Home Tentang Kami Kontak Kami Donasi E-Book

Putusan Hakim Yang Bijak

Seorang  pria bernama Jin Xiao (anak emas), yang masih bujangan tinggal sendirian bersama ibunya dan hidup dari menjajakan minyak. Suatu hari saat sedang memikul minyak di bahunya dan menysuri jalan, mendadak ia merasa ingin buang air dan pergi ke jamban. Di sana ia menemukan sebuah sabuk kain berisi bungkusan uang perak senilai hampir tiga puluh tail. Dengan gembira ia pulang ke rumah dan berkata kepada ibunya, “Hari ini adalah hari keberuntungan! Saya menemukan banyak perak!”

Sang perempuan tua terkejut melihat perak itu, “Kau tidak mencurinya kan?” selidiknya. Jin Xiao berkata, “Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu! Kapan saya pernah mencuri? Untung para tetangga tidak mendengarmu. Seseorang menjatuhkannya di ujung lubang jamban. Saya bernasib baik menemukan dan mengambilnya lebih dulu. Jarang ada hoki (rejeki) yang jatuh pada pedagang tak berarti seperti saya ini. Perak-perak ini bisa kugunakan sebagai modal untuk memulai usaha minyak saya sendiri. Bukankah itu lebih baik daripada berjualan keliling?”

“Anakku,” tegur ibunya, “ingatlah kata pepatah, “Kekakyaan dan kemiskinan hanyalah soal nasib”. Jika kau ditakdirkan hidup berkecupan, kau takkan lahir dalam keluarga pengecer minyak. Menurut ibu, meskipun kau tidak mendapatkan perak-perak itu dengan cara menipu, kau juga tidak mendapatkannya dengan keringatmu sendiri. Apa yang saya khawatirkan adalah keuntungan yang tidak patut akan membawa duka. Siapa yang tahu perak itu milik penduduk sini atau milik pengembara? Kita juga tak tahu apakah uang ini miliknya atau pinjaman. Kehilangan perak ini pasti membuatnya sedih. Saya pernah mendengar kisah tentang seorang lelaki bernama Pei Du pada zaman dahulu kala yang mendapat pahala di akhirat karena mengembalikan beberapa sabuk kumala kepada pemiliknya. Kau harus kembali ke tempat di mana kau menemukan perak ini. Jika ada seseorang yang datang ke sana mencarinya, ajak ia ke sini untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya. Dengan cara itu kau akan mendapat pahala di akhirat. Shang Di, Tuhan Yang Maha Agung takkan mengecewakanmu.”

Merasa tersentuh oleh nasihat ibunya, dan karena Jin Xiao juga penurut, ia lalu berkata, “Benar! Kata-kata ibu sungguh benar!”  Ia mengambil sabuk berisi perak itu dan berlari kembali ke jamban. Di sana, ramai orang berkumpul mengerumuni seorang lelaki yang tengah menangis sambil meratap. Jin Xiao bertanya ada apa gerangan. Ternyata  pria itu, pengembara dari kota lain, kehilangan peraknya saat ia melonggarkan sabuk untuk buang air. Karena berpikir perak itu pastilah terjatuh dalam lubang jamban, ia menyuruh beberapa preman untuk turun mengambilnya dengan ditonton orang-orang.

“Berapa banyak perak yang kau miliki?” tanya Jin Xiao pada sang pengelana, yang menjawab singkat, “Kira-kira empat atau limat puluh tail.” Sebagai orang yang jujur, Jin Xiao bertanya, “Apakah diletakkan dalam sabuk putuh?”
“Betul !” Pria itu menarik Jin Xiao. “Kembalikan pada saya jika kau menemukannya. Dengan senang hati saya akan memberikan imbalan.” Terdengar komentar dari dalam kerumunan, “Dihitung secara adil, dibagi dua pun masih masuk akal.”
Jin Xiao berkata, “Saya memang menemukannya. Perak itu ada di rumah saya. Mari ikut saya mengambilnya.” Para penonton terheran-heran karena si penemu perak tersebut malah mencari sang pemilik, dan bukan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Mereka lalu mengikuti Jin Xiao ke rumahnya.

Setelah sampai, Jin Xiao menyerahkan sabuk tersebut pada pria tersebut, setelah memeriksa, mendapati bahwa jumlahnya masih utuh. Namun karena  takut Jin Xiao meminta imbalan dan karena para penonton menyarankan pembagian setengah dari jumlah perak, ia menemukan sebuah pikiran keji dan malah menuduh Jin Xiao. “Seharusnya ada empat puluh sampai lima puluh tail perak disni,” ia menggertak. ‘Kenapa hanya ini yang ada? Cepat kembalikan sisanya!”

“Begitu masuk ke rumah dengan membawa perak itu, ibu menyuruh saya kembali mencari pemiliknya dan mengembalikan perak ini. Bagaimana sempat saya mengambil bahkan sesen pun?”
Karena si pengembara bersikeras ada sejumlah perak yang hilang, Jin Xiao merasa terluka, dan dengan amat menyerang pria itu membabi buta. Si pengembara yang jauh lebih kuat menjambak rambut Jin Xiao, mengangkatnya dan membantingnya ke tanah seperti membanting seekor ayam. Tinjunya hampir saja mengayun ke arah Jin Xiao ketika ibunya yang berusia tujuh puluh tahun berlari ke luar dan meneriakkan kejujuran Jin Xiao. Para penonton yang marah melihat ketidakadilan yang menimpa Jin Xiao, mulai berteriak-teriak seolah ikut berkelahi.

Kebetulan hakim kabupaten sedang lewat dan mendengar keramaian itu. Ia menyuruh kusirnya menghentikan tandu dan mengirim beberapa petugas untuk membawa orang-orang itu guna ditanyai. Karena takut dilibatkan, sebagian besar orang berlarian ke segala penjuru. Beberapa orang berani tetap tinggal untuk melihat cara hakim menangani masalah itu.

Sekarang, setelah dipertemukan dengan hakim kabupaten, si pengembara, Jin Xiao dan ibunya berlutut di jalanan, memohon keadilan untuk kasus mereka. Si pengembara berkata, “Ia menemukan perak saya dan mengambil setengahnya.”
Jin Xiao, membalas, “Saya mengikuti nasihat ibu dan mengembalikan perak itu dengan niat baik, tapi ia mencoba menjebak saya.”
Hakim berpaling kepada para penonton: “Apakah ada saksi” Semuanya maju dan berkata, “Si pengembala sedang mencari peraknya yang hilang di jamban saat Jin Xiao dengan sukarela berkata bahawa ia menemukan perak tersebut, dan mengajak orang ini ke rumah untuk mengambil peraknya. Kami menyaksikan semuanya dengan mata kepala kami, hanya saja kami tak tahu jumlah perak tersebut.”

“Kalian tak perlu bertengkar lagi,” ucap sang hakim, “Saya telah menemukan jalan keluar.” Ia lalu menyuruh petugas membawa kerumunan orang tersebut ke pengadilan. Hakim lalu duduk dan semua orang berlutut. Ia lalu memerintahkan agar sabuk dan perak tersebut dibawa kehadapannya. Lalu ia menyuruh bendahara pengadilan untuk menimbang perak dan melapor padanya.
“Tiga puluh tail,” lapor mereka.
Hakim bertanya kepada si pengembara, “Berapa jumlah perak milikmu?”
“Lima puluh tail.”
“Apakah kau melihatnya mengambil perak itu, atau apakah ia mengatakan telah mengambilnya?”
“Ia sendiri yang bilang.”
“Jika ingin mengambil perakmu, tentu ia bias mengambil semuanya,” kata hakim. “Mengapa ia menyembunyikan setengahnya, lalu dengan sukarela memberitahumu tentang sisanya? Bagaimana kau bias tahu jika ia tidak mengatakannya? Ini adalah bukti bahwa ia tak bermaksud mengambil perakmu. Perakmu yang yang hilang berjumlah lima puluh tail, tapi ia temukan adalah tiga puluh tail. Perak ini bukan milikmu, melainkan milik orang lain.”
“Perak itu benar milik saya. Saya akan puas sekali pun dengan jumlah tak lebih dari tiga puluh tail.”
“Jumlahnya tak sesuai. Bagaimana bisa kau mengakui sesuatu yang bukan milikmu? Keputusan saya adalah membiarkan Jin Xiao memiliki seluruh perak itu untuk menghidupi ibunya. Mengenai lima puluh tail perak yang hilang itu, pergilah kau mencarinya sendiri.”

Dengan perak yang telah menjadi miliknya itu, Jin Xiao mengucapkan terima kasih kepada hakim sebelum meninggalkan pengadilan sambil menuntun ibunya yang tua. Mana mungkin pengembara itu berani melawan keputusan hakim? Sambil menangis, ia pergi dengan menelan rasa malu, disaksikan khalayak yang senang dan puas. Sesungguhnya,
Ia yang memangsa sesame
Berakhir sebagai korban rencananya sendiri.
Ia membawa kenistaan bagi dirinya sendiri,
Dan memberi orang lain kesenangan.

Sumber : Kumpulan Kisah Klasik Dinasti Ming, Penerbit : Gramedia Pustaka Utama-Jakarta
print this page Print this page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH