari 15 November, di ruang sakral Kuil Sastra, diselenggarakan prosesi pembacaan teks-teks klasik dan ritual persembahan kepada Konfusius serta para bijak Konfusianisme. Upacara ini bertepatan dengan peringatan Hari Guru Vietnam (20 November) dan Hari Warisan Budaya Vietnam (23 November), menegaskan hubungan erat antara pendidikan, moralitas, dan warisan budaya.

Prosesi dimulai sekitar pukul 08.00 pagi dengan arak-arakan kitab suci dari area Danau Văn menuju halaman dalam Kuil Đại Thành. Pemilihan Văn Miếu – Quốc Tử Giám sebagai lokasi utama memiliki makna simbolis yang mendalam: tempat ini dipandang sebagai “kuil suci pembelajaran”, pusat pertemuan antara ritual, musik, pakaian adat, dan nilai-nilai kebudayaan klasik.

Setelah prosesi teks, ritual persembahan dupa, bunga, dan buah-buahan dilakukan dengan penuh ketertiban dan kesungguhan. Iringan genderang dan musik upacara menambah suasana sakral, menciptakan pengalaman spiritual yang mendidik sekaligus menggetarkan batin para peserta dan pengunjung.

Upacara ini tidak hanya dimaksudkan sebagai pelestarian ritual kuno, tetapi juga sebagai pendidikan moral hidup bagi generasi muda. Melalui praktik langsung, nilai-nilai Khonghucu seperti penghormatan kepada guru, bakti kepada leluhur, kecintaan pada ilmu pengetahuan, dan pembinaan karakter ditanamkan secara nyata.

Nabi Kongzi dipandang sebagai bijak teladan yang mempelopori pendidikan bagi semua lapisan masyarakat serta menekankan pentingnya ritual dan musik dalam pembentukan kepribadian. Selama berabad-abad, pemujaan terhadap Konfusius telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan dan budaya Vietnam.

Kuil Sastra – Universitas Nasional, yang dibangun pada tahun 1070 pada masa Dinasti Lý, hingga kini tetap menjadi simbol tertinggi penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan para cendekiawan berbudi luhur. Ritual di tempat ini, yang lebih khidmat dan terstruktur dibandingkan daerah lain, mencerminkan kedalaman penghayatan masyarakat Vietnam terhadap warisan Khonghucu.

Melalui ritual-ritual tersebut, Khonghucu tidak hanya dikenang sebagai ajaran masa lalu, tetapi terus dihidupkan sebagai nilai yang membentuk karakter bangsa dan menghubungkan generasi masa kini dengan kebijaksanaan para bijak terdahulu.

Simbolisme Khonghucu dan Feng Shui dalam Maskot Imlek Kontemporer

Selain ritual keagamaan dan pendidikan klasik, pengaruh Khonghucu di Vietnam juga tampak jelas dalam seni simbolik dan praktik feng shui yang mengiringi perayaan Tahun Baru Imlek (Tết) di ruang publik modern.

Menjelang Tahun Baru Imlek 2026, komune Lao Bao, Provinsi Quang Tri, menampilkan karya seni maskot berupa delapan patung kuda yang disusun menyerupai lukisan feng shui terkenal Ma Dao Cheng Gong (马到成功), yang bermakna “kesuksesan datang secepat kuda berlari.” Karya ini diciptakan oleh seniman lokal Đinh Văn Tâm setelah melalui proses perencanaan dan pengerjaan selama lima bulan.

Delapan kuda tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai dekorasi, tetapi sebagai simbol kolektif harapan masyarakat akan kesuksesan, kemakmuran, ketekunan, dan kemajuan di tahun baru. Dalam tradisi Khonghucu dan budaya Tionghoa-Vietnam, kuda melambangkan semangat kerja, loyalitas, kecepatan bertindak, serta keberhasilan yang diperoleh melalui usaha dan kebajikan, bukan keberuntungan semata.

Pemilihan angka delapan, yang dalam kosmologi Tionghoa melambangkan keberuntungan dan keseimbangan, semakin memperkuat makna filosofis karya ini. Dengan demikian, maskot kuda di Lao Bao mencerminkan perpaduan antara nilai moral Khonghucu, simbolisme feng shui, dan identitas budaya lokal Vietnam.

Tradisi penciptaan maskot tahunan ini telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut di Lao Bao. Sebelumnya, maskot naga melambangkan kemakmuran, sementara sepasang ular melambangkan persahabatan Vietnam–Laos. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya klasik terus diadaptasi secara kreatif untuk menjawab kebutuhan sosial, pariwisata, dan pendidikan budaya masyarakat modern.

Kehadiran karya seni “Kuda-Kuda Berlari Menuju Kesuksesan” di ruang publik menegaskan bahwa perayaan Imlek di Vietnam tidak hanya berpusat pada altar dan ritual rumah tangga, tetapi juga hidup dalam ekspresi seni, ruang kota, dan imajinasi kolektif masyarakat, selaras dengan semangat Khonghucu tentang harmoni antara manusia, alam, dan tatanan sosial.

Penutup

Sejarah agama Khonghucu di Vietnam memperlihatkan perpaduan harmonis antara ajaran klasik Konfusius dengan realitas sosial dan budaya lokal. Melalui institusi pendidikan seperti Quốc Tử Giám, tradisi Tết Nguyên Đán, desa-desa kerajinan, hingga figur teladan seperti Chu Văn An, Khonghucu menjelma sebagai kekuatan pembentuk peradaban Dai Viet.

Nilai bakti keluarga, keberanian moral, pendidikan, dan tanggung jawab sosial yang diwariskan Khonghucu tetap hidup dalam masyarakat Vietnam modern. Dari altar leluhur di rumah tangga hingga festival budaya kontemporer, ajaran ini terus menjadi sumber inspirasi dalam menjaga harmoni antara manusia, bumi, dan langit.

Shanzai.

Pelanggan memilih untuk membeli Lumpia Lai Vung
difasilitas produksi Ut Thang 
(Komune Hoa Long, Provinsi Dong Thap)

Suoi Tien menarik banyak wisatawan setiap liburan Tet
(Foto: Suoi Tien).


Setelah maskot naga dan sepasang ular, delapan kuda diharapkan terus menarik
pengunjung ke komune perbatasan Lao Bao selama Tahun Baru Imlek
(Foto Ba Cuong)


Upacara Suci untuk Menghormati Nabi Kongzi di Van Mieu 



Pada pagi hari tanggal 15 November, di dalam kompleks Kuil Sastra - Universitas Nasional, 
diadakan prosesi khidmat karya sastra dan ritual persembahan kepada para bijak Konfusiani. 
Acara ini merayakan Hari Guru Vietnam pada tanggal 20 November dan 
Hari Warisan Budaya Vietnam pada tanggal 23 November.

Upacara tersebut bukan hanya kesempatan untuk mempraktikkan ritual tradisional, 
tetapi juga memberikan pelajaran praktis tentang nilai-nilai budaya, 
pendidikan, dan spiritual dari warisan Han Nom.

Sekitar pukul 10:30 pagi, ritual persembahan dupa kepada para bijak Konfusiani 
selesai dilaksanakan, mengakhiri upacara khidmat di ruang yang 
sarat dengan tradisi belajar di Kuil Sastra - Universitas Nasional

Segera setelah prosesi teks-teks upacara, ritual persembahan dupa 
kepada para bijak Konfusianisme dilakukan dengan khidmat, mengikuti tradisi kuno, 
sebagai ungkapan rasa terima kasih yang tulus kepada para bijak yang
 telah mendirikan ilmu pengetahuan bangsa


Ruang sakral Kuil Sastra - Universitas Nasional telah lama menjadi simbol tradisi 
bangsa dalam menghargai pendidikan dan menghormati guru.

Pada pukul 8:00 pagi, prosesi kitab suci secara resmi dimulai, 
dengan prosesi bergerak khidmat dari area Danau Van 
menuju halaman dalam Kuil Dai Thanh.


Sumber Pustaka
Indocina Persilangan Kebudayaan, Bernard Philippe Groslier, KPG-Jakarta-2002


https://id.wikipedia.org/wiki/Ch%E1%BB%AF_N%C3%B4m

https://en.wikipedia.org/wiki/Han_conquest_of_Nanyue

Trang trọng Lễ tế Khổng Tử tại Văn Miếu - Quốc Tử Giám | Báo Dân trí ……. Sebuah upacara khidmat untuk menghormati Konfusius di Kuil Sastra Universitas Nasional.

https://dantri.com.vn/thoi-su/van-mieu-quoc-tu-giam-ruc-sang-dao-hoc-ky-niem-950-nam-thanh-lap-20260109225025020.htm ..... Kuil Sastra - Universitas Nasional bersinar terang dengan semangat "Pembelajaran" saat merayakan hari jadinya yang ke-950.

https://baotintuc.vn/kinh-te/giu-lua-lang-nghe-lam-tuong-tao-quan-o-xu-hue-20260130081041499.htm
......Melestarikan kerajinan tradisional pembuatan patung Dewa Dapur di Hue

https://baotintuc.vn/kinh-te/lang-nghe-truyen-thong-soi-dong-vao-mua-cao-diem-20260129082001754.htm ..... Desa-desa kerajinan tradisional ramai dikunjungi selama musim puncak.

https://dantri.com.vn/du-lich/le-hoi-mua-xuan-suoi-tien-2026-song-tron-tet-viet-giua-trai-nghiem-hien-dai-20260126231507319.htm ......Festival Musim Semi Suoi Tien 2026: Rasakan liburan Tet Vietnam dalam suasana modern.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH